Info Sehat

Hindari Kekurangan Gizi Akibat Stress

Oleh: dr.A�Dewi Asrini
 
Stres dan gizi adalah dua hal yang saling berhubungan timbal-balik dan saling mempengaruhi. Stres akan merangsang peningkatan hormon adrenalin secara berlebihan dan menyebabkan jantung berdebar cepat. Produksi hormon adrenalin ini membutuhkan zat-zat gizi seperti vitamin B, mineral zinc, kalium dan kalsium. Stres yang berkepanjangan membuat zat-zat gizi tersebut semakin terkuras. Sementara itu penurunan gizi juga ikut memperparah stress hingga menyebabkan kondisi kejiwaan melemah. Karenanya sangat penting bagi seseorang dalam menjaga gizinya dapat meminimalkan kondisi stres itu sendiri.
Stres membuat laju pengunaan vitamin C dalam tubuh meningkat. Stres juga merusak kelenjar timus yang memproduksi sel darah putih sehingga kekebalan tubuh akan menurun.
Salah besar bila kegiatan merokok dianggap sebagai sesuatu yang dapat menenangkan suasana hati yang sedang gundah. Kenyataannya, mengkonsumsi rokok dapat mengakibatkan berkurangnya vitamin C yang bermanfaat bagi tubuh. Sebaiknya hindarilah rokok karena tubuh semakin tidak efisien memanfaatkan zat gizi.
Sama seperti merokok, meminum alkohol sebagaiA� pelampiasan stres justru akan memperparah kondisi tubuh. Alkohol bersifat diuretik yang memicu pengeluaran zat gizi melalui air seni sehingga menimbulkan defisiensi (kekurangan) vitamin B, C, kalsium, kalium, zinc, dan magnesium. Alkohol juga akan menurunkan nafsu makan sehingga tubuh terhalang untuk memperoleh asupan konsumsi gizi seimbang.
Stres akan mengganggu efektifitas kerja melatonin, yaitu subtansi kimiawi yang dihasilkan oleh kelenjar otak yang mengatur jam tidur seseorang.A� Ketika hari mulai malam maka dimulailah proses produksi melatonin dalam tubuh. Sehingga mata mulai mengantuk, kesiagaan berkurang, pencernaan melambat, dan tekanan darah turun. Disaat inilah tubuh memerlukan istirahat, dan keesokan harinya kita akan kembali terjaga dan siap untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Melatonin selain berfungsi sebagai jam alamiah bagi tubuh dan juga bermanfaat sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas. Orang-orang yang hidupnya selalu dilanda stres menyebabkan melatonin tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga tidak heran bila proses penuaan dini lebih cepat mendera orang stres.
Untuk meminimalkan/mengantisipasi kehilangan/kekurangan gizi, khususnya vitamin dan mineral maka sebaiknya kita perhatikan makanan yang kaya akan nutrisi anti stres seperti yang terdapat dalam tabel berikut:
 

Vitamin / MineralBahan Makanan

Vitamin B1

Riboflavin

Niacin

Vitamin B12

Vitamin C

Kalsium

Seng

Magnesium

Daging, sereal

Susu, daging, ikan

Daging, ikan, telur, kacang-kacangan

Hati, daging, susu, ikan laut

Tomat, mangga, jeruk, sayuran hijau

Sarden, susu, teri

Daging, seafood, buncis

READ MORE
Da'wah

Menghilangkan Kegelisahan

Dunia yang fana ini, diwarnai dengan duka, nestapa dan keresahan. Manusia harus menapaki perjalanan terjal kehidupan dunia, sehingga penuh keluh, kesah dan resah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

(O?U?U�U�UZ O�U�O?U�U�O?UZO�U�UZ O�U?U�U?U�UZ U�UZU�U?U?O?U�O� (U?U�) O?U?O�UZO� U�UZO?U�UZU�U? O�U�O?U�UZO�U�U? O�UZO?U?U?O?U�O� (U?U�) U?UZO?U?O�UZO� U�UZO?U�UZU�U? O�U�U�O�UZUSU�O�U? U�UZU�U?U?O?U�O� (U?U?

a�?Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikira�? (QS. Al-Maa��arij 70/ : 19)
Perasaan resah dan khawatir memang sudah ada semenjak manusia ada. Ia sudah menjadi naluri setiap manusia. Namun tampaknya, sering dengan majunya teknologi, justru itu membuat grafik keresahan semakin meningkat. Terutama perasaan takut menyongsong masa depan yang tentunya masih kabur. Banyak manusia yang merasa pesimis dan takut akan masa depannya.
Itulah realita keadaan manusia. Rasa takut, resah, tidak bisa bersabar, tidak mau berbagi, memang melekat pada diri manusia. Dan manusia akan selalu dihantui oleh berbagai perasaan ini. Bahkan sebagai pelampiasannya, ada praktik-praktik yang diharamkan. Termasuk mendatangi para dukun, paranormal atau mempercayai ramalan zodiak, guna meraih ketenangan dan mengetahui nasib di masa depan. Wal a�?iyadzu billah. Namun bagi yang mau mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Taa��ala, ia tidak akan sengsara. Ia tidak akan larut dalam keresahan.

U?UZU�UZU�U? O�O?U�UZO?UZO?UZ U�U?O?UZO�USUZ U?UZU�UZO� USUZO�U?U�U�U? U?UZU�UZO� USUZO?U�U�UZU�

Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (QS. Thaha 20/ :123)
 
Sebenarnya, rasa gelisah dan khawatir yang sifatnya nalurilah ini, ada yang tergolong baik dan terpuji, ada pula yang tercela. Bila keresahan ini disebabkan hal-hal yang baik, maka inilah yang seharusnya hadir dalam diri seorang Muslim. Misalnya resah karena khawatir ada kewajiban yang belum ia menunaikan. Seperti halnya Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam yang pernah shalat Ashar, lalu bergegas-gegas sampai melangkahi orang-orang menuju kamar salah seorang istri Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam. Sampai-sampai orang-orang pun merasa takut dan khawatir melihat betapa Rasul terburu-buru. Hingga Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam keluar a�? menemui Sahabatnya yang terperanjat menyaksikan Rasul. Lalu Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): a�?Aku teringat ada emas pada kami, dan aku khawatir emas tersebut menghalangiku (dari bertawajjuh menghadap-Nya). Lalu akupun menyuruh untuk membahagiakannyaa�? (HR.Al-Bukhari)
Ataupun resah karena ada hak Allah Azza wa Jalla yang tidak ia jalankan dengan baik. Inipun keresahan yang positif. Termasuk juga resah karena khawatir, apakah amalan yang telah dilakukan diterima Allah Subhanahu wa Taa��ala ataukah tidak? Allah Subhanahu wa Taa��ala berfirman:

U?UZO�U�U�UZO�U?USU�UZ USU?O�U�O?U?U?U�UZ U�UZO� O?O?UZU?U�O� U?UZU�U?U�U?U?O?U?U�U?U�U� U?UZO�U?U�UZO�U? O?UZU�U�UZU�U?U�U� O?U?U�UZU�U� O�UZO?U�U?U�U?U�U� O�UZO�O�U?O?U?U?U�UZ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS. Al-Mua��minun 23/ :60)
Mereka yang mendapat pujian Allah Azza wa Jalla ini, bukanlah orang yang bergelimang maksiat. Namun mereka adalah orang yang melakukan ketaatan, namun mereka khawatir kalau-kalau amalan mereka ditolak.
Adapun keresahan yang tercela adalah bila disebabkan urusan dunia dan kemaksiatan. Ia khawatir kalau rezekinya akan seret kalau banyak anak. Seolah ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu wa Taa��ala yang menanggung rezeki para hamba-Nya. Atau resah karena ada luapan nafsunya yang belum bisa ia wujudkan. Ini semua adalah keresahan yang tercela.
Ketika kesusahan menimpa Muslim, ia punya iman yang membuat dirinya berlaku tenang dan sabar. Dan hal terbesar yang ada pada dirinya adalah tauhid. Semakin kuat seorang hamba dalam mentauhidkan Allah Subhanahu wa Taa��ala, maka rasa aman dan nyaman dalam dirinya pun semakin besar.
Inipun bisa dilihat dari doa orang yang dikenai kesusahan. Begitu jelas tauhid tersurat kuat dalam doa tersebut.

O�U�U�U�UZU�U?U�U�UZ O�UZO�U�U�UZO?UZU?UZ O?UZO�U�O�U?U? U?UZU�UZO� O?UZU?U?U�U�U�U?US O?U?U�UZU� U�UZU?U�O?U?US O�UZO�U�U?UZO�UZ O?UZUSU�U�U? O?UZO�U�U�U?O�U� U�U?US O?UZO?U�U�U?US U?U?U�U�UZU�U? U�UZO� O?U?U�UZU�UZ O?U?U�U�UZO� O?UZU�U�O?UZ

a�?Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud)
Inilah doa Nabi Yunus a�?alaihis sallam yang membuat beliau aman di dalam perut ikan di tengah kegelapan yang berlapis-lapis.

U�O�UZ O?U?U�UZU�UZ O?U?U�O�UZU� O?UZU�O?UZ O?U?O?U�O�UZO�U�UZU?UZ O?U?U�U?U�US U?U?U�U�O?U? U�U?U�UZ O�U�O?UZU�O�U�U?U�U?USU�UZ

Tisak ada Ilah yang berhak disembah diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Sesunggunya aku termasuk orang yang zhalim.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata,
a�?Barangsiapa meneguhkan hatinya pada Rabbnya, ia akan tenang dan merasa nyaman. Namun barangsiapa melepaskan hatinya mengharap pada manusia, ia pun akan merasa galau dan dirundung kecemasan.a�?
Iman kepada qadha dan qadar juga menghapuskan keresahan dan memupuk sikap optimis. Bila seseorang telah yakin bahwa apa yang telah Allah Azza wa Jalla tentukan pasti terjadi, lalu untuk apa kita didera resah? Dengan demikian kita tidak larut di bawa suasana.
Tidak tertawan menuruti dunia, inipun juga obat menghilangkan keresahan. Orientasi terbesar seorang Muslim adalah kebahagiannya di akhirat. Dunia bukanlah obsesinya dan bukan prioritas utamanya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:
a�?Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah pasti akan menjadikan kekayaannya ada di hatinya, Allah akan menghimpunkan urusannya yang berserak, dan dunia pun akan mendatanginya dengan hina. Sedangkan orang yang dunia menjadi obsesinya, Allah Azza wa Jalla jadikan kefakiran di depan matanya, Allah ceraikan urusannya, dan duniapun tidak datang kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.a�? (HR. At-Tirmidzi).
 
Diantara piranti utama dalam menghilangkan keresahan yaitu dzikir dan shalat. Dengan shalat yang khusyuk, seseorang akan menemukan kesejukan hati. Rasul shallallahu a�?alaihi wa sallam telah menjadi tauladan istimewa dalam hal ini. Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam mengatakan:

U?UZO�U?O?U?U�UZO?U� U�U?O�U�UZO�U? O?UZUSU�U�U?US U?U?US O�U�O�U�UZU�UZO�O�U?

a�?Dan dijadikan kesejukan pandanganku ada di dalam shalata�?. (HR. An-Nasa-i, Ahmad)
Dan bila ditimpa hal berat, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bergegas untuk shalat. Ini merupakan terapi yang begitu agung. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan meninggalkan hamba-Nya bila ia mau tetap bersimpuh dan berlindung kepada-Nya.
Juga menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, dengan shalat malam, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla , menumpahkan segala keluh kesah kepada-Nya, ini semua akan membuahkan manisnya hati dan semakin menambah keimanan. Segala yang menimpa pun telah diketahuinya, bahwa itu semua telah tertulis di sisi Allah Azza wa Jalla . Sehingga keresahan hati pun menjadi hilang.
Begitu pula dengan dzikir. Ia akan membuat hati menjadi tentram dan nyaman. Hidupnya hati adalah dengan berdzikir kepada Allah Azza waA� Jalla . Hatinya ia tautkan kepada Allah. Dengan dzikir hatipun menjadi tenang, dada yang takut menjadi nyaman. Bagaimana tidak, sedangkan hatinya bertaut pada Penciptanya, merasa aman di bawah lindungan-Nya. Keresahan pun enyah dari hatinya. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : a�?Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu diantara orang-orang yang bersujud (shalat)a�? (QS. Al-Hijr 15/ :97-98)
 
Semoga kita semua bisa meniti jalan yang diridhai Allah, sehingga obsesi hati kita pun hanya kepada Allah Taa��ala semata. Dan kala itu, hilanglah segala resah dan gundah.
 
Sumber:A�Majalah As-Sunnah 06, 1437H/ 2016M

READ MORE
Da'wah

Kriteria-Kriteria Memilih Wanita Idaman

Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Ini sangat perlu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga si pria tidak salah dalam memilih. Begitu juga kriteria ini dimaksudkan agar si wanita bisa selalu introspeksi diri. Semoga bermanfaat.
Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus
Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam katakan,

U�UZU�U� O?UZO?UZU� O?UZO�U�UZO�U?U�O� U?UZO?UZO?UZU�UZU�U? O?UZU�U� O?UZU�U�O?U? U�UZU�U� O?U?U�U�O?UZU�U� U�UZU�U? O�UZU�O�UZO�U? O?UZO�U�O?UZO?U?USU�UZ U�UZUSU�U�UZO�U�

a�?Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.a�? (HR. MuslimA� no. 2230 dari Shofiyah, dari sebagian istri Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam.)
Jika sampai membenarkan ramalan tersebut, lebih parah lagi akibatnya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U�UZU�U� O?UZO?UZU� U?UZO�U�U?U�O�U� O?UZU?U� O?UZO�U�UZO�U?O�U� U?UZO�UZO?U�UZU�UZU�U? O?U?U�UZO� USUZU�U?U?U�U? U?UZU�UZO?U� U?UZU?UZO�UZ O?U?U�UZO� O?U?U�U�O?U?U�UZ O?UZU�UZU� U�U?O�UZU�U�UZO?U?

a�?Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qura��an yang diturunkan pada Muhammad.a�? (HR. Ahmad 2/492. Syaikh Syua��aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.)
Begitu pula ia paham tentang hukum-hukum Islam yang berkenaan dengan dirinya dan juga untuk mengurus keluarga nantinya.
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam juga memerintahkan seorang pria untuk memilih perempuan yang baik agamanya. Beliau bersabda,

O?U?U�U�U?UZO�U? O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�U? U�O?UZO�U�O?UZO?U? U�U?U�UZO�U�U?U�UZO� U?UZU�U?O�UZO?UZO?U?U�UZO� U?UZO�UZU�UZO�U�U?U�UZO� U?UZU�U?O?U?USU�U?U�UZO� O? U?UZO�O?U�U?UZO�U� O?U?O�UZO�O?U? O�U�O?U�U?USU�U? O?UZO�U?O?UZO?U� USUZO?UZO�U?UZ

a�?Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugia�?. (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah.)
 
Perhatikanlah kisah berikut yang menunjukkan keberuntungan seseorang yang memilih wanita karena agamanya.
Yahya bin Yahya an Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata, a�?Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah -yaitu istrinya sendiri-. Aku adalah orang yang hina di hadapannyaa�?. Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, a�?Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?a�?. a�?Benar, wahai Abu Muhammada�?, tegas orang tersebut. Ibnu Uyainah berkata,

U�UZU�U� O�UZU�UZO?UZ O?U?U�U�UZ O�U�O?U?O?U�U? O�U?O?U�O?U?U�U?USUZ O?U?O�U�O�U�UZU�U�U? U?UZU�UZU�U� O�UZU�UZO?UZ O?U?U�UZU� O�U�U�O�UZU�U? O�U?O?U�O?U?U�U?USUZ O?U?O�U�U?UZU�U�O�U? U?UZU�UZU�U� O�UZU�UZO?UZ O?U?U�U�UZ O�U�O?U�U?USU�U�U? USUZO�U�U�UZO?U? O�U�U�U�U? U�UZU�U? O�U�O?U?O?U�UZ U?UZO�U�U�O�UZU�UZ U�UZO?UZ O�U�O?U�U?USU�U�U?

a�?Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agamaa�?.
Kemudian beliau mulai bercerita, a�?Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imron, Ibrahim dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imron adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah. Ketika Muhammad hendak menikah, dia berorientasi pada kehormatan. Dia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada dirinya. Pada akhirnya dia jadi orang yang hina. Sedangkan Imron ketika menikah berorientasi pada harta. Karenanya dia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya dia menjadi orang miskin. Keluarga istrinya merebut semua harta yang dia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikitpun. Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini.
Tak disangka suatu hari Maa��mar bin Rasyid datang. Kau lantas bermusyawarah dengannya. Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Maa��mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Jaa��dah dan hadits Aisyah. Hadits dari Yahya bin jaa��dah adalah sabda Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam, a�?Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugia�? (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu kuputuskan untuk menikah karena faktor agama dan agar beban lebih ringan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam. Di luar dugaan Allah kumpulkan untukku kehormatan dan harta di samping agama. (Tahdzib al Kamal, 11/194-195, Asy Syamilah.)
Inilah kriteria wanita idaman yang patut diperhatikan pertama kali a��yaitu baiknya agama- sebelum kriteria lainnya, sebelum kecantikan, martabat dan harta.
 
Kriteria Kedua: Selalu Menjaga Aurat

Kriteria ini pun harus ada dan jadi pilihan. Namun sayangnya sebagian pria malah menginginkan wanita yang buka-buka aurat dan seksi. Benarlah, laki-laki yang jelek memang menginginkan wanita yang jelek pula.
Ingatlah, sangat bahaya jika seorang wanita yang berpakaian namun telanjang dijadikan pilihan. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O�U?U�U�U?UZO�U�U? U�U?U�U� O?UZU�U�U�U? O�U�U�U�UZO�O�U? U�UZU�U� O?UZO�UZU�U?U�UZO� U�UZU?U�U�U? U�UZO?UZU�U?U�U� O?U?USUZO�O�U? U?UZO?UZO�U�U�UZO�O?U? O�U�U�O?UZU�UZO�U? USUZO�U�O�U?O?U?U?U�UZ O?U?U�UZO� O�U�U�U�UZO�O?UZ U?UZU�U?O?UZO�O?U? U?UZO�O?U?USUZO�O?U? O?UZO�O�U?USUZO�O?U? U�U?U�U?USU�O�UZO?U? U�UZO�O�U?U�O�UZO?U? O�U?O?U?U?O?U?U�U?U�U�UZ U?UZO?UZO?U�U�U?U�UZO�U? O�U�U�O?U?O�U�O?U? O�U�U�U�UZO�O�U?U�UZO�U? U�O�UZ USUZO?U�O�U?U�U�U�UZ O�U�U�O�UZU�U�UZO�UZ U?UZU�O�UZ USUZO�U?O?U�U�UZ O�U?USO�UZU�UZO� U?UZO?U?U�U�UZ O�U?USO�UZU�UZO� U�UZUSU?U?O�UZO?U? U�U?U�U� U�UZO?U?USO�UZO�U? U?UZO�UZO� U?UZU?UZO�UZO�

a�?Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.a�? (HR. Muslim no. 2128, dari Abu Hurairah.)
Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah:

  1. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
  1. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Al Minhaj Syarh Sahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/190-191, Dar Ihyaa�� At Turtos, cetakan kedua)

Sedangkan aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Allah Taa��ala berfirman,

USUZO� O?UZUSU�U?U�UZO� O�U�U�U�UZO?U?USU�U? U�U?U�U� U�U?O?UZO?U�U?UZO�O�U?U?UZ U?UZO?UZU�UZO�O?U?U?UZ U?UZU�U?O?UZO�O?U? O�U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?USU�UZ USU?O?U�U�U?USU�UZ O?UZU�UZUSU�U�U?U�U�UZ U�U?U�U� O�UZU�UZO�O?U?USO?U?U�U?U�U�UZ O�UZU�U?U?UZ O?UZO?U�U�UZU� O?UZU�U� USU?O?U�O�UZU?U�U�UZ U?UZU�UZO� USU?O�U�O�UZUSU�U�UZ U?UZU?UZO�U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O?UZU?U?U?O�U�O� O�UZO�U?USU�U�O�

a�?Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mua��min: a�?Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnyaA� ke seluruh tubuh merekaa�?. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33/ : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Taa��ala juga berfirman,

U?UZU�U?U�U� U�U?U�U�U�U?O�U�U�U?U�UZO�O?U? USUZO?U�O�U?O�U�U�UZ U�U?U�U� O?UZO?U�O�UZO�O�U?U�U?U�U�UZ U?UZUSUZO�U�U?UZO?U�U�UZ U?U?O�U?U?O�UZU�U?U�U�UZ U?UZU�UZO� USU?O?U�O?U?USU�UZ O?U?USU�UZO?UZU�U?U�U�UZ O?U?U�U�UZO� U�UZO� O?UZU�UZO�UZ U�U?U�U�U�UZO�

a�?Katakanlah kepada wanita yang beriman: a�?Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.a�? (QS. An Nuur 24/ : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Athoa�� bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. Lihat (Jilbab Al Mara��ah Al Muslimah, Amru Abdul Muna��im, hal. 14.)
A�
Kriteria Ketiga: Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syara��i
Wanita yang menjadi idaman juga sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qura��an dan As Sunnah.
Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Taa��ala berfirman,

U?UZU�UZO�U�U�UZ U?U?US O?U?USU?U?O?U?U?U?U�U�UZ U?UZU�UZO� O?UZO?UZO�U�UZO�U�U�UZ O?UZO?UZO�U�U?O�UZ O�U�U�O�UZO�U�U?U�U?USU�UZO�U? O�U�U�O?U?U?U�UZU�

a�?Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.a�? (QS. Al Ahzab : 33). Abu a�?Ubaidah mengatakan, a�?Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.a�? Az Zujaj mengatakan, a�?Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.a�? (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqia�� Al Islam.)
Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Syarat keempat:A� Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asya��ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?UZUSU�U?U�UZO� O�U�U�O�UZO?UZO�U? O�O?U�O?UZO?U�O�UZO�UZO?U� U?UZU�UZO�U�UZO?U� O?UZU�UZU� U�UZU?U�U�U? U�U?USUZO�U?O?U?U?O� U�U?U�U� O�U?USO�U?U�UZO� U?UZU�U?USUZ O?UZO�U�U?USUZO�U?

a�?Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.a�? (HR. An Nasaa��i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jamia�� no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih.)
Dari Yahya bin Jaa��dah, a�?Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,
O?O�O�O�U� U�O?O�USO?O�O? U?USO�O? O�U�O�O�O�U� O�USO�U?U� U?O?U�U�O� U�U�U?O? O�U�O�O�O�U� O?U�O? O?U�U?U?U�U� O�O�O�O�U� O?U?U�O�O?
a�?Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangiana�? (HR Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107.)
Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

U�U? O?O?U�U� O?USO?U?U� U�US U�U?O?U�O? U?U�U?O?U�O? U�O?O�USO? O?O�O?O�U?U� U�O?U?O�U�O� U?O?O�O� O�O�O�O? U�O?O?O? O?O�U�O�O� U?U�USO?O?U�O�

a�?Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuana�?. Ibrahim mengatakan, a�?Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)a�? (Riwayat Abdur Razaq no 8118.)
Syarat kelima: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu a�?anhu berkata,

U�UZO?UZU�UZ O�U�U�U�UZO?U?U�U�U? a�� O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U� a�� O�U�U�U�U?O�UZU�U�UZO�U?USU�UZ U�U?U�UZ O�U�O�U�U?O�UZO�U�U? O? U?UZO�U�U�U�U?O?UZO�UZO�U�U?U�O�UZO?U? U�U?U�UZ O�U�U�U�U?O?UZO�O?U?

a�?Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.a�? (HR. Bukhari no. 6834.)
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam juga bersabda,

U�UZU�U� O?UZO?UZO?U�UZU�UZ O?U?U�UZU?U�U�U? U?UZU�U?U?UZ U�U?U�U�U�U?U�U�

a�?Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari merekaa�?. (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidhoa�� mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus.)
Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.
 
Kriteria keempat: Betah Tinggal di Rumah
Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Taa��ala berfirman,

U?UZU�UZO�U�U�UZ U?U?US O?U?USU?U?O?U?U?U?U�U�UZ U?UZU�UZO� O?UZO?UZO�U�UZO�U�U�UZ O?UZO?UZO�U�U?O�UZ O�U�U�O�UZO�U�U?U�U?USU�UZO�U? O�U�U�O?U?U?U�UZU�

a�?Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulua�? (QS. Al Ahzab: 33)
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, a�?Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhana�?. (Tafsir Al Qura��an Al a�?Azhim, 11/150.)
Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, a�?Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain)?a�? Jawaban beliau, a�?Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumaha�?. Perawi mengatakan, a�?Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkana�?. Sungguh moga Allah ridha kepadanya.
Ibnul a�?Arabi bercerita, a�?Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnyaa�?. (Tafsir al Qurthubi ketika menjelaskan al Ahzab:33.)
Dari Abdullah, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�UZ O?UZU?U�O�UZO�U?O? U?UZO?U?U�U�UZU�UZO� O?U?O�UZO� O�UZO�UZO�UZO?U� U�U?U�U� O?UZUSU�O?U?U�UZO� O�O?U�O?UZO?U�O�UZU?UZU�UZO� O�U�O?U�UZUSU�O�UZO�U�U? U?UZO?UZU�U?U?U�U?: U�UZO� O�UZO?U�U?US O?UZO�UZO?U? O?U?U�O� O?UZO?U�O�UZO?U�O?U?U�U?O? U?UZO?UZU�U�O�UZO?U? U�UZO� O?UZU?U?U?U�U? O?U?U�UZU� O�U�U�U�UZU�U? O?U?O�UZO� U?UZO�U�UZO?U� U?U?US U�UZO?U�O�U? O?UZUSU�O?U?U�UZO�

a�?Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnyaa�?. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.)
 
Kriteria Kelima: Memiliki Sifat Malu
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O�U�U�O�UZUSUZO�O?U? U�O�UZ USUZO?U�O?U?U� O?U?U�O�U�UZ O?U?O�UZUSU�O�U?

a�?Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.a�? (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari a�?Imron bin Hushain.)
Kriteria ini juga semestinya ada pada wanita idaman. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa a�?alaihis salam. Allah Taa��ala berfirman,

U?UZU�UZU�U�UZO� U?UZO�UZO?UZ U�UZO�O?UZ U�UZO?U�USUZU�UZ U?UZO�UZO?UZ O?UZU�UZUSU�U�U? O?U?U�U�UZO�U� U�U?U�UZ O�U�U�U�UZO�O?U? USUZO?U�U�U?U?U�UZ U?UZU?UZO�UZO?UZ U�U?U�U� O?U?U?U�U?U�U?U�U? O�U�U�O�UZO?O?UZUSU�U�U? O?UZO�U?U?O?UZO�U�U? U�UZO�U�UZ U�UZO� O�UZO�U�O?U?U?U?U�UZO� U�UZO�U�UZO?UZO� U�UZO� U�UZO?U�U�U?US O�UZO?U�UZU� USU?O�U�O?U?O�UZ O�U�O�U�U?O?UZO�O?U? U?UZO?UZO?U?U?U�UZO� O?UZUSU�O�U? U?UZO?U?USO�U? (23) U?UZO?UZU�UZU� U�UZU�U?U�UZO� O�U?U�U�UZ O?UZU?UZU�U�UZU� O?U?U�UZU� O�U�O?U�U?U�U�U? U?UZU�UZO�U�UZ O�UZO?U�U? O?U?U�U�U?US U�U?U�UZO� O?UZU�U�O?UZU�U�O?UZ O?U?U�UZUSU�UZ U�U?U�U� O�UZUSU�O�U? U?UZU�U?USO�U? (24)

a�?Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: a�?Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?a�? Kedua wanita itu menjawab: a�?Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnyaa�?. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.a�? (QS. Qashash : 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa a�?alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,

U?UZO�UZO�O?UZO?U�U�U? O?U?O�U�O?UZO�U�U?U�UZO� O?UZU�U�O?U?US O?UZU�UZU� O�O?U�O?U?O�U�USUZO�O?U? U�UZO�U�UZO?U� O?U?U�U�UZ O?UZO?U?US USUZO?U�O?U?U?U?UZ U�U?USUZO�U�O?U?USUZU?UZ O?UZO�U�O�UZ U�UZO� O?UZU�UZUSU�O?UZ U�UZU�UZO�

a�?Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, a�?Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.a�?a�? (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia ini, menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar bin Khoththob radiyallahu a�?anhu mengatakan, a�?Gadis itu menemui Musa a�?alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.a�? Sanad riwayat ini shahih. (Lihat Tafsir Al Qura��an Al a�?Azhim, 10/451.)
Kisah ini menunjukkan bahwa seharusnya wanita selalu memiliki sifat malu ketika bergaul dengan lawan jenis, ketika berbicara dengan mereka dan ketika berpakaian.
Demikianlah kriteria wanita yang semestinya jadi idaman. Namun kriteria ini baru sebagian saja. Akan tetapi, kriteria ini semestinya yang dijadikan prioritas.
 
Intinya, jika seorang pria ingin mendapatkan wanita idaman, itu semua kembali pada dirinya. Ingatlah: a�?Wanita yang baik untuk laki-laki yang baika�?. Jadi, hendaklah seorang pria mengoreksi diri pula, sudahkah dia menjadi pria idaman, niscaya wanita yang ia idam-idamkan di atas insya Allah menjadi pendampingnya. Inilah kaedah umum yang mesti diperhatikan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
 
Sumber: rumaysho.com

READ MORE
Da'wah

Terbetik a�?Rasaa�? Saat Melihat Wanita Non Mahram

Dalam aturan syariat, wanita seharusnya berdiam di rumahnya. Ia tidak keluar rumah kecuali karena kebutuhan yang syara��i. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

U?UZU�UZO�U�U�UZ U?U?US O?U?USU?U?O?U?U?U?U�U�UZ

a�?Dan Hendaklah Kalian tetap tinggal di rumah-rumah kaliana��.a�?
Walaupun yang diajak bicara dalam ayat di atas adalah istri-istri Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam, hukum yang disebutkan dalam ayat tidak khusus bagi mereka, tetapi berlaku pula bagi wanita-wanita selain mereka.
Namun, di zaman sekarang banyak wanita yang melepaskan diri dari aturan illahi ini tanpa rasa takut dan rasa berdosa. Bisa jadi, mereka melakukannya karena tidak tahu, bisa jadi pula tahu namun tidak peduli.
Akhirnya, begitu mudah didapatkan wanita bertebaran di luar rumahnya, memenuhi jalanan, pertokoan, perkantoran, tempat-tempat keramaian, dan sebagainya. Akibatnya, mau tidak mau lelaki yang paling bertakwa sekalipun akan sering berpapasan dengan wanita. Bisa jadi, secara tidak sengaja pandangan matanya jatuh kepada si wanita. Pandangan pertama yang tanpa disengaja tersebut harus segera dipalingkan, tidak boleh disusul dengan pandangan yang berikutnya, karena itu adalah panah-panah iblis.
Apabila terbetik syahwat dalam jiwanya gara-gara melihat si wanita, RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam memberikan bimbingan dalam hadits berikut ini. Jabir radhiyallahu a�?anhu berkata,
RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam melihat wanita, maka beliau memandang istri beliau, Zainab, yang sedang menyamak kulit, lalu menunaikan “kebutuhan” beliau. setelah itu beliau keluar menemui sahabatnya dan bersabda, “sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Apabila salah seorang dari kalian melihat wanita (lalu terbesit sesuatu dalam jiwanya), hendaklah dia ‘mendatangi’ istrinya, karena hal itu akan menolak apa yang ada (terbesit) dalam jiwanya.” (HR. Muslim no. 3393)
Riwayat lain lebih menjelaskan maksud hadits di atas. RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam menyatakan,
“Apabila salah seorang kalian mengagumi wanita A�(yang dilihatnya) lalu terbesit ‘rasa’ dalam kalbunya, hendaknyalah dia menuju istrinya untuk menggaulinya, karena hal itu akan menolak apa yang ada dalam jiwanya.” (HR. Muslim no. 3394)
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, makna hadits ini adalah disenangi bagi seorang lelaki (yang tidak sengaja) melihat wanita hingga tergerak syahwatnya, untuk mendatangi istrinya atau budak perempuannya apabila dia memiliki budak lalu menggaulinya agar terendam syahwatnya (terpenuhi hasratnya) dan tenang jiwanya, serta kalbunya kembali terkumpul pada apa yang sebelumnya hendak dilakukannya.
Ulama berkata tentang makna ucapan RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam bentuk setan dan mebmblakangi dalam bentuk setan.”
Ini adalah isyarat tentnag hawa nafsu, ajakan untuk terperdaya oleh wanita. Sebab, AllahA�Subhanahu wa Ta’ala memang menjadikan jiwa para lelaki memiliki kecondongan kepada wanita (lelaki senang dengan wanita), merasa nikmat memandang wanita dan apa yang berkaitan dengannya. Wanita serupa dengan setan dalam hal ajakan kepada kejelekan dengan waswas yang dilemparkannya dan menghias-hiasi kejelekan. Dari sini diambil hukum atau aturan bahwa sepantasnya wanita tidak keluar diantara para lelaki kecuali karena kebutuhan yang sangat mendesak. Selain itu, semestinya lelaki menundukkan pandangan dari melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita A�(apalagi melihat sososk/wajahnya), dan berpaling sama sekali dari melihat wanita.
Hadits ini juga menunjukkan, tidak apa-apa bagi seorang suami meminta jima’ (berkumpul) dengan istrinya di siang hari atau waktu selainnya, walaupun istrinya sedang sedang sibuk atau repot dengan sesuatu yang bisa ditinggalkan. Sebab, apabila syahwat lelaki sedang menggelora tidak segera tertunaikan, terkadang akan memudaratkan tubuh, kalbu, atau penglihatannya. Wallahu a’lam. (al-Minhaj, 9/181-182)
 
Sumber: MajalahA�Asy syariah No.95 / VIII / 1434H /2013

READ MORE
Da'wah

Nasehat Tentang Para Pemuda

Pemuda adalah sendi umat dan generasi masa depan. Dari merekalah umat ini terbangun. Dari mereka pula terlahir para Ulama dan kaum intelek, juga para mujahid serta dari mereka pula tumbuh kaum industriawan dan para pakarnya. Apabila para pemuda ini, maka para orang tua akan merasa bahagia dalam hidup ini serta akan terus merasakan manfaatnya meskipun dia sudah meninggal. Para generasi yang shalih yang menyusul orang tua mereka jika orang tua masuk surga. AllahA� Azza wa JallaA� berfirman:

U?UZO�U�U�UZO�U?USU�UZ O?U�UZU�U?U?O� U?UZO�O?U�UZO?UZO?UZO?U�U�U?U�U� O�U?O�U?U�USU�UZO?U?U�U?U�U� O?U?O?U?USU�UZO�U�U? O?UZU�U�O�UZU�U�U�UZO� O?U?U�U?U�U� O�U?O�U?U�USU�UZO?UZU�U?U�U� U?UZU�UZO� O?UZU�UZO?U�U�UZO�U�U?U�U� U�U?U�U� O?UZU�UZU�U?U�U?U�U� U�U?U�U� O?UZUSU�O?U?

a�?Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka; dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal merekaa�? (QS.Ath-Thur 52/ :21)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

O�UZU�U�UZO�O?U? O?UZO?U�U�U? USUZO?U�O�U?U�U?U?U�UZU�UZO� U?UZU�UZU�U� O�UZU�UZO�UZ U�U?U�U� O?O?UZO�O�U?U�U?U�U� U?UZO?UZO?U�U?UZO�O�U?U�U?U�U� U?UZO�U?O�U?U�USU�UZO�O?U?U�U?U�U�

a�?(yaitu) surga a�?Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunyaa�? (QS.Ar-Ra’d 13/ :23)
 
Bertolak dari hal ini, kita dapati perhatian para Nabi mengarah kepada anak keturunan mereka sebelum anak cucu mereka tercipta. Lihatlah Nabi Ibrahim a�?alahis sallam berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan berkata:
A�A�A�

O�UZO?U?U� O�O�U�O?UZU�U�U�U?US U�U?U�U?USU�UZ O�U�O�U�UZU�O�O�U? U?UZU�U?U�U� O�U?O�U?U�USU�UZO?U?US O�UZO?U�UZU�UZO� U?UZO?UZU�UZO?U�UZU�U� O?U?O?UZO�O?U?

a�?Wahai Rabbku! Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat! Wahai Rabb kami! Perkenankanlah doaku.a�? (QS. Ibrahim 14/ :40)
Lihat juga Nabi ZakariaA�a�?alahis sallam berkata:

U�U?U�UZO�U�U?U?UZ O?UZO?UZO� O?UZU?UZO�U?USU�UZO� O�UZO?U�UZU�U? U�UZO�U�UZ O�UZO?U?U� U�UZO?U� U�U?US U�U?U�U� U�UZO?U?U�U�U?UZ O�U?O�U?U�USU�UZO�U� O�UZUSU?U�O?UZO�U� O?U?U�U�UZU?UZ O?UZU�U?USO?U? O�U�O?U�U?O?UZO�O?U?

a�?Wahai Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doaa�? (QS.Ali lmran 3/ :38)
Juga salah seorang hamba yang shalih juga berkata:

O�UZO?U?U� O?UZU?U�O?U?O?U�U�U?US O?UZU�U� O?UZO?U�U?U?O�UZ U�U?O?U�U�UZO?UZU?UZ O�U�U�UZO?U?US O?UZU�U�O?UZU�U�O?UZ O?UZU�UZUSU�UZ U?UZO?UZU�UZU� U?UZO�U�U?O?UZUSU�UZ U?UZO?UZU�U� O?UZO?U�U�UZU�UZ O�UZO�U�U?O�U�O� O?UZO�U�O�UZO�U�U? U?UZO?UZO�U�U�U?O�U� U�U?US U?U?US O�U?O�U?U�USU�UZO?U?US

a�?Wahai Rabbku! Tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai! Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku,a�? (QS. al-Ahqaf 46/ :15)
 
Para as-salafusshalih terdahulu sangat memperhatikan anak-anak mereka sejak usia dini. Mereka mengajarkan dan membiasakan mereka berbuat baik dan menjauhkan mereka dari keburukan. Mereka juga memilihkan para pendidik yang shalih dan guru yang bijaksana lagi takwa untuk putra-putri mereka.
Nabi shallallahu a�?alahi wa sallam sendiri memerintahkan para orang tua untuk memulai pendidikan agama dan akhlak buat anak-anak mereka sejak usia dini yaitu sejak usia tamyiz. Nabi shallallahu a�?alahi wa sallam bersabda:

U�U?O�U?U?O� O?UZU?U�U�O�O?UZU?U?U�U� O?U?O�U�O�U�UZU�O�O�U? U�O?UZO?U�O?U? U?UZO�O�U�O�U?O?U?U?U�U?U�U� O?UZU�UZUSU�U�UZO� U�O?UZO?U�O�U? U?UZU?UZO�U�U?U�U?U?O� O?UZUSU�U�UZU�U?U�U� U?U?US O�U�U�U�U�UZO�UZO�O�U?O?U?

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat dalam usia tujuh tahun dan pukullah mereka jika meninggalkan shalat dalam usia sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka (antara laki dan perempuan)
 
Generasi pemuda suatu umat apabila rusak maka umat itu akan hancur dan akan dijajah oleh para musuhnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan eksistensi umat tersebut terancam punah.
Diantara yang menyesakkan hati dan membuat kita berurai air mata adalah pemandangan yang kita saksikan (atau berita yang kita dengar), dimana banyak pemuda Muslim sekarang ini yang memberontak pada orang tua mereka, berprilaku menyimpang dan agama mereka rusak. Mereka berkumpul dan nongkrong di jalan-jalan mulai dari sore hari sampai dini hari. Mereka banyak melakukan hal-hal yang sia-sia (balapan liar-red) dengan kendaraan-kendaraan sehingga mengganggu para pengguna jalan yang lain, membuat bising dan mengganggu masyarakat setempat serta membuat orang lain terancam bahaya. Yang lebih parah lagi adalah mereka meninggalkan shalat, bahkan mengganggu kaum Muslimin yang sedang menunaikan shalat di masjid. Berbagai keburukan dan kerusakan menyatu pada diri mereka dari berbagai arah, misalnya kecanduan rokok, narkoba, berprilaku buruk dan terjerumus dalam perbuatan keji.
Sungguh berat keburukan yang mereka lakukan dan sungguh besar bahaya yang ditimbulkan, bahkan mereka mulai berani mengancam orang yang berusaha menasehati atau mengingkari mereka.
 
Wahai kaum Muslimin! Sadarilah dan waspadailah ancaman bahaya ini. Berbuatlah sesuatu untuk mencegah dan menuntaskannya dengan sungguh-sungguh dan tekad kuat. Caranya yaitu semua pihak yang berwenang bahu membahu dengan peran masing-masing untuk mencegahnya dengan menggunakan wewenang penguasa dan hukuman yang membuat jera. Para orang tua berkewajiban menahan dan mencegah putra-putri mereka dari kebiasaan buruk tersebut; Para pendidik di sekolah-sekolah dan para imam di masjid-masjid berusaha mengarahkan dan membimbing para pemuda dan menjelaskan kepada mereka bahaya perkumpulan-perkumpulan buruk tersebut (gank) serta memperingatkan mereka agar tidak berteman dengan para penyeru kerusakan dan teman-teman jelek. Hendaknya penduduk kampung bekerjasama membubarkan perkumpulan tersebut dan menjauhkannya dari kampung mereka. Sedangkan untuk para pemuda yang shalih hendaknya ia menasehati teman sejawatnya, karena terkadang para pemuda lebih mudah menerima masukan dari pemuda yang sebaya daripada orang yang lebih tua. Tidak menutup kemungkinan, para musuh Islam memanfaatkan perkumpulan-perkumpulan (gank) yang rusak tersebut untuk merusak para pemuda Muslim karena mereka tahu keburukan yang akan muncul dari perkumpulan semacam ini.
 
Berapa banyak pemuda yang rusak akhlak dan hancur agamanya dengan sebab itu.
Berapa banyak pemuda mencelakai dirinya dan orang lain dengan sebab kegiatan sia-sia dengan kendaraan mereka.
Berapa banyak pemuda yang rusak akalnya dan berubah menyerupai wanita dalam prilaku sehingga menjadi sampah masyarakat dan merusak nama baik keluarga.
Semua itu disebabkan perkumpulan rusak dan pergaulan buruk tersebut.
Wahai orang tua, hendaknya kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla! Hendaknya kita menyadari bahwa kita sekarang ini pada zaman yang penuh dengan berbagai fitnah, kita hidup ditengah para musuh dan orang-orang yang selalu menyebarkan keburukan mereka ditengah kalian dengan jebakan halus nan licik.
Wahai para orang tua! Hendaknya kita selalu ingat dengan baik bahwa harta dan modal yang paling bermanfaat yang kalian dapatkan di dunia selain amalan shalih adalah anak-anak yang shalih. Dalam hadits dari Nabi shallallahu a�?alahi wa sallam:

O?U?O�UZO� U�UZO�O?UZ O�O?U�U�U? O?O?UZU�UZ O�U�U�U�UZO�UZO?UZ O?UZU�UZU�U?U�U? O?U?U�O�U�UZ U�U?U�U� O�UZU�O�UZO�U?: O�UZO?UZU�UZO�U? O�UZO�O�U?USUZO�U? U?UZO?U?U�U�U�U? USUZU�U�O?UZU?UZO?U? O?U?U�U? U?UZU?UZU�UZO?U? O�UZO�U�U?O�U? USUZO?U�O?U?U?U�U�UZU�U?

Apabila anak Adam (manusia) mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga; sedekah jariyah, ilmu yang manfaat dan anak shalih yang mendoakannya.
Sungguh anak-anak kita adalah orang yang akan mengurus dan mendampingi kita ketika tua dan sudah tidak mampu lagi. Merekalah yang menjadi generasi penerus kalian yang menjaga kesucian kalian. Mereka lebih bermanfaat daripada harta. Jika demikian faktanya, lalu bagaimana mungkin kita membiarkan mereka begitu saja dan tidak peduli dengan urusan mereka?!
 
Sungguh semua kaum Muslimin yang memperhatikan bagaimana orang-orang kafir begitu memperhatikan pendidikan anak-anak mereka seharusnya mereka merasa malu, padahal pendidikan anak mereka hanya terfokus pada dunia materialistis. Orang-orang kafir itu tidak membiarkan putra-putri mereka berkeliaran di jalanan dan seakan tidak membiarkan ada waktu kosong buat anak-anak mereka tanpa ada kegiatan. Mereka menjadwal kegiatan mereka dengan sangat rinci sekali.
Kontras dengan fakta di atas, banyak kaum Muslimin yang tidak memperhatikan urusan anak-anak mereka selain urusan pemberian nama, pemenuhan kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Masalah pendidikan kurang atau bahkan tidak mendapatkan porsi perhatian yang memadai. Lebih ironis lagi, sebagian orang tua disamping kurang perhatian dengan pendidikan anak mereka agar menjadi pemuda yang shalih, ditambah lagi dengan penyediaan berbagai sarana perusak atau sarana penunjang kerusakan. Dengan dalih kasih sayang, mereka memberikan anak-anak mereka uang dalam jumlah banyak; Mereka membelikan mobil-mobil mewah serta memenuhi rumah mereka dengan alat-alat musik dan film-film dewasa.
Kalau begini keadaannya, jangan tanya tentang perkembangan buruk anak-anak yang telah terpenuhi semua sarana-sarana perusak tersebut, mulai dari kerusakan akhlak, penyimpangan pemikiran dan berprilaku seperti hewan yang tidak punya rasa malu, seakan menjadi sebuah keniscayaan.
Jangan pula bertanya tentang dosa atau rasa penyesalan mendalam yang menimpa para orang tua ketika menyaksikan anak-anak mereka berbuat durhaka kepada mereka. Di saat para orang tua itu sudah renta dan butuh kepada perbuatan baik dari anak-anak mereka ini, tapi justru saat itu tidak ada kebaikan sama sekali yang dia rasakan.
Allah Azza wa Jalla telah mewasiatkan anak-anak untuk berbakti kepada orang tua dan membalas kebaikan orang tua ketika mereka sudah renta dan kondisi fisik mereka melemah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�UZO�UZU� O�UZO?U�U?U?UZ O?UZU�O� O?UZO?U�O?U?O?U?U?O� O?U?U�O� O?U?USU�UZO�U�U? U?UZO?U?O�U�U�U?UZO�U�U?O?UZUSU�U�U? O?U?O�U�O?UZO�U�U�O� O?U?U�U�UZO� USUZO?U�U�U?O?UZU�U�UZ O?U?U�U�O?UZU?UZ O�U�U�U?U?O?UZO�UZ O?UZO�UZO?U?U�U?U�UZO� O?UZU?U� U?U?U�O�U�U?U�UZO� U?UZU�O� O?UZU�U?U�U� U�UZU�U?U�UZO� O?U?U?U�U? U?UZU�O� O?UZU�U�U�UZO�U�U�U?U�UZO� U?UZU�U?U�U� U�UZU�U?U�UZO� U�UZU?U�U�O� U?UZO�U?USU�U�O� . U?UZO�O�U�U?U?O�U� U�UZU�U?U�UZO� O�UZU�UZO�O�UZ O�U�O�U�U?U�U?U� U�U?U�UZ O�U�O�U�UZO�U�U�UZO�U? U?UZU�U?U�U� O�UZO?U?U� O�O�U�O�UZU�U�U�U?U�UZO� U?UZU�UZO� O�UZO?U�UZUSUZO�U�U?US O�UZO?U?USO�U�O�

a�?Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan A�kepada keduanya perkataan a�?aha�? dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.a�? Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, a�?Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecila�? (QS. Al-lsra 17/ :23-24)
 
Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada anak untuk mengingat kebaikan kedua orang tuanya ketika si anak masih kecil dan lemah. Ini bertujuan supaya si anak lebih bersemangat saat membalas kebaikan kedua orang tua saat kedua orang tua mereka sudah renta dan sudah tidak mampu lagi berbuat banyak. Permasalahan yang terkadang muncul adalah bagaimana jika si anak hanya mengingat perbuatan orang tua mereka yang telah menyia-nyiakan mereka, berbuat jahat kepada mereka serta memberikan arahan yang buruk. Apa yang harus dilakukan kala itu?
Oleh karena itu, wahai para orang tua! Hendaklah kita senantiasa bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kita selalu menyadari bahwa anak-anak itu adalah amanah dari Allah Azza wa Jalla yang dibeban di atas pundak kita. Hendaklah kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam mengurusi mereka.
 
Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah taufik-Nya kepada kita semua agar melaksanakan kewajiban, baik sebagai orang tua maupun sebagai generasi muda.. Aamiin
 
Oleh :A�Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan
Sumber:A�Majalah As-Sunnah No.9 1436H/ 2015M

READ MORE
Da'wah

Belajar Memahami Kekurangan Pasangan

Awalnya, semua terasa indah. Namun, ketika badai mulai menyapa, batu karang ujian menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, akhirnya tangis pilu mengiris hati pun meledak tidak terbendung. Itulah manis pahit kehidupan. Semuanya harus diterima sebagai sunatullah. Kadang kita menangis dan terkadang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah Azza wa Jalla.
Kehidupan berumah tangga akan indah jika masing-masing anggotanya mendapat ketenteraman. Sementara itu, ketenteraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka lubang ke-hancuran ada di depan mata.
 
Allah Azza wa Jalla telah menggariskan bagi setiap laki-laki untuk mencintai wanita. Seorang laki-laki yang masih bujang ketika punya keinginan kuat untuk membina rumah tangga, tentu ia akan menaruh harapan yang besar kepada calon istrinya. Dia berharap dan berdoa agar rumah tangganya penuh dengan kedamaian, ketenteraman, dan kebaikan ketika bila hidup bersama. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�U?U�U� O?USUZO�O?U?U�U? O?UZU�U� O�UZU�UZU�UZ U�UZU?U?U�U� U�U?U�U� O?UZU�U�U?U?O?U?U?U?U�U� O?UZO?U�U?UZO�O�U�O� U�U?O?UZO?U�U?U?U�U?U?O� O?U?U�UZUSU�U�UZO� U?UZO�UZO?UZU�UZ O?UZUSU�U�UZU?U?U�U� U�UZU?UZO?U�UZO�U� U?UZO�UZO�U�U�UZO�U� O?U?U�U�UZ U?U?US O�UZU�U?U?UZ U�O?USUZO�O?U? U�U?U�UZU?U�U�U? USUZO?UZU?UZU?U�UZO�U?U?U�UZ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”A�(QS. al-Rum 30/ : 21)
Al-Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan bahwa pernikahan termasuk sebab-sebab yang mendatangkan rasa cinta dan sayang. Dengannya, seorang suami mendapatkan dari istrinya kesenangan, kelezatan, manfaat dengan adanya anak dan mendidik anak, dan perasaan tenteram kepadanya. Engkau tidak akan mendapati permisalan indah dalam perasaan cinta dan sayang seperti sepasang suami dan istri.” (LihatA�Taisir Karim al-Rahman hlm. 639)
Demikianlah, betapa besarnya harapan seorang suami kepada istri tercinta pilihannya. Maka wahai para istri, sambutlah harapan suamimu dengan penuh kehangatan dan kesadaran diri akan agungnya cita-cita mulia ini.
 
KEKURANGAN ADALAH SIFAT ASLI MANUSIA
Ya, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini karena Yang Maha Sempurna hanyalah Allah semata. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO�U?U�U?U�UZ O�U�O?U�U�O?UZO�U�U? O�UZO?U?USU?U�O�

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”A�(QS. al-Nisaa�� 4/ : 28)
Manusia lemah dari segala sisinya: akal, sifat kepribadian, banyak berbuat salah dan dosa, dan sebagainya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:

U?U?U�U�U? O?UZU�U?US O?O?UZU�UZ O�UZO�U�UZO�O?U? U?UZO�UZUSU�O�U? O�U�U�O�UZO�U�UZO�O�U?USU�UZ O�U�O?U�UZU?U�UZO�O?U?U?U�UZ

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah. Dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. Ibn Majah no. 4251, Dinilai hasan oleh al-Syaikh al-Albani dalam al-Misykah no. 2341.)
Ini adalah sunnatullah yang telah digariskan pada setiap manusia. Maka wahai para suami, berapapun besarnya harapanmu kepada istrimu yang merupakan belahan jiwamu ingatlah bahwa istrimu juga manusia. Istrimu manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan. Dia tak lepas dari sifat-sifat kewanitaan, maka janganlah engkau berharap tinggi bahwa istrimu paling sempurna, paling segalanya sehingga ketika engkau mendapatinya bersalah engkau akan kecewa berat dan menyesal. Renungilah hadits berikut ini, wahai para suami:

U?UZU�UZU�UZ U�U?U�U� O�U�O�U�U?O�UZO�U�U? U?UZO�U?USO�U? U?UZU�UZU�U� USUZU?U�U�U?U�U� U�U?U�U� O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? O?U?U�U�UZO� O?O?U?USUZO�U? O�U�U�O�UZO?UZO�U? U?U?O�U�O?UZU?U�U�UZ U?UZU�UZO�U�USUZU�U? O?U?U�U�O?U? O?U?U�U�O�UZO�U�UZ

“Laki-laki yang sempurna banyak, sedang di antara kaum wanita tidak ada yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti ‘Imran.” (HR. Al-Bukhari no. 3411, dan Muslim no. 2431)
Janganlah engkau mimpi di siang bolong bahwa istrimu seperti Khadijah radhiyallahu ‘anha A�atau ‘A’isyah radhiyallahu ‘anha jika dirimu saja bukan Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam. Janganlah engkau mimpi istrimu seperti Fatimah radhiyallahu ‘anha jika engkau tidak seperti ‘Ali ibn Abi Talib radhiyallahu a�?anhu. Ini perlu disadari agar engkau berkaca diri sebelum menilai istrimu sendiri.
Demikian pula engkau, wahai para istri, suamimu adalah imam dalam rumah tanggamu. Terimalah kekurangan yang ada padanya dengan lapang dada, toh dia adalah jodoh yang telah Allah Azza wa Jalla pilihkan untukmu dan engkau menerimanya. Bersikaplah dewasa dengan memahami tugas masing-masing, insya Allah kekurangan yang ada bisa diatasi. Biidznillah.
 
TIDAK MENGELUH
Salah satu kekurangan wanita adalah sering mengeluh dan kurang pandai bersyukur. Dua penyakit inilah yang membawa wanita menjadi penghuni Neraka paling banyak. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:

O?U?O�U?USO?U? O�U�U�U�UZO�O�UZ U?UZO?U?O�UZO� O?UZU?U�O�UZO�U? O?UZU�U�U�U?U�UZO� O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? USUZU?U�U?U?O�U�U�UZ U�U?USU�UZ O?UZUSUZU?U�U?U?O�U�U�UZ O?U?O�U�U�U�UZU�U? U�UZO�U�UZ USUZU?U�U?U?O�U�U�UZ O�U�U�O?UZO?U?USO�UZ U?UZUSUZU?U�U?U?O�U�U�UZ O�U�U�O?U?O�U�O?UZO�U�UZ U�UZU?U� O?UZO�U�O?UZU�U�O?UZ O?U?U�UZU� O?U?O�U�O?UZO�U�U?U�U�UZ O�U�O?U�UZU�U�O�UZ O�U?U�U�UZ O�UZO?UZO?U� U�U?U�U�U?UZ O?UZUSU�O�U�O� U�UZO�U�UZO?U� U�UZO� O�UZO?UZUSU�O?U? U�U?U�U�U?UZ O�UZUSU�O�U�O� U�UZO�U�U?

“Telah diperlihatkan Neraka kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!” Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?” Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam menjawab, “Tidak. (Namun) mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, ‘Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu.’ ”A�A� (HR al-Bukhari no. 29, dan Muslim no. 907)
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam juga mengatakan:

U�O�UZ USUZU�U�O?U?O�U? O�U�U�U�U? O?U?U�UZU� O�U�U�O�UZO?UZO�U? U�O�UZ O?UZO?U�U?U?O�U? U�U?O?UZU?U�O�U?U�UZO� U?UZU�U?USUZ U�O�UZ O?UZO?U�O?UZO?U�U�U?USU� O?UZU�U�U�U?

“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya.” (HR. al-Nasa’i dalam al-Kubra: 9135 dan 9136)
Suami yang lelah setelah seharian mencari nafkah keluarga, usahanya harus disyukuri oleh para istri. Janganlah istri selalu merasa kurang terhadap pemberian suami. Hendaknya istri bersyukur dan membisikkan kepada suaminya “Semoga Allah membalas kebaikanmuA� dan memberkahiA� rezeki yang kita peroleh hari ini”. Bila seorang suami mendengar ucapan ini, rasa lelahnya seketika itu juga akan hilang. Dia akan semangat menjalani kehidupan. Dia akan semakin cinta kepada istrinya. Namun, bila yang ada ialah istri yang tak pernah puas, selalu membandingkan dengan suami orang lain, maka yang demikian dapat membuat sang suami kecewa dan malah membenci dirimu sendiri, wahai sang istri. Rasa cinta suami akan pudar dan akan teringat segala keburukan istrinya. Allah al-Musta’an.
Dan engkau wahai para suami, bersyukurlah terhadap istrimu. Dia adalah jodoh pilihan yang telah engkau terima. Ucapkanlah terima kasih atas segala jasa baik seorang istri, dari mulai mengurus rumah, anak-anak, mengerjakan pekerjaan harian, melayani suami, dan lain-lain dari tugas yang mulia; maka syukurilah hal ini. Berikanlah istrimu senyuman, doakan keberkahan untuknya. Semoga hal ini lebih menambah keharmonisan dalam rumah tanggamu. Allahu A’lam.
 
SOLUSI MEMAHAMI KEKURANGAN PASANGAN
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam telah memberikan resep jitu agar rumah tangga kita tidak berantakan hanya gara-gara kurang saling memahami kekurangan setiap pasangan. Tiada jalan terbaik dalam memahami kekurangan masing-masing pasangan, kecuali dengan mengikuti sabda Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam yang berbunyi

U�UZO� USUZU?U�O�UZU?U� U�U?O�U�U�U?U�U? U�U?O�U�U�U?U�UZO�U� O?U?U�U� U?UZO�U?U�UZ U�U?U�U�U�UZO� O�U?U�U?U�U�O� O�UZO�U?USUZ U�U?U�U�U�UZO� O?O�UZO�UZ

“Janganlah laki-laki mukmin membenci wanita mukminah (istrinya, Ed). Sebab, jika ia membenci salah satu perangainya, maka ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)
Al-Imam al-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Yaitu hendaknya seorang laki-laki jangan membenci wanita (istrinya, Ed.), jika dia mendapati padanya ada perangai yang tidak disukai, maka pasti dia akan mendapati perangai lain yang dia senangi. Seperti misalnya, paras wajahnya kurang cantik tetapi dia taat beragama, atau bagus akhlaknya, penyayang dan menjaga diri, dan sebagainya.” (Lihat Syarh Sahih Muslim 10/58)
Inilah resep mujarab yang telah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia. Apa yang beliau sabdakan adalah wahyu ilahi yang tak terbantahkan.
Betapa banyak perselisihan dalam rumah tangga menjadi reda bila masing-masing pasangan mau mengamalkan kandungan hadits ini. Istri yang melihat suaminya punya sifat pemarah, akan rida dengan akhlak suaminya yang lain seperti rajin ibadah, rajin ikut taklim, bersemangat mencari nafkah, dan lain-lain.
Kalau demikian, keretakan rumah tangga bisa ditambal dengan saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan. Demikian pula seorang suami yang melihat kekurangan istrinya, seperti tidak pintar masak, tidak hafal Al-Quran, tentu dia tidak akan mengingat kekurangannya saja, dia akan ingat kelebihannya yang lain, seperti rajin dalam mengurus pekerjaan rumah, sayang terhadap anak, dan sebagainya. Allahu A’lam.
 
BERSABAR DAN BERSYUKUR
Dalam kehidupan keluarga, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan berhadapan dengan berbagai problem yang berkaitan erat dengan kelemahan/kekurangan dari masing-masing kita sebagai pasangan.
Ini adalah bagian dari sunnatullah, setiap kita punya kelemahan, di samping bahwa setiap kita punya kelebihan/keutamaan/keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Demikian juga dengan kehidupan suami istri dalam keluarga. Kadang, pada saat tertentu, seorang suami yang harus bersabar dengan kelakuan istri yang kurang berkenan di hatinya, dan pada saat itu istri bersyukur karena memiliki suami yang sabar. Di lain kesempatan, giliran istri yang harus bersabar, melihat kekurangan/ kelemahan suami, sedangkan suami perlu bersyukur karena istrinya bisa bersabar.
Mungkin inilah yang diisyaratkan oleh Nabi kita shallallahu a�?alaihi wa sallam dalam sabdanya:

U?UZO�O?U�O?UZU?U�O�U?U?O� O?U?O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? U?UZO?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�UZ O�U?U�U?U�UZO?U� U�U?U�U� O�U?U�UZO?U? U?UZO?U?U�U�UZ O?UZO?U�U?UZO�UZ O?UZUSU�O?U? U?U?US O�U�O�U�U?U�UZO?U? O?UZO?U�U�UZO�U�U? O?U?U�U� O�UZU�UZO?U�O?UZ O?U?U�U?USU�U?U�U? U?UZO?UZO�U�O?UZU�U? U?UZO?U?U�U� O?UZO�UZU?U�O?UZU�U? U�UZU�U� USUZO?UZU�U� O?UZO?U�U?UZO�UZ O�O?U�O?UZU?U�O�U?U?O� O?U?O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? O�UZUSU�O�U�O�

“Berilah nasihat kepada wanita (istri) dengan cara yang baik karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Sesuatu yang paling bengkok ialah sesuatu yang terdapat pada tulang rusuk yang paling atas. Jika hendak meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, sedang jika kalian membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Karena itu, berilah nasihat kepada istri dengan baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5186, dan Muslim no. 1468)
Sebagian ulama salaf berkata, “Ketahuilah bahwasanya tidak disebut akhlak yang baik terhadap istri hanya dengan menahan diri dari menyakitinya, namun dengan bersabar dari celaan dan kemarahannya.”
 
Inilah sebagian solusi dalam memahami perbedaan masing-masing pasangan. Maka hendaknya bagi setiap suami dan istri saling memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Hendaknya mereka saling memahami kekurangan dan kelebihan mas-ing-masing, tidak berat sebelah. Wahai para suami dan para istri, bersyukur dan bersabarlah dalam mengarungi bahtera rumah tangga, demi tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Allahu A’lam.
 
Oleh: Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman
(Dikutip dari Majalah Al-Furqon No.143 Ed.7 1434H/ 2014M A�)

READ MORE
Da'wah

Didiklah Keluargamu Untuk Menjaga Shalat

Ada satu perintah yang agung;A� namun banyak orang yang kurang memperhatikannya. Yaitu apa yang Allah Azza wa Jalla firmankan:

U?UZO?U�U�U?O�U� O?UZU�U�U�UZU?UZ O?U?O�U�O�U�UZU�UZO�O�U? U?UZO�O�U�O�UZO?U?O�U� O?UZU�UZUSU�U�UZO� U� U�UZO� U�UZO?U�O?UZU�U?U?UZ O�U?O?U�U�U�O� U� U�UZO�U�U�U? U�UZO�U�O?U?U�U?U?UZ U� U?UZO�U�U�O?UZO�U�U?O?UZO�U? U�U?U�O?U�UZU�U�U?UZU�U�

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha/20: 132)
Ini adalah perintah Allah Azza wa Jalla kepada Nabi Muhammad shallallahu a�?alaihi wa sallam. Dan perintah kepada Nabi juga sekaligus perintah kepada umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya di sini. Maka menjadi kewajiban setiap orang tua dan wali seorang anak, agar ia benar-benar memperhatikan anak-anak mereka dan memantau terus tentang shalat mereka, yang merupakan rukun Islam paling agung setelah dua kalimat syahadat. Setelah orang tua benar-benar menjaga shalat dirinya sendiri, sehingga ia menjadi teladan bagi sang anak; kemudian ia memantau anak-anaknya, dengan memberikan motivasi agar selalu menunaikan dan menjaga shalatnya.
Ayat ini menunjukkan dua hal agung yang harus direalisasikan:

  1. Seseorang harus memperhatikan dirinya dalam menjaga dan bersabar dalam mendirikan shalat. Sebab dalam hidup ini banyak hal yang bisa memalingkan dari shalat, dan membuatnya tidak bisa menjaga shalat pada waktunya. Jadi, banyak hal yang membuat seorang lalai. Karena kondisi seperti ini, maka seseorang perlu untuk bersabar, bersungguh-sungguh dan terus memantau diri, agar istiqamah dalam menjaga shalatnya.
  2. Memberikan perhatian terhadap mereka yang berada di bawah kendalinya, seperti istri maupun anak. Yaitu dengan memberikan pengajaran untuk selalu menjaga shalat, dan selalu memantau mereka. Dalam hal ini, terdapat hadits dari riwayat Abu Daud dalam Sunnannya, dari hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu; bahwa Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabdba:

U�U?O�U?U?O� O?UZU?U�U�UZO�O?UZU?U?U�U� O?U?O�U�O�U�UZU�UZO�O�U? U?UZU�U?U�U� O?UZO?U�U�UZO�O?U? O?UZO?U�O?U? O?U?U�U?USU�UZO? U?UZO�O�U�O�U?O?U?U?U�U?U�U� O?UZU�UZUSU�U�UZO�O? U?UZU�U?U�U� O?UZO?U�U�UZO�O?U? O?UZO?U�O�U?O? U?UZU?UZO�U�U?U�U?U?O� O?UZUSU�U�UZU�U?U�U� U?U?US O�U�U�U�UZO�UZO�O�U?O?U?

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat, ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka bila meninggalkannya ketika berumur 10 tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka (anak lelaki dan perempuan) dalam hal tempat tidur.
 
Mereka harus diperhatikan dan dipantau semenjak usia dini. Semenjak usia 7 tahun, anak sudah diperintahkan dan didorong untuk mendirikan shalat. Bila ia melalaikan shalat, padahal ia telah berusia 10 tahun, maka ia bisa dipukul dengan pukulan ringan yang tidak melukai. Ini adalah pukulan pengajaran, bukan untuk menyakiti.
Kedudukan shalat sangatlah agung. Bila diperhatikan, banyak kelalaian berasal dari pihak orang tua. Masih ada orang tua yang menyia-nyiakan shalat, sehingga ia tidak bisa menjadi contoh baik untuk anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya tumbuh dengan melalaikan dan menyia-nyiakan shalat. Karena mereka tumbuh sesuai dengan didikan orang tua.
Sungguh, perilaku orang tua yang menyepelekan masalah shalat terhadap anak-anaknya, merupakan perilaku yang sangat buruk. Perhatikan ucapan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, yang mengkhususkan para bapak dalam masalah yang sangat penting ini. Beliau berkata: a�?Barang siapa tidak memperhatikan untuk mengajarkan hal bermanfaat kepada anaknya, namun justru ia meninggalkannya begitu saja, maka sungguh ia telah berbuat sangat buruk sekali kepada sang anak. Yang sering terjadi, rusaknya anak disebabkan karena orang tua, yang tidak memperhatikan mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama. Para bapak telah menyia-nyiakan mereka saat kecil, sehingga sang anak tidak bisa bermanfaat lagi bagi dirinya, dan juga tidak bisa memberi manfaat kepada orangtua mereka di saat dewasa.a�?
 
Sungguh benar wahai kaum Muslimin. Masalah ini adalah hal yang sangat penting sekali. Sehingga yang pertama-tama, orang tua haruslah bisa menasehati dirinya sendiri; kemudian menasihati istri dan anak-anak; dengan memberi pengajaran tentang masalah shalat; serta mengajak mereka agar selalu menjaga shalat.
Sedangkan engkau wahai anak! Bila Allah memuliakanmu dengan mempunyai orang tua yang memperhatikan masalah shalatmu, maka jangan sekali-kali engkau merasa terusik atau dongkol dikarenakan orang tua selalu memantau shalatmu! Karena sesungguhnya orang tua sejatinya tengah berusaha menyelamatkanmu dari murka Allah Azza wa Jalla, guna menuju ridha Allah Azza wa Jalla.
Perhatikanlah pujian Allah Azza wa Jalla yang begitu harum kepada Nabi Ismaa��il a�?alahi sallam. Allah berfirman:

U?UZU?UZO�U�UZ USUZO?U�U�U?O�U? O?UZU�U�U�UZU�U? O?U?O�U�O�U�UZU�UZO�O�U? U?UZO�U�O?U�UZU?UZO�O�U? U?UZU?UZO�U�UZ O?U?U�U�O?UZ O�UZO?U�U?U�U? U�UZO�U�O�U?USU�U�O�

Dan ia (ismail) menyuruh ahlinya (yaitu keluarga dan juga umatnya) untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. (QS. Maryam /19:55)
 
Benar! Beliau sorang yang diridhai Allah Azza wa Jalla Sebab ia telah mengambil sebab-sebab, yang dengannnya ia mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla. Dan yang paling besar adalah perhatiannya terhadap shalat, dengan menjaga, dan mengajarkannya pada anak-anaknya serta mendidik mereka untuk selalu menjaganya.
Di samping itu, kita pun harus dengan tulus memohon kepada Allah Azza wa Jalla, agar Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dan anak-anak kita termasuk orang yang ahli shalat dan selalu menjaganya. Dan di antara doa agung terkait hal ini adalah doa Nabi Ibrahim a�?alahi sallam :

O�UZO?U�U? O�O�U�O?UZU�U�U�U?US U�U?U�U?USU�UZ O�U�O�U�UZU�UZO�O�U? U?UZU�U?U�U� O�U?O�U�U?USU�UZO?U?US Us O�UZO?U�UZU�UZO� U?UZO?UZU�UZO?U�UZU�U� O?U?O?UZO�O?U?

Ya Rabb-ku jadikanlah anak dan cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim /14:40)
Imam Malik meriwayatkan dalam Muwaththaa�� dari Zaid bin Aslam dari ayahnya: bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu biasa shalat malam sesuai dengan apa yang Allah Azza wa Jalla kehendaki. Hingga bila tiba di penghujung malam, beliau berseru: a�?Shalat, shalatlah!a�? kemudian beliau membacakan ayat ini:
 
Maka, renungkanlah bagaimana keadaan kaum salafus shalih menyikapi arahan Rabbani yang agung ini! Kemudian bandingkan dengan keadaan banyak manusia yang menyepelekan shalat; serta bagaimana mereka tidak mengajarkan kewajiban yang agung ini! Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberi taufiq kepada kita, untuk selalu menjaga shalat. Dan agar Allah Azza wa Jalla memperbaiki anak-anak dan keluarga kita. Serta agar menjadikan kita dan mereka termasuk orang-orang yang selalu menegakkan shalat.
 
Sumber : Majalah As-Sunnah Edisi 12/Thn XIX/Jumadil Akhir 1437H.

READ MORE

14 Tanggapan dari para pemimpin Muslim tentang keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel

Dunia telah memiliki banyak reaksi beragam terhadap keputusan Presiden Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, sehingga mengenalnya sebagai ibu kota Israel. Dunia Arab dan Islam, khususnya, telah menemukan berita ini sangat mengganggu karena langkah tersebut secara efektif mengabaikan hak-hak orang Arab Palestina dan klaim Muslim atas kota suci tersebut. IUMS (International Union of Muslim Scholars) telah menggambarkan keputusan AS sebagai “langkah provokatif yang dapat mendorong kawasan ini ke ambang neraka.” Langkah tersebut, serikat pekerja menambahkan, “akan mendorong orang-orang Palestina, Arab dan Muslim untuk membela kota suci mereka dengan cara apapun yang diperlukan. ”
Tapi bagaimana para ilmuwan Muslim dan pemimpin politik bereaksi terhadap berita ini?
 
Presiden Recip Tayyip Erdogan: Turki
“Mengambil langkah seperti ini menempatkan dunia, terutama wilayah, dalam lingkaran api. Hey Trump, apa yang ingin kamu lakukan? Pendekatan macam apa ini? Pemimpin politik tidak membangkitkan banyak hal, mereka berusaha berdamai. Mr Trump! Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam. ”
 
Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas: Palestina
“Tindakan tercela dan ditolak ini merupakan upaya yang disengaja untuk semua upaya perdamaian. Dia mewakili sebuah deklarasi bahwa Amerika Serikat telah menarik diri dari memainkan peran yang telah dimainkannya dalam beberapa dekade terakhir dalam mensponsori proses perdamaian. Administrasi Trump melanggar resolusi internasional dan kesepakatan bilateral dan keputusan ini merupakan hadiah bagi Israel karena menolak kesepakatan dan menentang legitimasi internasional yang mendorongnya melanjutkan kebijakan pendudukan, penyelesaian, apartheid dan pembersihan etnis. ”
 
Ayatullah Agung Sayed Ali Al-Sistani: Irak
“Keputusan ini dikutuk dan dicela, ini menyakitkan perasaan ratusan juta orang Arab dan Muslim, tapi tidak akan mengubah kenyataan bahwa Yerusalem adalah daerah yang diduduki yang harus kembali ke kedaulatan pemilik Palestinanya tidak peduli berapa lama mengambil.
 
Sheikh Ahmed Al-Tayeb dari Al-Azhar: Mesir
“Kami memperingatkan dampak serius keputusan A.S. tentang identitas kota suci tersebut. Mengakui Yerusalem yang diduduki sebagai ibu kota entitas Zionis – dan pengalihan kedutaan ke kota – merupakan penyangkalan yang mencolok terhadap hak-hak Palestina dan Arab. ”
 
Perdana Menteri Haider Alabadi: Irak
“Kami berhati-hati terhadap dampak berbahaya dari keputusan ini mengenai stabilitas kawasan dan dunia. Pemerintah AS harus mundur dari keputusan ini untuk menghentikan eskalasi berbahaya yang akan mendorong ekstremisme dan menciptakan kondisi yang menguntungkan terorisme. ”
 
Ayatullah Agung Ali Khamenei: Iran
“Ini karena keputusasaan bahwa mereka ingin menyatakan Al Quds sebagai ibukota rezim Zionis. Tentang masalah Palestina, tangan mereka terikat dan mereka tidak dapat mencapai tujuan mereka. Kemenangan milik umat Islam. Palestina akan bebas, bangsa Palestina akan meraih kemenangan. ”
 
Presiden Joko Widodo: Indonesia
“Indonesia dengan keras mengecam pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta AS untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini.”
 
Presiden Hassan Rouhani: Iran
“Hari ini, musuh telah meluncurkan sebuah konspirasi baru melawan kaum Muslim dan telah menargetkan tujuan besar pembebasan Quds Suci. Al-Quds milik Muslim dan Palestina, dan ini bukanlah tempat di mana orang dapat melawan pemikiran dan perasaan rakyat. Ini adalah petualangan baru dari Arrogance Global di wilayah ini. ”
 
Raja Abdullah II: Yordania
Dalam sebuah pernyataan dari Istana Kerajaan Keluarga Kerajaan Hashemite: Raja Abdullah menekankan bahwa keputusan tersebut akan memiliki implikasi serius terhadap keamanan dan stabilitas regional, dan akan merusak upaya untuk melanjutkan proses perdamaian. Yang Mulia menyerukan untuk mendukung orang-orang Palestina dalam usaha mereka untuk mendirikan sebuah negara Palestina yang merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Raja Abdullah menyerukan untuk mengintensifkan upaya Arab, Muslim, dan internasional untuk melindungi hak-hak orang Palestina, Arab, dan Muslim di Yerusalem, yang merupakan kunci bagi perdamaian dan stabilitas regional. Yang Mulia juga meminta untuk membangun penolakan internasional atas keputusan AS tersebut. untuk mencegah langkah sepihak yang lebih jauh oleh negara lain.
 
Presiden Abdel Fattah El-Sisi: Mesir
“Mesir mengutuk keputusan A.S. untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan untuk memindahkan duta besarnya ke Yerusalem. Langkah sepihak yang bertentangan dengan kesepakatan internasional tidak akan mengubah status hukum Yerusalem karena berada di bawah pendudukan. Mesir sangat prihatin tentang kemungkinan dampak keputusan [Trump] terhadap stabilitas kawasan ini. Keputusan AS akan memiliki dampak yang sangat negatif terhadap proses perdamaian Palestina-Israel, mengingat bahwa status Yerusalem adalah sebuah isu yang harus ditangani pada tahap akhir dari proses perdamaian, dengan nasib yang akan ditentukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. . ”
 
Sayed Hassan Nasrallah dari Hizbullah: Lebanon
“Tanggapan yang paling penting adalah pemberontakan Palestina dan sebuah KTT Islam yang akan menyatakan Yerusalem sebagai ibukota abadi Palestina. Kami mendukung seruan untuk sebuah pemberontakan baru Palestina dan meningkatkan perlawanan, yang merupakan respons terbesar, paling penting dan paling berat terhadap keputusan Amerika tersebut. ”
 
Pengadilan Kerajaan Saudi: Kerajaan Arab Saudi
“Kerajaan mengekspresikan pembatalan dan penyesalan mendalam bahwa pemerintah telah mengambil langkah ini, karena ini merupakan bias besar terhadap hak historis dan permanen rakyat Palestina di Yerusalem, yang telah ditegaskan oleh resolusi internasional yang relevan dan telah diakui dan didukung oleh masyarakat internasional. ”
 
Menteri Luar Negeri Qatari Sheikh Mohammad bin Abdurrahman Al-Thani: Qatar
Keputusan tersebut adalah hukuman mati untuk perdamaian; Kejadian ini, yang berarti ketegangan serius meningkat dalam perjuangan Palestina, tidak hanya menyangkut rakyat Palestina tapi juga semua orang Arab dan Muslim. ”
 
Perdana Menteri Saad Hariri: Lebanon
“Libanon menyesalkan dan menolak keputusan tersebut, dan ini solidaritas dengan rakyat Palestina. [Lebanon mengumumkan] hak [Palestina] mereka untuk menciptakan sebuah negara merdeka yang ibukotanya adalah Yerusalem. ”
 
Berita : themuslimvibe.com
 
Semoga AllahA�Subhanahu wa Ta’alaA�melindungi saudara-saudara kita yang berada di Palestina. Bagaimanapun, Al Quds adalah ibukota dan tanah Palestina.

READ MORE

'PALESTINA TIDAK SENDIRI' #LetsUniteForAlQuds

Puluhan ribu orang di seluruh dunia memprotes rencana Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan kedutaan AS di Israel ke Yerusalem dari Tel Aviv.
“Indonesia dengan keras mengecam pengakuan sepihak Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta AS untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut,” Joko Widodo mengatakan dalam sebuah konferensi pers.
“Ini bisa mengguncang keamanan dan stabilitas global,”
Ribuan orang Turki dengan bendera Palestina berdemonstrasi di Istanbul pada hari Ahad melawan gerakan Presiden Trump di Yerusalem (Suraj Sharma / MEE)
Di Malaysia, sekitar 5.000 orang berbaris ke kedutaan besar AS, melantunkan dan melambaikan spanduk bertuliskan “Hands off Jerusalem” dan “Down USA President Trump”.
“Aksi tidak peka ini akan mengobarkan hati umat Islam di seluruh dunia.”
Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, beberapa ratus orang berdemonstrasi di luar kedutaan AS di ibukota Jakarta, membawa plakat yang bertuliskan “Tidak ke Trump” dan membentangkan bendera Palestina yang besar.
Berita: middleeasteye
 
Semoga Allah menjaga kaum muslimin di seluruh dunia dan melindungi mereka dari bahaya dan kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar menolong dan memenangkan kaum muslimin dan mujahidin Palestina dan mengharapkan kekalahan bahkan kehancuran pihak Yahudi Zionis Israel. Al Quds adalah ibu kota Palestina!

READ MORE
Da'wah

Mempersiapkan Masa Depan Anak

Salah satu hal penting yang bermanfaat bagi agama dan dunia seorang anak adalah penanaman keyakinan yang lurus dalam diri mereka. Diiringi dorongan untuk berbuat baik dan bergaul dengan orang-orang yang baik, serta memperingatkan mereka dari perbuatan dan pergaulan yang buruk. Disamping itu, membiasakan mereka untuk menegakkan shalat.
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Dan perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya. Kami tidaklah meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberimu rezeki. Dan kesudahan baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Thaha: 132)
Bersabda pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
Perintahkanlah anak-anak kalian ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika mereka tidak mau) shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur diantara mereka?. (HR. Abu Dawud)
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud, menjelaskan, Dalam hadist ini, terkandung tiga macam pendidikan adab: memerintahkan anak-anak untuk menegakkan shalat pada usia sepuluh tahun, dan memisahkan tempat tidur mereka.
Pada tempat yang lain, beliau menerangkan pula, Seorang anak walaupun belum mukallaf, namun walinya adalah seorang mukallaf. Seorang wali tidak boleh membiarkan anaknya melakukan sesuatu yang haram. Sebab, dia nanti akan terbiasa dan amat sulit memisahkannya dari perbuatan itu. Ini pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat ulama.
Orang yang berpendapat anak-anak tidak haram melakukan perbuatan haram beralasan bahwa mereka itu belum mukallaf sehingga belum di haramkan bagi mereka (anak laki-laki) mengenakan pakaian sutra misalnya, sebagaimana halnya hewan boleh melakuan sesuatu yang haram.
Ini adalah sebuah kias yang paling rusak! Seorang anak walaupun belum mukallaf dia dipersiapkan untuk menerima beban syariat. Oleh karena itu, tidak boleh ia dibiarkan shalat tanpa wudhu, shalat tanpa menutup aurat dan dalam keadaan bernajis, tidak boleh pula minum khamr, berjudi, dan berbuat homoseks.
Selanjutnya, beliau menjelaskan pula, Tatkala anak telah berumur sepuluh tahun, kekuatan, akal, dan kemampuannya untuk menunaikan berbagai ibadah semakin bertambah. Karena itu, pada usia ini dia harus dipukul jika meninggalkan shalat, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pukulan ini adalah pukulan untuk medidik dan melatih sianak.
 
Pada usia sepuluh tahun ini, anak-anak juga memiliki kondisi lain yaitu kemampuannya untuk membedakan mana yang benar mana yang salah (tamyiz) ataupun kemampuan pemahamannya telah semakin kuat. Oleh karena itu, kebanyakan fuqaha berpendapat wajibnya anak yang seperti ini untuk beriman dan dihukum jika enggan untuk beriman. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Abul Khaththab dan yang lainnya. Ini adalah pendapat yang sangat kuat. Walaupun anak ini belum dicatat amalannya dalam perkara-perkara cabang (selain perkara keimanan, -pen.), sesungguhnya dia telah dianugrahi alat untuk mengenali Sang Pencipta, mengakui keesaan-Nya, membenarkan rasul-rasul-Nya, dan mampu memahami hal semisal ini serta mengambil kesimpulan darinya. Dia juga telah mampu memahami berbagai pengtahuan, pekerjaan, dan segala sesuatu yang baik dalam kehidupan dunianya. Karena itulah, tidak ada lagi uzur baginya jika dia kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sedangkan dalil-dalil tentang keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ini lebih jelas dari pada setiap pengetahuan dan bidang kerja yang dia pelajari.
Berpijak dengan hal ini, maka keimanan kepada Alllah Subhanahu wa Ta’ala wajib ditanamkan dalam hati anak. Keimanan ini adalah suatu hal yang paling baik, paling sempurna, dan paling agung pahalanya disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala hal yang ditanamkan oleh ayah dan ibu dalam hati si anak. Keimanan ini menjadi pembuka bagi segala kebaikan, fondasi segala ketaatan dan kebaktian, serta prinsip paling pokok agar dapat beristiqomah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri pernah memberikan penerangan kepada ibnu Abbas kecil yang kala itu sedang membonceng dibelakang beliau,
Nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberpa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Allah ada dihadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jikalau seluruh umat ini berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, sungguh mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetepkan bagimu. Jika mereka semua berkumpul untuk membahayakanmu, sungguh mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatau yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir).
Al imam ibnu Rajab rahimahullah dalam Jamiaul Ulum wal Hikam menjelaskan hadist ini, Barang siapa menjaga Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika masa kecil dan di saat kuatnya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaganya di masa tua dan di saat lemah kekuatannya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugrahinya pendengaran, penglihatan, kemampuan, kekuatan, dan akalnya.
 
Memenuhi hati dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mewujudkan tauhid kepada-Nya, dan menanamkan itu semua dalam hati anak merupakan salah satu bentuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam jiwa mereka, dan bimbingan terhadap mereka untuk menuju kebaikan. Dalam hal ini, terkandung manfaat bagi seluruh hamba, baik dia seorang ayah maupun seoarang anak, di dunia dan akhirat.
Kemudian, ketika si anak telah mencapai usia baligh, dia diajari perkara agama yang penting. Anak mulai diajari perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban agamanya, karena kini dia telah mukallaf. Dia diajari perkara mandi dan semisalnya, diajari behijab jika dia seorang wanita.
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, Mayoritas kerusakan anak justru disebabkan oleh orang tua dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Anak tidak di ajari kewajiban ataupun sunnah dalam agama. Mereka sia-siakan si anak semasa kecil, sehingga tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang tuanya di saat orang tuanya telah renta. Ada orang tua yang mencelai anaknya karena kedurhakaannya. Si anak pun menukas Wahai, Ayah! Dahulu engkau berbuat durhaka padaku sewaktu aku masih kecil, maka sekarang aku mendurhakaimu saat engkau telah tua!
 
Ringkasannya, pada terhadap ini, orang tua wajib mengajari anak-anaknya segala sesuatu yang harus dimengerti oleh seorang mukallaf, yaitu perkara syar’i yang seorang muslim tidak boleh tidak mengetahuinya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua. Wallahu a’lam bish-shawab
 
Sumber : Majalah Asy Syariah

READ MORE
Chat bersama kami