Ramadan

Buka Puasa Bersama di Masjid Al-Mukminun, Desa Karang Sasak, Karangasem

Assalamu’alaikum

Alhamdulillah, Buka Puasa hingga pelosok Bali telah dilaksanakan kembali di Desa Karang sasak kec. Bukit Karangasem yang mengundang kebahagiaan seluruh warga dan anak-anak.

Hal ini terlihat pada antusiasme warga yang sangat luar biasa menyambut kedatangan tim YKU Bali, sekitar 150 orang memadati masjid Al Mukminun untuk berkumpul mengikuti buka puasa.

Sahabat, terima kasih sudah berbagi buka puasa Ramadhan hingga pelosok Bali dengan donasi yang sahabat amanahkan kepada YKU Bali. InsyaAllah akan menambah keberkahan di bulan suci Ramadhan ini.

Mari kita bagikan kebahagiaan dengan berbagi di desa-desa lainnya. Dengan program buka puasa hingga pelosok Bali.

Transfer Donasi Terbaikmu di Program Ramadhan Melalui :
BNI Syariah 0816801415
Syariah Mandiri 7012257109

Konfirmasi transfer via WA Center di 0852 3745 5556

Link Donasi : https://yku.or.id/campaigns/donasi-ramadhan-ifthor-ramadan/

www.yku.or.id

READ MORE
Ramadan

Buka Puasa Bersama Warga di Masjid Nurul Iman Desa Tegallinggah – Singaraja

Alhamdulillah 11/5/2019
Yayasan Kesejahteraan Ukhuwwah Bali (YKU) menggelar buka puasa bersama warga di Masjid Nurul Iman Desa Tegallinggah – Singaraja. Selain untuk menyambung silaturahmi, kegiatan ini juga untuk meningkatkan kepedulian kita kepada warga-warga pelosok bali.

Dalam kegiatan berbuka puasa bersama ini YKU Bali telah menyalurkan 200 Paket berbuka puasa, bingkisan Ramadan kepada Jompo dan Yatim Piatu, juga bantuan pengadaan karpet untuk Masjid Nurul Iman.

Kami mengucapkan Jazaakumullah khairan bagi yang telah berdonasi dan para donatur, semoga Allah lipat gandakan pahalanya di bulan yang penuh berkah ini.. Aamiin

Donasi Berbuka Puasa 100K
(Denpasar, Karangasem & Singaraja)

Donasi Pesantren Ramadan 1440H 100K
(Pembekalan Aqidah, Akhlak, Fiqih Ramadan, Sirah Nabawiyah & Tahfidz)

Donasi Sebar Wakaf Karpet / Sajadah 500K
(Denpasar, Karangasem & Singaraja)

Donasi Bingkisan Ramadan 250K
(Paket Sembako, Beras, Minyak, Mie, Gula, Kopi, Teh, Biskuit, Kacang ijo)

Info & Konfirmasi donasi : 0361 -488331 / 0852 3745 5556

#Donasi #Ramadhan #Denpasar #Bali #1440H #SebarkanKebaikan#YKUBali #RamadanMenujuTaqwa #2019

READ MORE

Kultum Bersama Ustadz Muhamad Hanafi

Bismillah..
Yuk ikuti kultum menjelang buka puasa bersama Ustadz. Muhammad Hanafi di level 21 Mall.

Mulai Tanggal 13 Mei 2019
Waktu : Setiap hari senin, selasa dan kamis selama bulan Ramadan, pukul 17.45 – Selesai

Mari jadikan Ramadan tahun ini moment hijrah memperbaiki keimanan dan ketawaan di hadapan Allah Azza wa Jalla dan mengaharap Ampunan dan Ridho-NYA. Aamiinn ya Rabbal ‘alamin

#Kultum#Ramadan#Denpasar#Bali#1440H#SebarkanKebaikan#YKUBali#RamadanMenujuTaqwa

READ MORE
Da'wah

Bahayanya Hawa Nafsu

Secara bahasa hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinnya. Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, hawa nafsu harus ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syariat Allah Azza wa Jalla. Adapun secara istilah syariat, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syariat.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, Hawa nafsu asalnya adalah kecintaan jiwa dan kebencian yang ada di dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu tidak bisa dikuasai. Namun yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Sad/38: 26) (Majmu Fatawa, 28/132)
Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata, Seseorang yang mengikuti hawa nafsu adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan yang dia sukai dan menolak perbuatan yang dia benci dengan tanpa dasar petunjuk dari Allah Azza wa Jalla (Majmu Fatawa, 4/189)
 
Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allah dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi tolok ukurnya.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, Fondasi agama (Islam) adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, mendukung karena Allah dan menjauhi karena Allah, beribadah karena Allah, memohon pertolongan kepada Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah, memberi karena Allah, dan menghalangi karena Allah. Ini hanya dapat dilakukan dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah perintah Allah Azza wa Jalla , larangannya adalah larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala , memusuhinya berarti memusuhi Allah, mentaatinya sama dengan mentaati Allah dan mendurhakainya sama dengan mendurhakai Allah Azza wa Jalla .
Bahkan orang yang mengikuti hawa nafsunya telah dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya. Sehingga dia tidak bisa memperhatikan dan melaksanakan apa yang menjadi hak Allah dan Rasul-Nya dalam hal itu, dan dia tidak mencarinya. Dia tidak ridha karena ridha Allah dan Rasul-Nya, dia tidak marah karena kemarahan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi dia ridha jika mendapatkan apa yang diridhai oleh hawa nafsunya, dan marah jika mendapatkan apa yang membuat hawa nafsunya marah. [Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 5/255-256]
Dengan demikian maka mengikuti hawa nafsu akan menyeret pelaku kepada kesesatan dan kerusakan. Sebab timbulnya bid’ah adalah hawa nafsu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, Permulaan bid’ah adalah mencela Sunnah (ajaran Nabi) dengan dasar persangkaan dan hawa nafsu (sebagaimana bibit kemunculan golongan Khawarij-pen), sebagaimana Iblis mencela perintah Allah (saat diperintahkan sujud kepada Adam) dengan fikirannya dan hawa nafsunyaa. [Majmua al-Fatawa, 3/350]
Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kehancuran. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan.
Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri.
Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.
[Hadits ini diriwayatkan dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar g . Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 1802 karena banyak jalur periwayatannya]
Demikian juga bahaya mengikuti hawa nafsu adalah mendatangkan kesusahan dan kesempitan hati. Syaikhul Islam berkata, Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya, seperti mencari kepemimpinan dan ketinggian (dunia-pen), keterikatan hati dengan bentuk-bentuk keindahan (kecantikan, ketampanan, dan lain-lain-pen), atau (usaha) mengumpulkan harta, di tengah usahanya untuk mendapatkan hal itu dia akan menemui rasa susah, sedih, sakit dan sempit hati, yang tidak bisa diungkapkan. Dan kemungkinan hatinya tidak mudah untuk meninggalkan keinginannya, dan dia tidak mendapatkan apa yang menggembirakannya. Bahkan dia selalu berada di dalam ketakutan dan kesedihan yang terus menerus. Jika dia mencari sesuatu yang dia sukai, maka sebelum dia mendapatkannya, dia selalu sedih dan perih karena belum mendapatkannya. Jika dia sudah mendapatkannya, maka dia takut kehilangan atau ditinggalkan (sesuatu yang dia sukai itu) [Majmu al-Fatawa, 10/651]
 
Maka untuk meraih keselamatan, orang yang mengikuti hawa nafsu harus menerapi dirinya dengan rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla sehingga akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya. Demikian juga perlu diterapi dengan ilmu dan dzikir. Dengan keduanya maka hawa nafsu akan terpental. Jika rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla sudah tertanam di dalam hati, maka hati akan bisa memahami dan melihat kebenaran sebagaimana mata yang melihat benda-benda dengan sinar terang matahari.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazia’at/79: 40-41)
 
Semoga Allah selalu membimbing hati kita sehingga selalu mampu menundukkan hawa nafsu dengan sebaik-baiknya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.
Wallahu a’lam
 
Sumber: almanhaj.or.id

READ MORE
Da'wah

Candailah Anak-Anak Kalian

Kelembutan dan kasih sayang adalah salah satu kebutuhan mutlak yang harus diberikan setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Allah Ta’ala menciptakan dan menganugrahkan sifat terpuji ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Apabila seseorang memiliki sifat tersebut, dia akan mengasihi dan menyayangi selainnya, dan apabila dia menyayangi orang lain dia pasti akan disayangi Allah Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata sambil menangis ketika menyaksikan kematian salah satu putranya:
(Tangisan) ini merupakan kasih sayang yang dianugrahkan oleh Allah ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang. (HR. Bukhari 1/223, Muslim kitab al-Janaiz)
 
Suri teladan kita telah menunjukkan berbagai cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayangnya kepada anak-anak baik dari kalangan kerabat atau anak-anak para sahabat yang lainnya. Ketika berpapasan dengan mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak segan mengucapkan salam kepada mereka (HR. Bukhari: Bab at-Taslim alash shibyan 6247, Ahmad: 121, 174).
Dalam Kesempatan yang lain, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa pernah suatu hari seorang bayi dibawa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau pangku anak tersebut, kemudian anak itu kencing mengenai baju Nabi shallallahu alaihi wa sallam namun beliau tidak marah dan murka, bahkan Nabi dengan lembut minta air kepada keluarganya untuk disiramkan pada baju yang terkena air kencing bayi tersebut (HR. Bukhari: kitab al-Wudhu 59, Muslim: kitab ath-Thaharah 101, 104.)
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk kepada kita semua di dalam mewujudkan perasaan kasih dan sayang kepada manusia, ditengah segala kesibukannya sebagai pembawa risalah, pemimpin umat, seorang suami, dan lainnya. Beliau tidak mengabaikan masalah-masalah yang ternyata pengaruhnya jauh lebih baik dari yang kita perkirakan, dan insyaAllah kita pun dapat melakukannya atau sebagian darinya. Di antaranya:
Salah satu bentuk kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya ialah dengan mencium mereka. Sebaliknya, merupakan tanda keras dan kakunya hati seseorang apabila dia tidak pernah mencium anak-anaknya. Dalam suatu hadits dijelaskan, termasuk hal yang biasa dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah mencium anak yang masih kecil:
Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata, Telah datang seorang badui kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya, Wahai Rasulullah, apakah engkau mencium anak-anak kecil? Akan tetapi kami tidak pernah mencium mereka. Rasulullah menjawab apakah aku punya kekuasan untukmu apabila Allah mencabut kasih sayang dari hatimu? (HR. Bukhari 5998, Muslim 2371)
 
Dalam hadits yang sahih juga dikisahkan bahwa al-Aqraa bin Habis berkata di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
Aku mempunyai sepuluh anak dan aku tidak pernah mencium satu-pun dari mereka.Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat al-Aqra dan bersabda,Barangsiapa tidak kasih sayang (kepada yang lain) maka dia tidak disayang.(HR. Muslim 2318)
Inilah petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat seperti Abu Bakr radhiyallahu anhu, dan semisalnya. Oleh karena itu, tidak ada anggapan tabu bagi kita melakukan apa yang telah dilakukan oleh suri teladan kita, dan generasi pendahulu kita yang telah meninggalkan untuk kita semua apa yang bermanfaat bagi umatnya walaupun menurut kita hal itu sepele. Bahkan imam ibnul Qayyim rahimahullah menulis satu bab dalam hal ini di dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud, dengan mengambil istinbath dari hadits-hadits yang semakna dengan di atas. Beliau mengatakan, Bab disunnahkan mencium anak-anaknya. (Lihat Tuhfatul Maudud bab ke -14)
 
Sebagian orang berlebihan memberikan kesempatan anak-anak mereka bersenda gurau, sehingga hampir seluruh waktunya terbuang sia-sia demi bergurau dengan anak-anak mereka. Sebagian lainnya sibuk dengan kegiatannya dan sangat merasa rugi kalau waktunya digunakan untuk bermain dengan anak-anaknya, maka terbentuklah pribadi anak-anak sebagaimana akhlak dan perangai orang tua mereka. Tidak mengherankan apabila ada anak yang berkarakter kocak, tidak pernah serius, dan selalu meremehkan sesuatu walaupun itu penting. Atau sebaliknya, ada anak yang selalu serius, tidak pernah tersenyum, mudah tersinggung, dan sebagainya.
Tidak selamanya senda gurau itu tercela. Suatu, ketika manusia membutuhkannya. Akan tetapi kebutuhan ini sebatas kebutuhan garam untuk setiap masakan, yang apabila kebanyakan garam berakibat masakan menjadi jelek, begitu pula apabila kurang garam menyebabkan masakan akan hambar, sebagaimana diungkapkan oleh Abul Fath al-Basti : Akan tetapi apabila engkau ingin bersenda gurau, hendaklah Hanya sebatas garam yang kau berikan pada makanan.
Seorang sahabat yang bernama al-Barra bin Azib radhiyallahu anhu mengatakan, Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan al-Hasan bin Ali berada di atas pundak beliau seraya beliau mengatakan: Wahai Allah, sungguh aku mencintainya (al-Hasan yang sedang berada di atas pundak Nabi), maka cintailah dia. (HR. Bukhari 3745, Muslim 2422)
 
Pada kesempatan lain, pernah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggendong cucu perempuannya yang bernama Umamah ketika sedang dalam shalatnya, apabila beliau hendak sujud beliau letakkan cucunya, dan apabila berdiri beliau gendong. (HR. Bukhari 516, Muslim 2/181).
Ada seorang sahabat yang masih kecil dari kalangan penduduk gurun, bernama Zahir. Anak ini bermuka buruk tapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suka dengannya. Suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihatnya menjual sesuatu dipasar. Lalu Nabi segera mendekapnya dari belakang sedangkan anak ini tidak bisa melihat siapa yang mendekapnya. Lantas ketika tahu bahwa yang mendekapnya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka anak ini senantiasa menempelkan punggunya ke dada Rasulullah karena dia cinta kepada beliau. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syamaail al-Muhammadiyah no. 205)
Pada kesempatan lain, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu pernah menceritakan:
Pernah dulu Rasulullah menjulurkan lidahnya kepada al-Hasan bin ali. Tatkala melihat lidah Rasulullah yang merah, al-Hasan merasa riang gembira dengannya. (Lihat Silsilah ash-Sahihah no. 70)
 
Demikianlah, Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam yang mulia terhadap anak-anak. Mudah-mudahan bisa menjadi siraman hati dan melunakkan hati yang keras sehingga menjadi lembut sesuai dengan kebutuhan anak-anak yang memang membutuhkan kasih sayang dan kelembutan dari orang tuanya. Juga, mudah-mudahan hati kita tidak menjadi kering atau bahkan mati dari perasaan tersebut naaudzu billahi min dzalik (semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam hal semacam itu).
 
Wahai para orang tua, bersegeralah mengoreksi diri! Kasih sayang dan kelembutan ataukah kekerasan dan pukulan yang telah kita berikan kepada buah hati kita?
Wallahu a’lam
 
Sumber: dari Majalah al-Furqon, Ed.6 Muharram 1427H

READ MORE
Da'wah

Kaidah Nasab Seorang Anak

Salah satu perkara agung yang syari’at Islam sangat memperhatikannya adalah perihal nasab seseorang.
Islam menjaga lima pokok dasar kehidupan manusia: agama, jiwa, akal, harta, dan nasab.
Al-Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Umat Islam bahkan seluruh agama telah sepakat bahwa syari’at agama diletakkan untuk menjaga lima hal pokok: agama, jiwa, keturunan (nasab), harta, dan akal. Ini adalah sesuatu yang pasti bagi umat Islam. Meskipun tidak ada dalil secara khusus, ini diketahui kesesuaiannya dengan berbagai dalil yang tidak hanya terfokuskan pada satu bab saja.” (al-Muwafaqat 1/31)
Nasab adalah kejelasan hubungan antara seseorang dengan orang-orang yang menyebabkannya terlahir ke alam dunia ini. Siapakah bapak dan ibunya, yang dengan itu pula akan diketahui siapa kerabat-kerabat dia lainnya, saudara, kakek, paman, dan lainnya.
 
MAKNA KAIDAH
Kaidah di atas mengandung makna bahwa nasab seseorang bisa bersambung kepada bapaknya karena hubungan syar’i, dalam artian jika anak itu terlahir dari seorang ibu yang dia hamil karena hubungan syar’i dengan seorang laki-laki maka berarti hubungan antara anak tersebut dengan bapaknya adalah hubungan syar’i yang dengan itu maka anak tersebut dinasabkan kepada bapaknya.
Hubungan syar’i ini seperti pernikahan atau budak (pada zaman dahulu saat masih ada perbudakan) karena itulah hubungan laki-laki dan perempuan yang diizinkan oleh syari’at. Allah berfirman:
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS. Al-Muminun/23: 5-6)
Adapun nasab seseorang dengan ibunya dikaitkan dengan siapakah yang melahirkan seorang anak tersebut. Siapa pun yang melahirkannya maka dia-lah ibu anak tersebut, baik dihasilkan dari hubungan syar’i maupun hubungan haram seperti zina.
Dari sini maka para ulama sepakat bahwa anak zina dinasabkan pada ibunya bukan pada ayahnya, sebagaimana anak yang dili’an oleh bapaknya. (Lihat Bada’i’ ash Shana’i’ 5/363 oleh al-Imam al-Kasani, al-Majmu’ 19/48 oleh al-Imam an-Nawawi, al-Muhalla 10/323 oleh al-Imam Ibnu Hazm, al-Istidzkar 22/177 oleh al-Imam Ibnu Abdil Bar, Zadul Ma’ad 5/368.)
 
DALIL KAIDAH
Banyak dalil yang mendasari kaidah ini, di antaranya:
1. Hadits Ibnu Umar radhiyallahua ‘anhu
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki yang meli’an istrinya pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menafikan anaknya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memisahkan antara keduanya dan menasabkan anak tersebut pada ibunya. (HR. Al-Bukhari 2/525, Muslim 2/1133)
Perhatikan hadits ini, saat seorang bapak menafikan nasab anaknya dari dirinya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetap menasabkan anak tersebut kepada ibunya karena dialah yang melahirkannya. Berlaku antara anak dan ibu tersebut semua hukum nasab, semisal saling mewarisi dan lainnya.
2. Hadits Aisyah radhiyallahuanha
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Sa’d ibn Abi Waqqash dan Abd ibn Zam’ah bertengkar mengenai seorang anak. Sa’d berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah anak saudara saya, Utbah ibn Abi Waqqash, ia berpesan kepada saya bahwa dia adalah anaknya, lihatnya pada kemiripan antara keduanya.’ Maka Abd ibn Zam’ah berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah saudaraku, dia terlahir di firasy bapakku dari budak wanitanya.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memandangnya dan beliau melihat ada kemiripan yang sangat jelas dengan Utbah ibn Abi Waqqash. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia untukmu, wahai Abd ibn Zam’ah. Anak itu milik yang memiliki firasy (ranjang yang halal/suami) dan bagi pezina hanyalah kerugian.'” (HR. Al-Bukhari: 6750, Muslim 2/180)
Letak pengambilan dalil dari hadits ini bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menjadikan bagi pezina laki-laki kecuali kerugian. Oleh karena itu, si anak dinasabkan pada ibunya karena tidak ada firasy. Adapun si wanita pezina, penasaban anak itu padanya karena memang dia yang melahirkan, sama saja apakah kelahiran itu karena nikah ataukah zina. (Lihat Fathul Bari 10/36, Zadul Ma’ad 5/368, al-Majmu’.)
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah saat menerangkan hadits ini berkata, “Apabila seorang laki-laki memiliki istri atau budak wanita, maka dia (istri atau budaknya) tersebut menjadi firasy baginya, dan apabila dia melahirkan anak maka anak tersebut dinasabkan kepada bapaknya, berlaku antara keduanya hukum saling mewarisi dan semua hukum nasab lainnya, sama saja apakah antara keduanya ada kemiripan ataukah tidak.” (Syarh Shahih Muslim 10/279)
Namun, para ulama berselisih tentang suatu keadaan apabila sang pezina laki-laki mengakuinya sebagai anak, dan tidak ada firasy (suami dari istri atau tuan bagi budak wanita) yang menentangnya, apakah bisa dinasabkan padanya ataukah tidak?
 
Pendapat pertama. Imam madzhab empat dan Ibnu Hazm mengatakan bahwa anak zina tidak bisa dinasabkan pada bapaknya secara mutlak, meskipun tidak ada firasy yang menentangnya.
Dalil mereka adalah hadits Aisyah radhiyallahu anha di atas. Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Anak itu milik yang punya firasy dan bagi pezina hanyalah kerugian.” Hadits ini menunjukkan bahwa anak milik yang punya firasy, dan firasy tidak bisa dicapai kecuali dengan dua cara:

  1. Akad nikah yang shahih atau yang batil dan sudah terjadi jima’ syubhah
  2. Memiliki budak wanita.

Seandainya kita nasabkan anak pada pezina laki-laki itu maka berarti kita menjadikan anak pada selain firasy. Dan ini jelas bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tersebut. (Lihat at-Tamhid 7/183 oleh al-Imam Ibnu Abdil Bar, al-Inshaf 9/269 oleh al-Imam al-Mardawi, Raudhatuth Thalibin 6/44 oleh al-Imam Nawawi, al-Muhalla 5/363.)
 
Pendapat kedua. Beberapa ulama, diantaranya Athaa, Amr bin Dinar, Hasan dan Ishaq bin Rahawaih berpendapat bahwa apabila tidak ada pemilik firasy, lalu anak zina itu ada yang mengakuinya bahwa ia berzina dengan ibunya, maka anak zina itu dinasabkan kepada pada yang mengakuinya tersebut.
Mereka menakwilkan hadits yang dijadikan dasar oleh jumhur bahwasanya anak itu milik firasy kalau ada, namun kalau tidak ada firasy dan ada yang mengaku berzina dengan ibunya maka dia dinasabkan padanya. (Lihat al-Istidzkar 22/17 oleh al-Imam Ibnu Abdil Bar, Tsubutun Nasab hlm. 395 oleh Yasin Mahmud al-Khatib.)
Pendapat ini dikuatkan ibnu Qayyim, beliau berkata: Qiyas yang shahih menunjukkan hal ini, karena bapaknya adalah salah satu yang berzina, maka apabila anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan bisa mewarisinya juga adanya hubungan nasab antara ia dengan kerabat ibunya, padahal ibunya pun berzina dengan bapaknya. Si anak itupun dilahirkan dari air mani keduanya, maka apa yang menghalangi untuk dinasabkan pada bapaknya jika tidak ada yang menentangnya? Juga, pernah Juraij berkata kepada bayi yang ibunya berzina dengan seorang pengembala, siapakah bapakmu? maka si bayi menjawab, fulan si pengembala. Ini adalah pembicaraan atas bimbingan Allah yang tidak mungkin berbohong. (Lihat Zadul Maad 5/381)
Madzhab ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Mawardi dalam al-Inshaf 9/269.
Dan yang lebih menentramkan hati adalah madzhab jumhur para ulama (yakni pendapat pertama, Red). Wallahu A’lam.
 
Sumber: dari Majalah al-Furqon No. 147 Ed.10 1435H/2014
 

READ MORE
Da'wah

Menjaga dan Melestarikan Lingkungan Hidup

Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dan melebihkan mereka di atas seluruh makhluk yang lain. Allah Azza wa Jalla menjadikan segala yang ada di langit dan bumi tunduk untuk manusia.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?UZO�U�UZO�UZ U�UZU?U?U�U� U�UZO� U?U?US O�U�O?U�UZU�UZO�U?UZO�O?U? U?UZU�UZO� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? O�UZU�U?USO?U�O� U�U?U�U�U�U?

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (QS. Al-Jasiyah/45: 13)
Allah Azza wa Jalla juga memilih manusia sebagai makhluk yang memakmurkan bumi ini. Firman-Nya:

U�U?U?UZ O?UZU�U�O?UZO?UZU?U?U�U� U�U?U�UZ O�U�O?O�U�O�U? U?UZO�O?U�O?UZO?U�U�UZO�UZU?U?U�U� U?U?USU�UZO�

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud/11: 61)
 
Al-Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di rahimahulah mengatakan, “Yaitu Allah menjadikan kalian sebagai pemakmurnya, memberikan kepada kalian nikmat yang tampak maupun tersembunyi, menempatkan kalian di muka bumi, hingga kalian dapat membangun, menanam, bercocok tanam sekehendak kalian dan mengambil manfaat serta kebaikannya.” (Taisir Al-Karim Al-Rahman hlm. 432)
Allah Azza wa Jalla menempatkan manusia di bumi ini dan menjadikan mereka sebagai penguasa adalah sebagai bentuk ujian. Tujuannya, untuk membedakan mana yang bagus dalam mengemban amanat dengan yang merusaknya. Allah Azza wa Jalla menjelaskan dalam firman-Nya:

U?UZU�U?U?UZ O�U�U�UZO�U?US O�UZO?UZU�UZU?U?U�U� O�UZU�O�O�U?U?UZ O�U�O?O�U�O�U? U?UZO�UZU?UZO?UZ O?UZO?U�O�UZU?U?U�U� U?UZU?U�U�UZ O?UZO?U�O�U? O?UZO�UZO�UZO�O?U? U�U?USUZO?U�U�U?U?UZU?U?U�U� U?U?US U�UZO� O?O?UZO�U?U?U�U� O?U?U�U�UZ O�UZO?U�UZU?UZ O?UZO�U?USO?U? O�U�U�O?U?U�UZO�O?U? U?UZO?U?U�U�UZU�U? U�UZO?UZU?U?U?O�U? O�UZO�U?USU�U?

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am/6: 165)
Sejalan dengan berlalunya waktu, betapa banyak manusia yang tidak memahami hakikat kehidupannya di bumi. Mereka tidak mengemban amanat dengan baik dalam memakmurkan bumi.
Semakin hari bumi ini tampak semakin rusak. Kerusakan tersebut bisa berupa kerusakan secara maknawi dengan menjamurnya kesyirikan, bidah, dan maksiat. Atau, bisa pula kerusakan yang nyata berupa perusakan lingkungan. Sebenarnya, bagaimanakah perhatian Islam terhadap lingkungan hidup yang kita diami ini? Adakah adab-adab yang harus kita perhatikan dalam melestarikan lingkungan? Simak dan cermati ulasan berikut ini, semoga bermanfaat.
 
PANDANGAN ISLAM TERHADAP LINGKUNGAN
Allah Azza wa Jalla banyak menyebutkan di dalam kitab-Nya yang mulia ayat-ayat yang berhubungan dengan lingkungan. Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dialah pencipta dan pengatur alam lingkungan ini. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan dengan pengaturan yang apik dan elok. Penciptaan langit dan bumi, bergilirnya malam dan siang adalah sedikit bukti bahwa Dia Maha Mengatur alam semesta.
Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini yang menerangkan bahwa Allah Maha Pencipta lingkungan dan pengaturnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

O�U�U�UZO�U?US O�UZO?UZU�UZ U�UZU?U?U�U? O�U�O?O�U�O�UZ U?U?O�UZO�O?U�O� U?UZO�U�O?U�UZU�UZO�O?UZ O?U?U�UZO�O?U� U?UZO?UZU�U�O?UZU�UZ U�U?U�UZ O�U�O?U�UZU�UZO�O?U? U�UZO�O?U� U?UZO?UZO�U�O�UZO�UZ O?U?U�U? U�U?U�UZ O�U�O�U�UZU�UZO�UZO�O?U? O�U?O?U�U�U�O� U�UZU?U?U�U� U?UZU�O� O?UZO�U�O?UZU�U?U?O� U�U?U�U�UZU�U? O?UZU�U�O?UZO�O?U�O� U?UZO?UZU�U�O?U?U�U� O?UZO?U�U�UZU�U?U?U�UZ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurun-kan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2: 22)
Firman Allah Azza wa Jalla yang lain:

O?UZU?UZU�UZU�U� USUZU�U�O?U?O�U?U?O� O?U?U�UZU� O�U�O?U�UZU�UZO�O?U? U?UZU?U�U�UZU�U?U�U� U?UZUSU�U?UZ O?UZU�UZUSU�U�UZO�U�UZO� U?UZO?UZUSU�UZU�U�UZO�U�UZO� U?UZU�UZO� U�UZU�UZO� U�U?U�U� U?U?O�U?U?O�U? . U?UZO�U�O?O�U�O�UZ U�UZO?UZO?U�U�UZO�U�UZO� U?UZO?UZU�U�U�UZUSU�U�UZO� U?U?USU�UZO� O�UZU?UZO�O?U?USUZ U?UZO?UZU�U�O?UZO?U�U�UZO� U?U?USU�UZO� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZU?U�O�U? O?UZU�U?USO�U? . O?UZO?U�O�U?O�UZO�U� U?UZO�U?U?U�O�UZU� U�U?U?U?U�U?U� O?UZO?U�O?U? U�U?U�U?USO?U?

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (QS. Qaf/50: 6-8)
Allah Azza wa Jalla berfirman pula:

U?UZO�U�O?O�U�O�UZ U�UZO?UZO?U�U�UZO�U�UZO� U?UZO?UZU�U�U�UZUSU�U�UZO� U?U?USU�UZO� O�UZU?UZO�O?U?USUZ U?UZO?UZU�U�O?UZO?U�U�UZO� U?U?USU�UZO� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZUSU�O?U? U�UZU?U�O?U?U?U�U? . U?UZO�UZO?UZU�U�U�UZO� U�UZU?U?U�U� U?U?USU�UZO� U�UZO?UZO�USU?O?UZ U?UZU�UZU�U� U�UZO?U�O?U?U�U� U�UZU�U? O?U?O�UZO�O?U?U�U?USU�UZ . U?UZO?U?U�U� U�U?U�U� O?UZUSU�O?U? O?U?U�O� O?U?U�U�O?UZU�UZO� O�UZO?UZO�O�U?U�U?U�U? U?UZU�UZO� U�U?U�UZO?U?U�U�U?U�U? O?U?U�O� O?U?U�UZO?UZO�U? U�UZO?U�U�U?U?U�U?

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuh-kan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS. Al-Hijr/15: 19-21)
 
Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran bagi manusia akan keagungan dan kekuasaan Allah yang sangat besar. Nikmat dan karunia yang tak terhingga telah Dia curahkan bagi manusia. Ayat-ayat tersebut juga mengingatkan manusia bahwa terjadinya segala sesuatu di alam semesta ini berupa pergiliran siang dan malam, adanya hewan-hewan, tumbuhan yang beraneka ragam, dan segala yang membawa manfaat bagi manusia di bumi adalah untuk mendorong manusia agar berpikir dan merenungi ciptaan-Nya. Ayat-ayat tadi mengingatkan mereka agar bersyukur dan taat kepada Rabb semesta alam bukan malah kufur. (Tafsir Al-Tabari 14/87, Tafsir Al-Qura��an Al-a�?Azim 3/426)
Allah Azza wa Jalla berfirman:
O?U?U�U�UZ U?U?US O�UZU�U�U�U? O�U�O?U�UZU�UZO�U?UZO�O?U? U?UZO�U�O?O�U�O�U? U?UZO�O�U�O?U?U�O�U?U? O�U�U�U�UZUSU�U�U? U?UZO�U�U�U�UZU�UZO�O�U? U�O?USUZO�O?U? U�O?U?U�U?US O�U�O?U�U�O?UZO�O?U?
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran/3: 190)
Berpikir dan merenungi makhluk ciptaan Allah akan membawa pengenalan terhadap keagungan dan kebesaran Allah Azza wa jalla. Hal itu akan menyadarkan manusia bahwa alam ini akan punah dan kembali kepada Rabbnya, yang kemudian Allah akan membalas dengan balasan yang setimpal. Barangsiapa memiliki tujuan seperti ini maka jiwanya akan mampu mengerem segala keinginan hati dan menjadi bersih.
 
MELESTARIKAN LINGKUNGAN
Lingkungan yang ada di permukaan bumi ini meliputi lingkungan air, udara, tanah yang kita diami serta tumbuhan dan hewan. Berikut ini kami paparkan sebagian bentuk perhatian Islam terhadap lingkungan di atas.
A. Air Sumber Kehidupan
Air adalah sumber kehidupan. Air memegang peranan penting dalam alam semesta ini. Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalam firman-Nya:

O?UZU?UZU�UZU�U� USUZO�UZ O�U�U�UZO�U?USU�UZ U?UZU?UZO�U?U?O� O?UZU�U�UZ O�U�O?U�UZU�UZO�U?UZO�O?U? U?UZO�U�O?O�U�O�UZ U?UZO�U�UZO?UZO� O�UZO?U�U�U�O� U?UZU?UZO?UZU�U�U�UZO�U�U?U�UZO� U?UZO�UZO?UZU�U�U�UZO� U�U?U�UZ O�U�U�U�UZO�O?U? U?U?U�U�UZ O?UZUSU�O?U? O�UZUSU�U? O?UZU?UZU�O� USU?O�U�U�U?U�U?U?U�UZ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiyaa��/21: 30)
 
Al-Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata, “Air adalah sumber kehidupan, tuannya minuman, unsur terpenting bagi alam semesta, bahkan ia adalah unsur yang asasi. Sesungguhnya awan-awan itu berasal dari uapan air, dan bumi dari buihnya. Dengan air, segala sesuatu menjadi hidup.” (Zad Al-Maa��ad 4/356)
Sungguh air adalah nikmat Allah Azza wa Jalla yang sangat besar kepada para hamba-Nya. Dia menurunkan air dengan kadar tertentu untuk menjaga keseimbangan bumi dalam menerimanya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?UZU�U�O?UZU�U�U�UZO� U�U?U�UZ O�U�O?U�UZU�UZO�O?U? U�UZO�O?U� O?U?U�UZO?UZO�U? U?UZO?UZO?U�U?UZU�U�UZO�U�U? U?U?US O�U�O?O�U�O�U? U?UZO?U?U�U�UZO� O?UZU�UZU� O�UZU�UZO�O?U? O?U?U�U? U�UZU�UZO�O?U?O�U?U?U�UZ

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi. dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS . Al-Mua��minun /23: 18)
Al-Imam Ibn Katsir rahimahullah mengatakan. “Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menyebutkan nikmat-Nya yang tak terhingga kepada para hamba-Nya. Dia menurunkan air hujan menurut suatu ukuran yang sesuai dengan kebutuhan. tidak terlalu banyak hingga merusak bumi dan bangunan, tidak pula sedikit sehingga tidak mencukupi untuk pertanian dan cocok tanam. Bahkan Allah Azza wa Jalla mengaturnya sesuai dengan kebutuhan. untuk pengairan, minum atau untuk diambil manfaatnya.” (Tafsir Al-Qura��an Al-a�?Azim 5/470)
 
Perhatian Islam terhadap lingkungan air ini sangat besar, baik itu air yang ada di laut, sungai, lembah atau yang di sekitar kita. Islam melarang dengan sangat keras pencemaran atau perusakan terhadap air. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�O� O?U?U?U�O?U?O?U?U?O� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? O?UZO?U�O?UZ O?U?O�U�U�O�O�U?U�UZO� U?UZO�O?U�O?U?U?U�U? O�UZU?U�U?U�O� U?UZO�UZU�UZO?U�O� O?U?U�U�UZ O�UZO�U�U�UZO�UZ O�U�U�U�UZU�U? U�UZO�U?USO?U? U�U?U�UZ O�U�U�U�U?O�U�O?U?U�U?USU�UZ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. sesudah (Allah) memperbaikinya dan ber-doalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf /7: 56)
Bahkan yang namanya “merusak bumi” adalah sifat yang tercela, tidak menunaikan amanat dalam me-makmurkan bumi. Allah berfirman:

U?UZO?U?O�UZO� O?UZU?UZU�U�UZU� O?UZO?UZU� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? U�U?USU?U?U�O?U?O?UZ U?U?USU�UZO� U?UZUSU?U�U�U�U?U?UZ O�U�U�O�UZO�U�O�UZ U?UZO�U�U�U�UZO?U�U�UZ U?UZO�U�U�U�UZU�U? U�O� USU?O�U?O?U�U? O�U�U�U?UZO?UZO�O?UZ

Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak. dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqarah/2: 205)
 
Al-Imam al-Qurtubi rahimahullah mengatakan, “Ayat ini sesuai dengan keumumannya. mencakup segala kerusakan baik di bumi maupun kerusakan terhadap harta dan agama. Dan ini adalah yang benar, insya Allah” (Al-Jamia�� li Ahkam Al-Qura��an 3/22)
Demikian pula jika kita tengok hadits-hadits Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam sangat banyak yang mengisyaratkan untuk menjaga lingkungan air dan larangan dari mengotori dan merusaknya. Di antaranya, Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�UZO� USUZO?U?U?U�UZU�U�UZ O?UZO�UZO?U?U?U?U�U� U?U?US O�U�U�U�UZO�O?U? O�U�O?U�UZO�O�U?U�U? O�U�U�UZO�U?US U�UZO� USUZO�U�O�U?USA� O�U?U�U�UZ USUZO?U�O?UZO?U?U�U? U?U?USU�U?

“Janganlah salah seorang di antara kalian kencing pada air yang tidak mengalir kemudian mandi di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari: 236, Muslim: 282)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam juga bersabda:

O�U?O?U�UZU�U?U?O� O�U�U�U�UZU�UZO�O?U?U�UZ O�U�O�U�U�UZO�O�UZO�UZ O�U�U�O?UZO�UZO�O?UZ U?U?US O�U�U�U�UZU?UZO�O�U?O?U? U?UZU�UZO�O�U?O?UZO�U? O�UZO�U?USU�U? U?UZO�U�O?U�U?U�U�U?

“Takutlah kalian dari tiga perbuatan yang terlaknat: buang hajat di saluran tempat air, di tengah jalan, dan tempat berteduhnya manusia.” (HR. Abu Dawud: 26, Ibn Majah: 328, Al-Hakim 1167, Al-Baihaqi 197. Al-Imam al-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ 2/101. “Sanadnya bagus.” Lihat pula Al-lrwaa��: 62.)
 
Hadits-hadits tadi menunjukkan haramnya mengotori, menajiskan, dan mencemarkan air. Ini adalah dalil umum yang masuk ke dalamnya juga larangan mengotori sumber-sumber pengairan dengan membuang sampah, limbah beracun dan sebagainya. Apalagi pencemaran semacam ini tingkat bahayanya melebihi hanya sekadar buang hajat atau mandi. Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu menegaskan bahwa apa yang terkandung dalam hadits ini hanya sebagai peringatan akan bahayanya. Masuk dalam larangan hadits di atas segala sesuatu yang mengotori dan mencemarkan air. (Lihat Tarh al-Tasrib 2/33 karya Al-a�?Iraqi. Syarh Sahih Muslim 3/188 karya Al-Nawawi.)
 
B. Menghirup Udara Segar
Udara merupakan unsur terpentmg dalam kehidupan, asas kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Tidak ada satu pun makhluk hidup kecuali dia membutuhkan udara.
Al-Imam Al- Gazali mengatakan, a�?Andaikan tidak ada udara, niscaya akan binasa seluruh binatang darat. Karena,A� dengan menghirupnya akan stabil suhu badan pada segala binatang. Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menciptakan udara ini sesuai kelembutan hikmah-Nya, menciptakan pergerakannya, yang dengan itu dapat menyerap dan mebersihkan kotoran bumi. Andaikan tidak ada udara, sungguh akan kotor bumi ini dan akan binasa binatang disebabkan banyaknya kotoran dan penyakit.a�? (Al-Hikmah min Makhluqat hlm. 59)
Ketahuilah, bahwa udara yang bermanfaat adalah udara yang seperti tabiatnya, selamat dari polusi dan kotoran. Bagus dan jeleknya udara adalah penentu sehat dan sakitnya badan. (Al- Adab Al-Syara��iyyah 3/367, Tarh Al- Tasrib 8/221)
Oleh karena itu, Islam sangat menjaga keaslian udara ini. Tidak boleh udara dicemari dan dikotori. berdasarkan keumuman firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:

U?UZU�O� O?U?U?U�O?U?O?U?U?O� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? O?UZO?U�O?UZ O?U?O�U�U�O�O�U?U�UZO�

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (QS. Al-A’raf/7: 56)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�O�UZ O�UZO�UZO�UZ U?UZU�O�UZ O�U?O�UZO�UZ

“Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh pula menimpakan bahaya.” (Hadits sahih. Lihat Jami’ ul-Ulum wa al-Hikam 2/207, al-Sahihah: 250.)
Bahkan, para ulama menegaskan bahwa sekadar memberikan bau asap yang tidak enak kepada tetangga adalah terlarang. (Ahkam al-Bi’ah hlm. 342)
 
C. Lingkungan di Sekitar Kita
Sungguh syariat Islam menganjurkan bagi para pemeluknya untuk selalu menjaga lingkungan di sekitarnya dari segala kotoran. Salah satu contohnya adalah menganjurkan untuk menyingkirkan gangguan dari jalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahua�?anhu bahwasanya Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

O�U�U�O?U?USU�UZO�U�U? O?U?O�U�O?U? U?UZO?UZO?U�O?U?U?U�UZ O?UZU?U� O?U?O�U�O?U? U?UZO?U?O?U�U?U?U�UZ O?U?O?U�O?UZO�U� U?UZO?UZU?U�O�UZU�U?U�UZO� U�UZU?U�U�U? U�UZO� O?U?U�UZU�UZ O?U?U�U�UZO� O�U�U�U�UZU�U? U?UZO?UZO?U�U�UZO�U�UZO� O?U?U�UZO�O�UZO�U? O�U�U�O?UZO�UZU� O?UZU�U� O�U�O�U�UZO�U?USU�U? U?UZO�U�U�O�UZUSUZO�O?U? O?U?O?U�O?UZO�U? U�U?U�U� O�U�U�O?U?USU�UZO�U�U?

”Iman itu ada tujuh puluh tiga cabang lebih, atau enam puluh tiga cabang lebih. Yang paling afdal adalah ucapan La ilaha illallah (tiada Tuhan yang hak diibadahi selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Muslim: 35)
Lantas, tempat-tempat apa saja yang wajib dijaga kebersihannya di lingkungan sekitar kita ini?
1. Masjid
Menjaga kebersihan masjid termasuk amal kebaikan yang dianjurkan oleh syariat Islam. Dasarnya ialah firman Allah Azza wa Jalla:

U?UZO?U?O�U� O?UZU?U�UZO?U�U�UZO� U�O?O?U�O�UZO�U�U?USU�UZ U�UZU?UZO�U�UZ O�U�U�O?UZUSU�O?U? O?UZU�U� U�O� O?U?O?U�O�U?U?U� O?U?US O?UZUSU�O�U�O� U?UZO�UZU�U?U�O�U� O?UZUSU�O?U?USUZ U�U?U�O�U�UZO�O�U?U?U?USU�UZ U?UZO�U�U�U�UZO�O�U?U�U?USU�UZ U?UZO�U�O�U�U?U?U�UZO?U? O�U�O?U�U?O�U?U?O?U?

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Hajj/22: 26)
Adapun dalil dari Sunah di antaranya adalah kisah seorang Arab Badui yang masuk masjid kemudian kencing di salah satu sudut masjid. Setelah dia selesai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam menegurnya seraya berkata: “Sesungguhnya masjid ini tidak boleh sedikit pun untuk dikencingi atau dikotori. Masjid tempat untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qura��an.” (HR. Al-Bukhari: 219. Muslim: 285)
Hadits ini merupakan dalil yang sangat jelas wajibnya memuliakan masjid, menjaga dan membersihkannya dari segala kotoran dan kencing. (Fath al-Bari 1/325. Syarh Sahih Muslim 3/191)
2. Rumah
Rumah adalah hunian makhluk hidup. Bahkan ia termasuk kebutuhan primer bagi manusia. Sungguh para salaf sangat memperhatikan kebersihan rumahnya. Di antaranya adalah apa yang dicontohkan oleh Sahabat yang mulia ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu a�?anhu, yang selalu memerintahkan untuk menyapu rumah. Hingga apa-bila dicari satu kotoran atau sedikit debu saja, niscaya tidak akan didapati. (Musannaf Ibn Abi Syaibah 6/161)
3. Jalan dan Tempat Berkumpulnya Manusia
Demikian pula jalan-jalan dan tempat keramaian berkumpulnya manusia, kita dilarang untuk mengotori atau membuat gangguan di dalamnya dengan segala sesuatu yang membuat tidak enak orang yang lewat atau melihatnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO�U�U�UZO�U?USU�UZ USU?O�U�O�U?U?U�UZ O�U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?USU�UZ U?UZO�U�U�U�U?O�U�U�U?U�UZO�O?U? O?U?O?UZUSU�O�U? U�UZO� O�U?U�O?UZO?UZO?U?U?O� U?UZU�UZO?U? O�O�U�O?UZU�UZU�U?U?O� O?U?U�U�O?UZO�U�U�O� U?UZO?U?O�U�U�U�O� U�U?O?U?USU�U�O�

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab/33: 58)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:
O�O?U�UZU�U?U?O� O�U�U�U�UZO?U�UZO�U�UZUSU�U�U? U�UZO�U�U?U?O� U?UZU�UZO� O�U�U�U�UZO?U�UZO�U�UZO�U�U? USUZO� O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? U�UZO�U�UZ O�U�U�UZO�U?US USUZO?UZO�UZU�U�UZU� U?U?US O�UZO�U?USU�U? O�U�U�U�UZO�O?U? O?UZU?U� U?U?US O?U?U�U�U?U�U?U�U�
“Jauhilah oleh kalian dua perkara yang menyebabkan laknat.” “Apakah itu, wahai Rasulullah? tanya para Sahabat. Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam, menjawab, “Yaitu orang yang buang hajat di jalan yang dilalui manusia atau di tempat berteduh mereka.” (HR. Muslim: 269)
D. Mencintai Tumbuhan
Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan dalam banyak ayat-Nya tentang tumbuhan dan tanaman. Hal itu karena pentingnya tumbuhan dan sangat besarnya kebutuhan manusia terhadap tumbuhan. Islam memandang bahwa tumbuhan adalah sesuatu yang baik dan indah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?UZO�UZU� O�U�O?O�U�O�UZ U�UZO�U�U?O?UZO�U� U?UZO?U?O�UZO� O?UZU�U�O?UZU�U�U�UZO� O?UZU�UZUSU�U�UZO� O�U�U�U�UZO�O?UZ O�U�U�O?UZO?U�UZO?U� U?UZO�UZO?UZO?U� U?UZO?UZU�U�O?UZO?UZO?U� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZU?U�O�U? O?UZU�U?USO�U?

Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al-Hajj /22: 5)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�UZU�U� U�UZO�U�UZ O?U?O?U�O�UZO�U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O�U�U�O?UZO?U?USU�U? U?UZO?U?O�UZU�U�O?U?U�U? O?U?O�U?O?UZO?U� U�UZU�U? U�UZO�U�U�UZO�U? U?U?US O�U�U�O�UZU�U�UZO�U?

“Barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah al-‘Azim wa Bihamdihia�� akan ditanamkan baginya sebuah pohon di Surga.” (HR. al-Tirmidzi: 3464, al-Nasaa��i dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 827, Abu Yaa��la; 2233, Ibn Hibban: 2335, Al-Hakim 1/501, dll. Dinilai sahih oleh Al-Syaikh Al-Albani dalam Al-Sahihah no. 64.)
Sungguh Islam sangat perhatian terhadap tumbuhan. Islam menganjurkan untuk memperbanyak menanamnya. Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�UZO� U�U?U�U� U�U?O?U�U�U?U�U? USUZO?U�O�U?O?U? O?UZO�U�O?U�O� O?UZU?U� USUZO?U�O�UZO?U? O?UZO�U�O?U�O� U?UZUSUZO?U�U?U?U�U? U�U?U�U�U�U? O�UZUSU�O�U? O?UZU?U� O?U?U�U�O?UZO�U�U? O?UZU?U� O?UZU�U?USU�UZO�U? O?U?U�U�UZO� U?UZO�U�UZ U�UZU�U? O?U?U�U? O�UZO?UZU�UZO�U?

“Tidaklah seorang muslim menanam atau bercocok tanam, kemudian tanamannya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang ternak, melainkan (akan dinilai oleh Allah) sebagai sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari: 2152, Muslim: 2904)
Di dalam hadits ini terdapat keutamaan menanam dan bercocok tanam serta anjuran untuk memakmurkan bumi. Hadits ini juga sebagai bantahan kepada orang yang berpendapat tidak bolehnya menanam tanaman, seperti perbuatan orang yang pura-pura zuhud. Adapun hadits yang mengisyaratkan larangan bercocok tanam dibawa pada keadaan apabila menanam dan bercocok tanamnya melampaui batas dan lupa dari perkara agama. (Fath al-Bari 5/401)
 
Al-Syaikh al-Albani rahimahullah mengomentari. “Sungguh tidak ada yang paling tegas dalam menunjukkan anjuran memakmurkan bumi dan mengembangkannya daripada hadits ini. Karena di dalamnya terdapat anjuran yang sangat besar untuk memanfaatkan akhir kesempatan hidup di medan pertanian dengan meraberikan manfaat kepada manusia setelah matinya. Dengan itu pahalanya akan terus mengalir dan ditulis sebagai sedekah sampai hari Kiamat.” (Al-Sahihah 1/38)
 
TEBANG POHON SEMBARANGAN?
Allah Azza wa Jalla melarang kita membuat kerusakan di bumi. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?U?O�UZO� O?UZU?UZU�U�UZU� O?UZO?UZU� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? U�U?USU?U?U�O?U?O?UZ U?U?USU�UZO� U?UZUSU?U�U�U�U?U?UZ O�U�U�O�UZO�U�O�UZ U?UZO�U�U�U�UZO?U�U�UZ U?UZO�U�U�U�UZU�U? U�O� USU?O�U?O?U�U? O�U�U�U?UZO?UZO�O?UZ

Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. al-Baqarah/2: 205)
Sebagian ahli tafsir mengatakan tentang firman-Nya ”dan merusak tanaman-tanaman’ adalah dengan membakar tanaman dan pohon-pohon yang berbuah yang dimiliki oleh kaum muslimin. Inilah yang dipilih oleh al-Imam Ibn Jarir dalam kitab tafsirnya 2/317 dan ia berkata, “Ini adalah yang lebih mendekati dalam penafsiran makna ayat.” (Lihat pula al-Jamia�� li Ahkam al-Qura��an 3/18. Tafsir Ibn Katsir 1/247.)
 
Demikianlah sedikit yang dapat kami kumpulkan tentang anjuran dan keutamaan menjaga lingkungan.
 
Wallahu A’lam.
 
Sumber: dari Majalah al-Furqon No.143, Ed.7 1435H

READ MORE
Da'wah

Indahnya Kehidupan Berkeluarga

Saudaraku, ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla telah menciptakan kehidupan, dan menetapkan sebuah sistem yang membuat kehidupan menjadi tertata dengan indah. Kehidupan telah diciptakan berpasang-pasangan: langit dan bumi, matahari dan bulan, lautan dan daratan, laki-laki dan perempuan, dan seterusnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZUSU�O?U? O�UZU�UZU�U�U�UZO� O?UZU?U�O�UZUSU�U�U? U�UZO?UZU�U�UZU?U?U�U� O?UZO�UZU?U�UZO�U?U?U�UZ

Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat (kebesaran Allah). (QS adz-Dzariyat/51: 49)
Sebagai makhluk yang dimuliakanA� Allah Azza wa Jalla dan makhluk sosial yang memiliki peradaban tinggi, Allah Azza wa Jalla telah menetapkan bagi manusia satu bentuk sistem terbaik yang mengatur kehidupan sepasang anak manusia dalam satu ikatan indah bernama pernikahan. Keindahan kehidupan berkeluarga di bawah naungan mahligai pernikahan, dirasakan nikmatnya oleh mereka yang menjalaninya di bawah naungan petunjuk Allah Azza wa Jalla dan sunnah Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam.
Sebagian dari keindahan itu yang tertulis dalam ayat-ayat al-Qura��an dan hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu a��alaihi wa sallam.
 
Pertama,A�Bersama dalam Ketaatan
Saudaraku, jika engkau sedang mencari pasangan hidup atau di saat engkau memilih pendamping hidup, maka ketahuilah bahwa engkau sedang mengawali langkah menuju sebuah gerbang ketaatan dalam rangka beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan kepada saudara-saudaraku yang telah menjalani kehidupan berumah tangga, marilah kembali kita perbaiki niat, melalui kebersamaan ini dengan pasangan hidup kita, kita meniatkan sebuah ibadah yang menambah timbangan amalan kita.
Kita melangkah menuju kehidupan berumah tangga, maka itu artinya kita sedang menginjakkan kaki pada satu ibadah yang indah dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk membentuk sebuah keluarga dengan firman-Nya:

U?UZO�U�U�U?U?O�U?U?O� U�UZO� O�UZO�O?UZ U�UZU?U?U�U� U�U?U�UZ O�U�U�U?U�O?UZO�O?U? U�UZO�U�U�UZU� U?UZO�U?U�O�O�UZ U?UZO�U?O?UZO�O?UZ U?UZO?U?U�U� O�U?U?U�O?U?U�U� O?UZU�O� O?UZO?U�O?U?U�U?U?O� U?UZU?UZO�O�U?O?UZO�U� O?UZU?U� U�UZO� U�UZU�UZU?UZO?U� O?UZUSU�U�UZO�U�U?U?U?U�U�

“Nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka cukuplah seorang saja, atau hamba sahaya yang kamu miliki”. (QS an-Nisa/4: 3)
A�
Kedua,A�Jembatan Menuju Kesempurnaan Agama
Terkadang ada yang ragu-ragu dalam melangkahkan hatinya untuk memasuki kehidupan berumah-tangga. Siapa saja yang memiliki perasaan demikian, silahkan renungi dan cermati petunjuk Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam dalam hadits berikut, dengan harapan dapat merubah keraguannya menjadi kemantapan hati. Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

O?U?O�UZO� O?UZO?UZU?U�UZO�UZ O�U�O?UZO?U�O?U? U?UZU�UZO?U� U?UZU�U?U�UZ U�U?O�U�U?U? O�U�O?U�U?USU�U�U?O? U?UZU�U�USUZO?U�UZU�U? O�U�U�U�UZ U?U?US O�U�U�U�U?O�U�U?U? O�U�O?UZU�U?USU�

Jika seorang hamba telah menikah, maka telah sempurna setengah agamanya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk menjaga setengah yang tersisa. (HR al-Baihaqi, Syu’abil-lman, no. 5100. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ash-Shaghir, no. 430).
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Makna hadits ini, bahwasanya jika seseorang telah menikah, maka ia telah terjaga dari zina; hal itu merupakan salah satu dari dua sifat yang mendatangkan jaminan masuk surga dari Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dua perkara pada dirinya, maka ia akan masuk surga; yang berada di antara jenggot dan kumisnya (mulut) dan yang berada di antara dua kakinya (kemaluan)”. (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 53 dan dishahihkan oleh al-Albani, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6593, dan selainnya. Lihat juga Tafsir al-Qurthubi, 9/327).
Dengan menikah, seorang laki-laki akan menjalankan banyak amal ibadah yang berbeda dari sebelumnya; menjadi kepala keluarga, suami dan seorang ayah bagi anak-anaknya kelak. Begitu pula yang dialami seorang Muslimah, pasca pernikahannya, ia akan banyak menyelami amalan-amalan baru yang menjadi ladang ibadahnya; sebagai seorang istri, pemegang tanggung-jawab menangani urusan rumah tangga suaminya, dan menjadi seorang ibu bagi keturunannya.
 
Ketiga,A�Pernikahan Sumber Kebahagiaan dan Ketenangan
Saudaraku, apalah artinya harta kekayaan, pangkat kedudukan, jabatan dan kekuasaan, kalau kita tidak mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup padanya. Justru perkara-perkara tersebut menambah duka dan beban hidup bila tidak menjadi sebab datangnya kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Dan jika engkau ingin mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup, engkau harus mencari resep dari ahlinya, sebagaimana jika engkau sakit engkau berusaha mencari kesembuhan dari dokter sebagai ahli penyakitnya.
Begitu pun jika manusia ingin mencari kebahagiaan hidupnya, maka ia harus mencari petunjuk dari Dzat yang paling mengetahui kondisi manusia, yang tahu letak kebahagiaan itu tersimpan baginya. Yaitu, Allah Azza wa Jalla Rabbuna Dzat Yang Menciptakan kita. Dia Azza wa Jalla telah berfirman:

U?UZU�U?U�U� O?USUZO�O?U?U�U? O?UZU�U� O�UZU�UZU�UZ U�UZU?U?U�U� U�U?U�U� O?UZU�U�U?U?O?U?U?U?U�U� O?UZO?U�U?UZO�O�U�O� U�U?O?UZO?U�U?U?U�U?U?O� O?U?U�UZUSU�U�UZO� U?UZO�UZO?UZU�UZ O?UZUSU�U�UZU?U?U�U� U�UZU?UZO?U�UZO�U� U?UZO�UZO�U�U�UZO�U� O?U?U�U�UZ U?U?US O�UZU�U?U?UZ U�O?USUZO�O?U? U�U?U�UZU?U�U�U? USUZO?UZU?UZU?U�UZO�U?U?U�UZ

Di antara tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS ar-Rum/30: 21)
Saudaraku, jika engkau ingin menggapai ketenangan dan kebahagiaan, maka segeralah menikah. Jika sudah menikah, namun belum juga memperoleh buah ketenangan dan kebahagiaan dari perkawinan tersebut, maka koreksilah perjalanan rumah tanggamu, apakah telah mengikuti tuntunan Allah Azza wa Jalla dan petunjuk Rasul-Nya shallallahu a��alaihi wa sallam.
Tumbuhan tropis hidup di daerah tropis, sedangkan pohon kurma berbuah di daerah panas. Janganlah engkau berharap memetik buahnya jika engkau menanamnya di tempat yang salah. Segeralah perbaiki diri dan lihatlah kebahagiaan yang engkau cari akan mekar dan semakin mengembang, layaknya bunga di musim semi yang indah bermekaran.
 
Keempat,A�Pakaian yang Menghiasi
Saudaraku, engkau pasti pernah melihat seekor ayam jantan dengan bulunya yang begitu indah, tetapi pernahkah engkau membandingkan keadaannya saat dia kehilangan bulunya? Perhatikanlah, engkau pasti mengetahui perbedaannya.
Seperti itulah pakaian yang menghiasi diri kita. Seorang laki-laki dengan pakaiannya semakin gagah. Demikian pula, seorang wanita dengan pakaiannya akan semakin indah dipandang mata. Jika seorang laki-laki dan wanita telah hidup berpasangan, maka yang satu menjadi pakaian bagi yang lainnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U�U?U�U�UZ U�U?O?UZO�O?U? U�UZU?U?U�U� U?UZO?UZU�U�O?U?U�U� U�U?O?UZO�O?U? U�UZU�U?U�U�UZ

Isteri-isteri kalian adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. (QS al-Baqarah/2: 187).
Saudaraku, perhatikanlah pakaianmu dan seperti itulah engkau dengan pasanganmu. Lekatnya pakaian di badanmu menunjukkan lekatnya ia denganmu. Pakaianmu menjagamu dari terik matahari dan melindungimu dari suhu dingin di sekitarmu. Begitulah pula penjagaan dan perlindunganmu terhadap pasanganmu. Pakaian yang kau kenakan akan menghiasi dirimu, maka begitu juga pasanganmu. Engkau menjadi perhiasan baginya dan ia menjadi perhiasan bagimu.
 
Kelima,A�Perhiasan Terindah
Saudaraku, tabiat kita sebagai manusia pasti mencari yang terbaik diantara yang baik, yang terindah dari yang indah-indah. Perhiasan yang terindah pastilah menjadi idaman setiap manusia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam berikut ini:

O�U�O?U�U?U�U�USUZO� U�UZO?UZO�O?U?O? U?UZO�UZUSU�O�U? U�UZO?UZO�O?U? O�U�O?U�U?U�U�USUZO� O�U�U�U�U�UZO�U�O?UZO�U? O�U�O�U�UZO�U�U?U�O�UZO�U?

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-sebaik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. (HR Muslim, no. 1467)
Demi Allah, wanita shalihah jangan engkau bandingkan dengan emas dan permata, atau mutiara dan berlian, karena itu merupakan bentuk perbandingan yang sia-sia, lantaran yang diperbandingkan tiada pernah serupa. Wanita shalihah menghiasi hidupmu dengan akhlak dan budinya, mengisi rumahmu dengan perabotan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Tersenyum di hadapanmu dengan ketulusan hati, hadir di sisimu dengan kelembutan jiwa.
Saudaraku, semoga engkau segera merasakan keindahan berkeluarga di bawah naungan tuntunan Allah Azza wa Jalla dan petunjuk Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam; sehingga kebahagiaan dan ketenangan pun berada dalam genggaman tanganmu dan menembus relung hatimu. Wallahu a’lam.
 
 
Sumber: dari Majalah As-Sunnah_Baituna ed 5 1434 H/2013, Penulis Ustadz Sanusin Muhammad YusufA�hafidzahullah
 
 

READ MORE
Chat bersama kami