Da'wah

Rukun dan Syarat Proses Akad Nikah

Hidup bersama lawan jenis supaya halal dan baik harus dibangun di atas syariat Islam. Yaitu, melalui ikatan pernikahan yang diikrarkan saat proses akad nikah, dengan rukun dan syarat-syarat tertentu sehingga hubungan menjadi halal dan sah. Ikatan ini disebut dalam al-Qura��an sebagai ikatan yang amat kuat.
Dengan ini, umat Islam akan terhindar dari hubungan layaknya binatang yang hanya dibangun di atas suka sama suka, yang banyak dilakukan orang-orang kafir.
Akad nikah mempunyai beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Rukun dan syarat menentukan hukum suatu perbuatan, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan, terutama yang menjangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua hal tersebut, rukun dan syarat, mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan suatu yang harus diadakan. Dalam pernikahan misalnya, rukun dan syaratnya tidak boleh tertinggal. Artinya, pernikahan tidak sah bila keduanya tidak ada atau tidak lengkap.
 
Rukun Nikah
Kedua belah pihak mempelai ada, tanpa ada pengahalang yang mengahalangi sahnya nikah. Misalnya, wanita tersebut haram bagi laki-laki karena nasab, sepersusuan, masih menjalani masa a�?iddah dan sebagainya, atau mempelai laki-lakinya kafir, sedangkan wanitanya seorang Muslimah. Jika seperti ini, maka tidak sah.
Adanya ijab, yaitu lafazh yang diucapkan pihak wali atau yang menduduki posisinya. Misalnya, dengan mengatakan, a�?Saya nikahkan kamu dengan anakku, Fulanah.a�? Dan adanya lafazh qabul, yaitu lafazh yang diucapkan calon suami atau yang menduduki posisinya, misalnya mengatakan, a�?Saya terima pernikahan atau perkawinan ini.a�?
Olah karena itulah, Allah Azza wa Jalla menamakan akad ini dengan mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat). Ucapan ijab seperti di atas adalah firman Allah Azza wa Jalla :

U?UZU�UZU�U�UZO� U�UZO�UZU�U� O?UZUSU�O?U? U�U?U�U�U�UZO� U?UZO�UZO�U�O� O?UZU?U�UZO�U�U�UZO�U?UZU�UZO�

Maka ketiak Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (QS. Al-Ahzab 33/ : 37)
Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah dan Ibnu Qayyim rahimahullah berpendapat, bahwa nikah sah dengan lafazh yang menunjukkan demikian, dan tidak terbatas dengan kata-kata menikahkan dan mengawinkan.
Dan nikah juga sah dari orang yang bisu dengan tulisan atau isyarat yang dapat dipahami.
Apabila ijab dan qabul telah dilaksanakan, maka pernikahan dianggap sudah terjadi, meskipun yang mengucapkan hanya bermain-main, tidak bermaksud sungguh-sungguh. Sebab, Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda :

O�UZU�O�UZO�U? O�U?O?U�U?U�U?U�U�UZ O�U?O?U�U? U?UZU�UZO?U�U�U?U�U?U�U�UZ O�U?O?U�U? O�U�U�U�U?U?UZO�O�U? U?UZO�U�O�U�UZU�O�UZU�U? U?UZO�U�O�U�UZO�U�O?UZO�U?

Ada tiga hal; jika serius dianggap serius dan jika bercanda dianggap sungguh-sungguh : nikah, thalaq dan rujuk. (HR. Abu Dawud no. 2129)
 
Bolehkah melaksanakan akad nikah melalui telepon?
Lajnah Daimah Menyatakan agar tidak dilakukan akad nikah melalui telepon, sebab dikhawatirkan adanya penipuan dan pemalsuan serta peniruan suara, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kehormatan dan kemaluan. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah no. 9118)
Berdasarakan denganA� hal di atas, apabila dapat terhindar dari mafsadah, maka akadnya sah melalui telepon. Dan diharuskan untuk melakukan pengecekan agar di dalamnya tidak terdapat ketidaksamaran dan keraguan serta tidak ada unsur penipuan dan pemalsuan dan lainnya. Karena itu, lebih baik tidak menggunakan sarana-sarana tersebut kecuali dalam keadaan sangat darurat.
 
SYARAT SAH NIKAH
 
1. Jelas Siapa Calon Suami atau Istrinya
Bisa dengan menyebutkan nama ataupun sifat yang membedakan dari yang lain atau isyarat. Misalnya, dengan menyebut nama, a�?Saya nikahkan putri saya Fulanah kepadamu”. atau mengatakan, A�a�?Saya nikahkan putri saya yang paling besara�? atau dengan isyarat, a�?Saya nikahkan putri saya ini a�� dengan mengisyaratkan kepadanya-a�?
Karenanya, wali tidak cukup hanya mengatakan, a�?Saya nikahkan putri saya kepadamu.a�?padahal dia memiliki banyak anak perempuan.
2. Keridhaan Kedua Belah Pihak: Suami-Istri
Atas dasar itu, tidak sah jika karena dipaksa, kecuali bagi yang masih kecil yang belum baligh atau bagi yang kurang akal, maka walinya boleh menikahkan tanpa izinnya.
Dalil syarat kedua ini adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahuanhu berikut, bahwa Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda :
Tidak boleh janda dinikahkan sampai diajak biacara, dan tidak boleh gadis dinikahkan sampai diminta izinnya.a�? Para Sahabat bertanya, a�?Wahai Rasulullah, bagaimanakah izinnya?a�? Beliau menjawab, a�?Yaitu dengan diamnya!a�? (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)
3. Wali Wanita yang Menikahkannya
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda,

U�O�UZ U�U?U?UZO�O�UZ O?U?U�O�U�UZ O?U?U?UZU�U?USU?U�

Tidak sah nikah tanpa wali. (HR. Lima Imam Selain Nasaa��i dan dishahihkan oleh Al-Albani.)
Oleh karena itu, jika seorang wanita menikahkan dirinya tanpa wali, maka nikahnya batal (tidak sah), karena hal itu membawa kepada perzinaan. Demikian juga, karena wanita kurang mengetahui tentang hal yang lebih bermaslahat untuk dirinya. Dalil lain bahwa yang menikahkan adalah harus walinya adalah firman Allah Azza wa Jalla :

U?UZO?UZU�U�U?U?O�U?U?O� O�U�U�O?UZUSUZO�U�UZU�U� U�U?U�U�U?U?U�U�

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu. (QS. An-Nur 24/ : 32)
Di ayat ini, Allah Azza wa Jalla menunjukkan khitab (firman) -Nya kepada para wali.
Menurut Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah dalam al-Mulakhkhash al-Fiqhi bahwa wali bagi wanita adalah ayahnya, washiy (orang yang mendapat wasiat),
Kakeknya dari pihak bapak dan seterusnya ke atas, anak laki-lakinya, lalu cucunya dan seterusnya ke bawah, saudara lelakinya sekandung, lalu saudara lelakinya seayah, lalu anak-anaknya, kemudian paman, lalu paman seayah, kemudian anak-anaknya, lalu ashabahnya yang lebih dekat nasabnya seperti dalam warisan, lalu orang yang memerdekakan, kemudian hakim.
 
Bagaimana hukum tentang wali a�?adhal (menolak menikahkan) ?
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (w. 620 H) berkata, a�?Dan apabila seorang wanita meminta walinya untuk menikahkannya dengan seorang yang sepadan, namun walinya menolak, maka walinya yang aba��ad (yang lebih jauh) menikahkannyaa�? (Al-Kafi fi Fiqhi al-Imam Ahmad, III/13.)
Imam An-Nawawi asy-Syafia��I rahimahullah (w. 676 H) berkata, a�?Adhl itu terjadi ketika seorang wanita yang sudah berakal dan baligh akan menikah dengan orang yang sekufua�� dengannya, sementara walinya melarangnya, walaupun kekufua��annya sudah diketahui. Akan tetapi, wali ingin menikahkannya dengan yang lain, maka itu diperbolehkan. (Minhajut Thalibin wa a�?Umdatul Muftin I/ 207)
Dengan demikian hendaklah memperhatikan urutan dalam perwalian, tidaklah penguasa menikahkannya melainkan apabila seluruh wali menolak menikahkannya. Hal tersebut berdasarkan hadits :
Penguasa adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali. (HR. Abu Dawud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ahmad VI/165.)
Adanya Saksi pada akad nikah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam :
Tidak sah nikah, kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil. (HR. Ibnu Hibban no. 4075, Ad-Daruqutni III/225, Al-Baihaqi VII/124, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jamia�� no. 7557.)
 
Wallahu aa��lam
 
Sumber: dari Majalah As-Sunnah_Baituna ed 10 1437 H/2016, Penulis Ustadz Abu Bilal Juli DermawanA�hafidzahullah

READ MORE
Da'wah

Ciri-Ciri Yang Bukan Pria Idaman

Manusia idaman sejati adalah makhluk langka. Begitu banyak ujian dan rintangan untuk menjadi seorang idaman sejati. Kebalikannya, yang bukan idaman malah tersebar di mana-mana. Siapakah pria yang tidak pantas menjadi idaman dan tambatan hati? Apa saja ciri-ciri mereka?
 
Ciri Pertama: Akidahnya Amburadul
Di antara ciri pria semacam ini adalah ia punya prinsip bahwa jika cinta ditolak, maka dukun pun bertindak. Jika sukses dan lancar dalam bisnis, maka ia pun menggunakan jimat-jimat. Ingin buka usaha pun ia memakai pelarisan. Jika berencana nikah, harus menghitung hari baik terlebih dahulu. Yang jadi kegemarannya agar hidup lancar adalah mempercayai ramalan bintang agar semakin PD dalam melangkah.
Inilah ciri pria yang tidak pantas dijadikan idaman. Akidah yang ia miliki sudah jelas adalah akidah yang rusak. Ibnul Qayyim mengatakan, a�?Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman.a�? (Al Fawaid)
Berarti jika aqidah dan iman seseorang rusak padahal itu adalah pokok atau pondasi-, maka bangunan di atasnya pun akan ikut rusak. Perhatikanlah hal ini!
Ciri Kedua: Menyia-nyiakan Shalat
Tidak shalat jamaa��ah di masjid juga menjadi ciri-ciri pria bukan idaman. Padahal shalat jamaa��ah bagi pria adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam al Qura��an dan berbagai hadits. Berikut di antaranya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam dan berkata,

USUZO� O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O?U?U�U�UZU�U? U�UZUSU�O?UZ U�U?U� U�UZO�O�U?O?U? USUZU�U?U?O?U?U�U?U� O?U?U�UZU� O�U�U�U�UZO?U�O�U?O?U?. U?UZO?UZO?UZU�UZ O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? -O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U�- O?UZU�U� USU?O�UZO�U�U?O�UZ U�UZU�U? U?UZUSU?O�UZU�U�U?U�UZ U?U?U� O?UZUSU�O?U?U�U? U?UZO�UZO�U�UZO�UZ U�UZU�U? U?UZU�UZU�U�UZO� U?UZU�U�UZU� O?UZO?UZO�U�U? U?UZU�UZO�U�UZ A� U�UZU�U� O?UZO?U�U�UZO?U? O�U�U�U�U?O?UZO�O?UZ O?U?O�U�O�U�UZU�O�UZO�U? A�. U?UZU�UZO�U�UZ U�UZO?UZU�U�. U�UZO�U�UZ A� U?UZO?UZO�U?O?U� A�.

a�?Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.a�? Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjamaa��ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya, a�?Apakah kamu mendengar adzan?a�? Ia menjawab, a�?Yaa�?. Rasulullah bersabda, a�?Penuhilah seruan (adzan) itu.a�? (HR. Muslim). Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jamaa��ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata,

USUZO� O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZO?U?USU�UZO�UZ U?UZO�U?USO�UZO�U? O�U�U�U�UZU?UZO�U�U�U? U?UZO�U�O?U�U?O?UZO�O?U?. U?UZU�UZO�U�UZ O�U�U�U�UZO?U?U�U�U? -O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U�- A� O?UZO?UZO?U�U�UZO?U? O�UZU�U�UZ O?UZU�UZU� O�U�O�U�UZU�O�UZO�U? O�UZU�U�UZ O?UZU�UZU� O�U�U�U?UZU�O�UZO�U? U?UZO�UZU�U�UZ U�UZU�O�UZ A�.

a�?Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda, a�?Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya a�?alash sholah, hayya a�?alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebuta�?.a�? (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jamaa��ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jamaa��ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!
Imam Asy Syafia��i sendiri mengatakan, a�?Adapun shalat jamaa��ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.a�? (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107)
Jika pria yang menyia-nyiakan shalat berjamaa��ah di masjid saja bukan merupakan pria idaman, lantas bagaimana lagi dengan pria yang tidak menjalankan shalat berjamaa��ah sendirian maupun secara berjamaa��ah?!
Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, a�?Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.a�?
Ciri Ketiga: Sering Melotot Sana Sini
Inilah ciri berikutnya, yaitu pria yang sulit menundukkan pandangan ketika melihat wanita. Inilah ciri bukan pria idaman. Karena Allah Taa��ala berfirman,

U�U?U�U� U�U?U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?USU�UZ USUZO?U?O�U�U?U?O� U�U?U�U� O?UZO?U�O�UZO�O�U?U�U?U�U� U?UZUSUZO�U�U?UZO?U?U?O� U?U?O�U?U?O�UZU�U?U�U� O�UZU�U?U?UZ O?UZO?U�U?UZU� U�UZU�U?U�U� O?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZU�UZ O�UZO?U?USO�U? O?U?U�UZO� USUZO�U�U�UZO?U?U?U�UZ

a�?Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: a�?Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuata�?.a�? (QS. An-Nur 24/ : 30)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahram. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahram, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya.
Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,

.O?UZO?UZU�U�O?U? O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? -O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U�- O?UZU�U� U�UZO?UZO�U? O�U�U�U?U?O�UZO�O?UZO�U? U?UZO?UZU�UZO�UZU�U?U� O?UZU�U� O?UZO�U�O�U?U?UZ O?UZO�UZO�U?U�

a�?Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.a�? (HR. Muslim no. 5770)
Boleh jadi laki-laki tersebut jika telah menjadi suami malah memandang lawan jenisnya sana-sini ketika istrinya tidak melihat. Kondisi seperti ini pun telah ditegur dalam firman Allah,

USUZO?U�U�UZU�U? O�UZO�O�U?U�UZO�UZ O�U�U�O?UZO?U�USU?U�U? U?UZU�UZO� O?U?O�U�U?U?US O�U�O�U�U?O?U?U?O�U?

a�?Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.a�? (QS. Ghafir: 19)
Ibnu a�?Abbas ketika membicarakan ayat di atas, beliau mengatakan bahwa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seorang yang bertamu ke suatu rumah. Di rumah tersebut ada wanita yang berparas cantik. Jika tuan rumah yang menyambutnya memalingkan pandangan, maka orang tersebut melirik wanita tadi. Jika tuan rumah tadi memperhatikannya, ia pun pura-pura menundukkan pandangan. Dan jika tuan rumah sekali lagi berpaling, ia pun melirik wanita tadi yang berada di dalam rumah. Jika tuan rumah sekali lagi memperhatikannya, maka ia pun pura-pura menundukkan pandangannya. Maka sungguh Allah telah mengetahui isi hati orang tersebut yang akan bertindak kurang ajar. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (12/181-182).
Ibnu a�?Abbas mengatakan, a�?Allah itu mengetahui setiap mata yang memandang apakah ia ingin khianat ataukah tidak.a�? Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Qotadah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 12/182, Darul Qurthubah)
Ciri Keempat: Senangnya Berdua-duaan
Inilah sikap pria yang tidak baik yang sering mengajak pasangannya yang belum halal baginya untuk berdua-duaan (baca: berkhalwat). Berdua-duaan (khokwat) di sini bisa pula bentuknya tanpa hadir dalam satu tempat, namun lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via FB dan lainnya. Seperti ini pun termasuk semi kholwat yang juga terlarang.
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U�O�UZ USUZO�U�U�U?U?UZU�U�UZ O�UZO�U?U�U? O?U?O�U�U�O�UZO?UZO�U? O?U?U�O�U�UZ U�UZO?UZ O�U?U� U�UZO�U�O�UZU�U?

a�?Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.a�? (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?UZU�O�UZ U�O�UZ USUZO�U�U�U?U?UZU�U�UZ O�UZO�U?U�U? O?U?O�U�U�O�UZO?UZO�U? U�O�UZ O?UZO�U?U�U�U? U�UZU�U? O? U?UZO?U?U�U�UZ O�UZO�U�U?O�UZU�U?U�UZO� O�U�O?U�UZUSU�O�UZO�U�U? O? O?U?U�O�U�UZ U�UZO�U�O�UZU�U?

a�?Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.a�? (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syua��aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)
Ciri Kelima: Tangan Suka Usil
Ini juga bukan ciri pria idaman. Tangannya suka usil menyalami wanita yang tidak halal baginya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam pun ketika berbaiat dan kondisi lainnya tidak pernah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.
Dari Abdulloh bin a�?Amr, a�?Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.a�? (HR. Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Salim dalam Al Manahi As Syaria��ah)
Dari Umaimah bintu Ruqoiqoh dia berkata, a�?Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda, a�?Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan para wanita, hanyalah perkataanku untuk seratus orang wanita seperti perkataanku untuk satu orang wanita.a�? (HR. Tirmidzi, Nasai, Malik dishohihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaliy)
Zina tangan adalah dengan menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom sehingga ini menunjukkan haramnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu a�?anhu , Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U?U?O?U?O?UZ O?UZU�UZU� O�O?U�U�U? O?O?UZU�UZ U�UZO�U?USO?U?U�U? U�U?U�UZ O�U�O?U�U?U�UZU� U�U?O?U�O�U?U?U? O�UZU�U?U?UZ U�O�UZ U�UZO�UZO�U�UZO�UZ U?UZO�U�U�O?UZUSU�U�UZO�U�U? O?U?U�UZO�U�U?U�UZO� O�U�U�U�UZO?UZO�U? U?UZO�U�O?U?O�U?U�UZO�U�U? O?U?U�UZO�U�U?U�UZO� O�U�O�U?O?U�O?U?U�UZO�O?U? U?UZO�U�U�U�U?O?UZO�U�U? O?U?U�UZO�U�U? O�U�U�U?UZU�O�UZU�U? U?UZO�U�U�USUZO?U? O?U?U�UZO�U�UZO� O�U�U�O?UZO�U�O?U? U?UZO�U�O�U�U?O�U�U�U? O?U?U�UZO�U�UZO� O�U�U�O�U?O�UZO� U?UZO�U�U�U�UZU�U�O?U? USUZU�U�U?UZU� U?UZUSUZO?UZU�UZU�U�UZU� U?UZUSU?O�UZO?U�U?U�U? O�UZU�U?U?UZ O�U�U�U?UZO�U�O�U? U?UZUSU?U?UZO�U�U?O?U?U�U?

a�?Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.a�? (HR. Muslim no. 6925)
Ciri Keenam: Tanpa Arah yang Jelas
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U?UZU?UZU� O?U?O�U�U�U�UZO�U�O?U? O?U?O�U�U�U�O� O?UZU�U� USUZO�U�O?U?O?UZ O?UZU�U�UZU�U� USUZU�U�U�U?U?U? U�U?U?O?UZU�U?

a�?Seseorang dianggap telah berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.a�? (HR. Muslim no. 996)
Berarti kriteria pria idaman adalah ia bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal nafkah.
Sehingga seorang pria harus memiliki jalan hidup yang jelas dan tidak boleh ia hidup tanpa arah yang sampai menyia-nyiakan tanggungannya. Sejak dini atau pun sejak muda, ia sudah memikirkan bagaimana kelak ia bisa menafkahi istri dan anak-anaknya. Di antara bentuk persiapannya adalah dengan belajar yang giat sehingga kelak bisa dapat kerja yang mapan atau bisa berwirausaha mandiri.
Begitu pula hendaknya ia tidak melupakan istrinya untuk diajari agama. Karena untuk urusan dunia mesti kita urus, apalagi yang sangkut pautnya dengan agama yang merupakan kebutuhan ketika menjalani hidup di dunia dan akhirat. Sehingga sejak dini pun, seorang pria sudah mulai membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup untuk dapat mendidik istri dan keluarganya.
Sehingga dari sini, seorang pria yang kurang memperhatikan agama dan urusan menafkahi istrinya patut dijauhi karena ia sebenarnya bukan pria idaman yang baik.
 
Mudah-mudahan ini bisa sebagai petunjuk bagi para wanita muslimah yang ingin memilih laki-laki yang pas untuk dirinya. Dan juga bisa menjadi koreksi untuk pria agar selalu introspeksi diri. Nasehat ini pun bisa bermanfaat bagi setiap orang yang sudah berkeluarga agar menjauhi sifat-sifat keliru di atas. Semoga Allah memudahkannya.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Sumber :A�rumaysho.com

READ MORE
Da'wah

Tanggung Jawab Dalam Pendidikan Anak

Ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla menjadikan manusia pada umumnya lahir karena pernikahan laki-laki dan perempuan, dan anak yang lahir dalam keadaan fithrah, bersih dari dosa. Anak itu ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla menjadi shalih atau maksiat karena pendidikan.
Ketahuilah bahwa sebelum anak bergaul dengan orang lain, terlebih dahulu bergaul dengan orang tuanya, karena itu Allah Azza wa Jalla mengamanatkan pendidikan anak ini kepada kedua orang tuanya.

USUZO� O?UZUSU�U?U�UZO� O�U�U�UZO�U?USU�UZ O?U�UZU�U?U?O� U�U?U?O� O?UZU�U�U?U?O?UZU?U?U�U� U?UZO?UZU�U�U�U?USU?U?U�U� U�UZO�O�U�O�

a�?Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nerakaa��a�? (QS. At-Tahrim 66/ : 6)
Dan juga firman-Nya.

U?UZO?UZU�U�O�U?O�U� O?UZO?U?USO�UZO?UZU?UZ O�U�U�O?UZU�U�O�UZO?U?USU�UZ

a�?Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekata�? (QS. Asy-Syua��ara 26/ : 214)
Disebutkan di dalam riwayat yang shahih bahwa tatkala turun ayat ini Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam memanggil sanak kerabat dan keluarganya, bahkan beliau naik ke bukit Shafa memanggil khalayak ramai agar masing-masing menyelamatkan dirinya dari api neraka.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu a�?anhu bahwa Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda : a�?Tidaklah seorang anak lahir melainkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tualah yang menjadikannya, menasranikannya, dan yang memajusikannya, sebagaimana binatang melahirkan anak yang selamat dari cacat, apakah kamu menganggap hidung, telinga, dan anggota binatang terpotonga�? (HR Muslim : 4803)
Dalil diatas menunjukkan bahwa yang bertanggung jawab dan yang paling utama atas pendidikan anak adalah orang tua, terutama pendidikan aqidah yang menyelamatkan manusia dari api neraka. Dan yang penting lagi, dalil diatas tidak menyinggung sedikitpun bahwa ilmu dunia lebih penting daripada ilmu syariat Islam. Dalil ini hendaknya menjadi pegangan orang tua pada saat menyekolahkan anaknya ketika dirinya berhalangan mendidiknya.
Karena pentingnya pendidikan anak ini, sampai umur dewasa pun orang tua hendaknya tetap memperhatikan pendidikan anaknya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam bahwa beliau mengetuk pintu rumah sahabat Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu a�?anhu dan putrinya Fathimah Radhiyallahu a�?anha sambil menanyakan sudahkah mereka berdua menunaikan shalat? (HR Bukhari 1059 bersumber dari sahabat Ali Radhiyallahu a�?anhu)
Demikian juga para pengajar hendaknya memahami ajaran Islam yang benar sehingga tidak mengajarkan kepada anak didiknya ilmu duniawi yang merusak dien dan akhlak, karena semua tindakan akan dihisab pada hari kiamat.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu a�?anhu Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda. a�?Kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas yang dipimpina�? (HR Bukhari 844)
A�
ILMU DAN MACAMNYA
Perlu di bahas ilmu ini karena erat hubungannya dengan pendidikan anak
Al-Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata : a�?Ilmu ialah mengetahui hakikat sesuatu, hal ini ada dua macam : (1). Mengetahui wujudnya sesuatu. (2). Menghukumi sesuatu itu ada atau tidak ada. Sedangkan dalil yang pertama seperti yang tercantum di dalam surat Al-Anfal ayat 60 dan dalil yang kedua tercantum di dalam surat Al-Mumtahanah ayat 10a�? (Mufradat Al-Fadhil Qura��an : 580)
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :a�?Ilmu menurut bahasa adalah lawan dari jahil, yaitu mengetahui sesuatu dengan pasti. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama ialah : Maa��rifat (mengenal sesuatu). Ada lagi yang berpendapat bahwa ilmu itu lebih jelas daripada sekedar dikenal. Adapun yang kami maksudkan di sini ialah ilmu syara��i yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam yang berisi keterangan dan petunjuk, dan ilmu wahyu inilah ilmu yang terpuji sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam.
a�?Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah baik, maka dimudahkan memahami Dienul Islama�? (HR Bukhari : 29) [Kitabul Ilmi oleh Ibnu Utsaimin hal. 13]
Adapun macam ilmu sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah ada dua ilmu nazhari (teori) dan amali (praktek). Maka ilmu nazhari bila sudah diketahui, itu sudah sempurna, seperti ilmu tentang wujudnya alam. Sedangkan ilmu amali, tidaklah diketahui dengan sempurna kecuali bila telah diamalkan, seperti amal ibadah. Adapun pembagian yang lain : ilmu ada yang aqli (bersumber dari akal, yang diperoleh dengan percobaan yang berulang-ulang) dan ada yang sama��i (bersumber dari wahyu Ilahi yang cepat diperoleh dengan pasti tanpa ada percobaan dan keraguan). [Lihat Mufradat Al-Fadhil Qura��an : 580]
Syaikh Abdurrahman bin Saa��di rahimahullah berkata : a�?Ilmu dibagi menjadi dua :

  1. Ilmu yang bermanfaat, yang dapat menjernihkan jiwa, mendidik akhlak yang mulia, dan memperbaiki aqidah, sehingga dapat menghasilkan amal yang shalih dan membuahkan kebaikan yang banyak. Ilmu ini adalah ilmu syaria��at Islam dan penunjangnya, seperti bahasa Arab.
  1. Ilmu yang tidak mendidik akhlak, tidak memperbaiki akal, dan tidak memperbaiki aqidah. Ilmu ini dipelajari hanya untuk mencari faedah duniawi belaka, itulah ilmu yang dihasilkan oleh manusia dengan beraneka ragam bentuknya,. Jika ilmu ini didasari dengan iman dan landasan Dienul Islam maka menjadilah ilmu duniawiyyah diniyyah. Akan tetapi, bila tidak digunakan untuk membela agama Islam, ilmu itu hanya ilmu dunia belaka, tidak mulia, bahkan berakhir dengan kehinaan, dan boleh jadi akan merusak dirinya sendiri, seperti ilmu membuat senjata dan lainnya, dan boleh jadi mereka sombong dan menghina orang lain termasuk menghina ilmu wahyu yang diturunkan kepada para utusan Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang dijelaskan di dalam surat Ghafir ayat 83a�?. [Al-Mua��in Ala Tahshili Adabil Ilmi wa Akhlaqi Mutaa��allimin oleh Syaikh Abdurrahman As-Saa��di : 37,38]

 
Dari keterangan diatas, dapat kita simpulkan bahwa ilmu dibagi menjadi beberapa bagian. Ditinjau dari segi hakikat dan hukumnya ada dua : (1). Mengetahui hakekat benda, (2). Mengetahui hukum adanya sesuatu dan tidak adanya. Jika ditinjau dari sumbernya ada dua pula : (1). Aqli, (2). Sama��i. Dan jika ditinjau dari faedahnya ada tiga : (1). Ilmu yang pasti berfaedah ialah ilmu syaria��at Islam, (2). Ilmu duniawi yang dilandasi syaria��at Islam dan digunakan untuk khidmah Islam maka bermanfaat pula, dan (3). Ilmu duniawi yang tidak dilandasi iman dan tidak dipergunakan untuk khidmah Islam maka ilmu ini adakan merusak dirinya. Mudah-mudahan keterangan ini menambah wawasan wali murid, di mana hendaknya mereka menyekolahkan anaknya.A�A�
 
Sumber :A�almanhaj.or.id

READ MORE
Da'wah

Bagaimana Agar Bisa Khusyu' Dalam Shalat?

Khusyu’ tempatnya di dalam hati, kemudian menyebarkan pengaruhnya kepada anggota tubuh. Di hati, khusyu’ dapat memberikan pengaruh pada diri seseorang. Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan bahwa khusyu’ yaitu perpaduan antara pengagungan, rasa cinta, dan ketundukan. Khusyu’ ialah suatu keadaan. yang ada pada seseorang yang sedang mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengajarkan langkah-langkah agar kita bisa khusyu’ di dalam shalat, secara ringkasnya adalah jika seseorang mendengar adzan anggaplah itu seakan panggilan hari kiamat;

  1. Ketika ia menutup auratnya hendaknya ia mengingat keburukan-keburukan hatinya yang juga harus ditutup di hadapan Allah Azza wa Jalla.
  2. Ketika ia menghadapkan wajahnya kearah kiblat maka hendaknya ia hadapkan hatinya kepada Allah Azza wa Jalla.
  3. Ketika engkau mengucapkan a�?Allahu Akbara�? maka jangan sampai hatimu berbeda dengan lisanmu yaitu dengan meyakini sesuatu yang lebih besar dari Allah Azza wa Jalla.
  4. Dan ketika engkau meminta perlindungan pada-Nya, lalu membaca ayat-ayat dalam surat al-Fatihah maka resapilah maknanya dengan hatimu, hadirkan tawadhu’ dan merendah di hadapan-Nya.
  5. Ketika ruku’ dan sujud, resapi makna dari bacaan-bacaan yang engkau baca, dan yakinlah apabila engkau laksanakan itu semua niscaya engkau akan merasakan jernihnya hati dan mendapatkan cahaya yang meneranginya.

 
Beliau rahimahullah juga menyebutkan beberapa faktor yang menjadikan shalat kita hidup dan berarti, di antaranya adalah:
Pertama;
Menghadirkan hati ketika shalat, yaitu dengan mengosongkan hati dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi. Hal itu bisa ia dapatkan dengan tekad yang kuat. Dan tekad seseorang akan kuat ketika imannya bertambah, begitu pula sebaliknya. Oleh karenanya, yang menjadikan sulitnya menghadirkan hati dalam shalat adalah lemahnya iman.
Kedua;
Berusaha memahami bacaan-bacaan yang ia baca dalam shalat,A� yaitu dengan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasinya ketika shalat.
Ketiga;
Menghadirkan pengagungan dan rasa takut kepada Allah, dan yang seperti ini bersumber dari dua hal: pertama: mengerti akan keagungan dan keluhuran Allah Azza wa Jalla dan yang kedua adalah mengakui kehinaan dirinya dihadapan Allah Azza wa Jalla.
 
Mengahdirkan Khusyu’ Disetiap Ibadah
Diantara hal yang bisa menghadirkan kekhusyu’an adalah rasa optimis terhadap pahala dari Allah Azza wa Jalla. Jadi, orang yang melaksanakan shalat harus benar-benar mengharapkan balasan dari Allah Azza wa Jalla semata. Namun, perlu kita fahami bahwa khusyu’ tidak hanya dituntut dalam shalat saja, akan tetapi seorang Muslim harus senantiasa menghadirkan kekhusyu’an setiap saat. Dan hal itu tidak bisa digambarkan atau diungkapkan dengan kata-kata, karena khusyu’ merupakan keadaan seseorang dihadapan Allah Azza wa Jalla, dan hanya Allah-lah yang mengetahuinya.
lbrahim an Nakha’i rahimahullah menjelaskan bahwa khusyu’ bukan sekedar memakan makanan yang tidak enak atau memakai pakaian yang jelek, akan tetapi khusyu’ ialah ketika engkau melihat bahwa orang yang mulia maupun hina, keduanya memiliki hak yang sama, dan engkau khusyu’ karena Allah Azza wa Jalla ketika melaksanakan kewajiban-Nya. Dan sungguh para salaf dahulu mereka menjauhi khusyu’ berlebihan yang dibuat-buat.
Sahabat Hudzaifah radhiyallahua��anhu pernah bertutur, a�?Berhati-hatilah kalian dari khusyu’ yang munafik, yaitu hanya badan nya yang khusyu’ namun hatinya tidak. Dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahua��anhu adalah orang yang telah mewujudkan makna khusyu’ yang sesungguhnya, sehingga ia disegani oleh manusia bahkan syaitan pun takut kepadanya. Meski demikian Aisyah radhiyallahua��anha menceritakan tentangnya, a�?Umar bin Khathab adalah orang yang cepat jalannya, kencang suaranya, keras pukulannya, dan memberi makan sampai kenyang, beliau adalah seorang hamba yang sesungguhnyaa�?.
 
Tiga Tingkatan Khusyu’
Ibnul Qayyim rahimahullah membagi khusyu’ menjadi tiga tingkatan:
Tingkatan pertama:
Tunduk terhadap perintah Allah Azza wa Jalla, dan ini bisa dilakukan oleh seorang hamba dengan benar-benar tunduk, menerima dan menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla, serta menunjukkan bahwa ia butuh terhadap hidayah dan pertolongan-Nya, dan juga berharap agar amalannya diterima di sisi-Nya. Ditambah lagi ia benar-benar pasrah terhadap hukum Allah Azza wa Jalla, baik hukum syar’i maupun hukum kauni yaitu takdir, sehingga ia tidak berpaling dari perintah Allah Azza wa Jalla, dan tidak pula murka terhadap ketentuan-Nya.
Tingkatan Kedua:
Berhati-hati terhadap penyakit-penyakit hati yang bisa merusak amalan, seperti: sombong, ujub, riya, lemahnya keyakinan, muncul keraguan dalam hati, serta rusaknya niat.
Tingkatan Ketiga:
Berusaha untuk tidak merasa bangga terhadap amal yang ia kerjakan, atau merasa bahwa ia berhak untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Azza wa Jalla, serta berusaha untuk menyembunyikan amalan-amalan ibadah dari manusia agar selamat dari hal-hal yang bisa merusak niatnya.
 
Sumber: Majalah As-Sunnah 07, 1439H/2017M
 

READ MORE
Info Sehat

Hindari Kekurangan Gizi Akibat Stress

Oleh: dr.A�Dewi Asrini
 
Stres dan gizi adalah dua hal yang saling berhubungan timbal-balik dan saling mempengaruhi. Stres akan merangsang peningkatan hormon adrenalin secara berlebihan dan menyebabkan jantung berdebar cepat. Produksi hormon adrenalin ini membutuhkan zat-zat gizi seperti vitamin B, mineral zinc, kalium dan kalsium. Stres yang berkepanjangan membuat zat-zat gizi tersebut semakin terkuras. Sementara itu penurunan gizi juga ikut memperparah stress hingga menyebabkan kondisi kejiwaan melemah. Karenanya sangat penting bagi seseorang dalam menjaga gizinya dapat meminimalkan kondisi stres itu sendiri.
Stres membuat laju pengunaan vitamin C dalam tubuh meningkat. Stres juga merusak kelenjar timus yang memproduksi sel darah putih sehingga kekebalan tubuh akan menurun.
Salah besar bila kegiatan merokok dianggap sebagai sesuatu yang dapat menenangkan suasana hati yang sedang gundah. Kenyataannya, mengkonsumsi rokok dapat mengakibatkan berkurangnya vitamin C yang bermanfaat bagi tubuh. Sebaiknya hindarilah rokok karena tubuh semakin tidak efisien memanfaatkan zat gizi.
Sama seperti merokok, meminum alkohol sebagaiA� pelampiasan stres justru akan memperparah kondisi tubuh. Alkohol bersifat diuretik yang memicu pengeluaran zat gizi melalui air seni sehingga menimbulkan defisiensi (kekurangan) vitamin B, C, kalsium, kalium, zinc, dan magnesium. Alkohol juga akan menurunkan nafsu makan sehingga tubuh terhalang untuk memperoleh asupan konsumsi gizi seimbang.
Stres akan mengganggu efektifitas kerja melatonin, yaitu subtansi kimiawi yang dihasilkan oleh kelenjar otak yang mengatur jam tidur seseorang.A� Ketika hari mulai malam maka dimulailah proses produksi melatonin dalam tubuh. Sehingga mata mulai mengantuk, kesiagaan berkurang, pencernaan melambat, dan tekanan darah turun. Disaat inilah tubuh memerlukan istirahat, dan keesokan harinya kita akan kembali terjaga dan siap untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Melatonin selain berfungsi sebagai jam alamiah bagi tubuh dan juga bermanfaat sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas. Orang-orang yang hidupnya selalu dilanda stres menyebabkan melatonin tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga tidak heran bila proses penuaan dini lebih cepat mendera orang stres.
Untuk meminimalkan/mengantisipasi kehilangan/kekurangan gizi, khususnya vitamin dan mineral maka sebaiknya kita perhatikan makanan yang kaya akan nutrisi anti stres seperti yang terdapat dalam tabel berikut:
 

Vitamin / MineralBahan Makanan

Vitamin B1

Riboflavin

Niacin

Vitamin B12

Vitamin C

Kalsium

Seng

Magnesium

Daging, sereal

Susu, daging, ikan

Daging, ikan, telur, kacang-kacangan

Hati, daging, susu, ikan laut

Tomat, mangga, jeruk, sayuran hijau

Sarden, susu, teri

Daging, seafood, buncis

READ MORE
Da'wah

Menghilangkan Kegelisahan

Dunia yang fana ini, diwarnai dengan duka, nestapa dan keresahan. Manusia harus menapaki perjalanan terjal kehidupan dunia, sehingga penuh keluh, kesah dan resah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

(O?U?U�U�UZ O�U�O?U�U�O?UZO�U�UZ O�U?U�U?U�UZ U�UZU�U?U?O?U�O� (U?U�) O?U?O�UZO� U�UZO?U�UZU�U? O�U�O?U�UZO�U�U? O�UZO?U?U?O?U�O� (U?U�) U?UZO?U?O�UZO� U�UZO?U�UZU�U? O�U�U�O�UZUSU�O�U? U�UZU�U?U?O?U�O� (U?U?

a�?Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikira�? (QS. Al-Maa��arij 70/ : 19)
Perasaan resah dan khawatir memang sudah ada semenjak manusia ada. Ia sudah menjadi naluri setiap manusia. Namun tampaknya, sering dengan majunya teknologi, justru itu membuat grafik keresahan semakin meningkat. Terutama perasaan takut menyongsong masa depan yang tentunya masih kabur. Banyak manusia yang merasa pesimis dan takut akan masa depannya.
Itulah realita keadaan manusia. Rasa takut, resah, tidak bisa bersabar, tidak mau berbagi, memang melekat pada diri manusia. Dan manusia akan selalu dihantui oleh berbagai perasaan ini. Bahkan sebagai pelampiasannya, ada praktik-praktik yang diharamkan. Termasuk mendatangi para dukun, paranormal atau mempercayai ramalan zodiak, guna meraih ketenangan dan mengetahui nasib di masa depan. Wal a�?iyadzu billah. Namun bagi yang mau mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Taa��ala, ia tidak akan sengsara. Ia tidak akan larut dalam keresahan.

U?UZU�UZU�U? O�O?U�UZO?UZO?UZ U�U?O?UZO�USUZ U?UZU�UZO� USUZO�U?U�U�U? U?UZU�UZO� USUZO?U�U�UZU�

Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (QS. Thaha 20/ :123)
 
Sebenarnya, rasa gelisah dan khawatir yang sifatnya nalurilah ini, ada yang tergolong baik dan terpuji, ada pula yang tercela. Bila keresahan ini disebabkan hal-hal yang baik, maka inilah yang seharusnya hadir dalam diri seorang Muslim. Misalnya resah karena khawatir ada kewajiban yang belum ia menunaikan. Seperti halnya Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam yang pernah shalat Ashar, lalu bergegas-gegas sampai melangkahi orang-orang menuju kamar salah seorang istri Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam. Sampai-sampai orang-orang pun merasa takut dan khawatir melihat betapa Rasul terburu-buru. Hingga Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam keluar a�? menemui Sahabatnya yang terperanjat menyaksikan Rasul. Lalu Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): a�?Aku teringat ada emas pada kami, dan aku khawatir emas tersebut menghalangiku (dari bertawajjuh menghadap-Nya). Lalu akupun menyuruh untuk membahagiakannyaa�? (HR.Al-Bukhari)
Ataupun resah karena ada hak Allah Azza wa Jalla yang tidak ia jalankan dengan baik. Inipun keresahan yang positif. Termasuk juga resah karena khawatir, apakah amalan yang telah dilakukan diterima Allah Subhanahu wa Taa��ala ataukah tidak? Allah Subhanahu wa Taa��ala berfirman:

U?UZO�U�U�UZO�U?USU�UZ USU?O�U�O?U?U?U�UZ U�UZO� O?O?UZU?U�O� U?UZU�U?U�U?U?O?U?U�U?U�U� U?UZO�U?U�UZO�U? O?UZU�U�UZU�U?U�U� O?U?U�UZU�U� O�UZO?U�U?U�U?U�U� O�UZO�O�U?O?U?U?U�UZ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS. Al-Mua��minun 23/ :60)
Mereka yang mendapat pujian Allah Azza wa Jalla ini, bukanlah orang yang bergelimang maksiat. Namun mereka adalah orang yang melakukan ketaatan, namun mereka khawatir kalau-kalau amalan mereka ditolak.
Adapun keresahan yang tercela adalah bila disebabkan urusan dunia dan kemaksiatan. Ia khawatir kalau rezekinya akan seret kalau banyak anak. Seolah ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu wa Taa��ala yang menanggung rezeki para hamba-Nya. Atau resah karena ada luapan nafsunya yang belum bisa ia wujudkan. Ini semua adalah keresahan yang tercela.
Ketika kesusahan menimpa Muslim, ia punya iman yang membuat dirinya berlaku tenang dan sabar. Dan hal terbesar yang ada pada dirinya adalah tauhid. Semakin kuat seorang hamba dalam mentauhidkan Allah Subhanahu wa Taa��ala, maka rasa aman dan nyaman dalam dirinya pun semakin besar.
Inipun bisa dilihat dari doa orang yang dikenai kesusahan. Begitu jelas tauhid tersurat kuat dalam doa tersebut.

O�U�U�U�UZU�U?U�U�UZ O�UZO�U�U�UZO?UZU?UZ O?UZO�U�O�U?U? U?UZU�UZO� O?UZU?U?U�U�U�U?US O?U?U�UZU� U�UZU?U�O?U?US O�UZO�U�U?UZO�UZ O?UZUSU�U�U? O?UZO�U�U�U?O�U� U�U?US O?UZO?U�U�U?US U?U?U�U�UZU�U? U�UZO� O?U?U�UZU�UZ O?U?U�U�UZO� O?UZU�U�O?UZ

a�?Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau. (HR. Abu Daud)
Inilah doa Nabi Yunus a�?alaihis sallam yang membuat beliau aman di dalam perut ikan di tengah kegelapan yang berlapis-lapis.

U�O�UZ O?U?U�UZU�UZ O?U?U�O�UZU� O?UZU�O?UZ O?U?O?U�O�UZO�U�UZU?UZ O?U?U�U?U�US U?U?U�U�O?U? U�U?U�UZ O�U�O?UZU�O�U�U?U�U?USU�UZ

Tisak ada Ilah yang berhak disembah diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Sesunggunya aku termasuk orang yang zhalim.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata,
a�?Barangsiapa meneguhkan hatinya pada Rabbnya, ia akan tenang dan merasa nyaman. Namun barangsiapa melepaskan hatinya mengharap pada manusia, ia pun akan merasa galau dan dirundung kecemasan.a�?
Iman kepada qadha dan qadar juga menghapuskan keresahan dan memupuk sikap optimis. Bila seseorang telah yakin bahwa apa yang telah Allah Azza wa Jalla tentukan pasti terjadi, lalu untuk apa kita didera resah? Dengan demikian kita tidak larut di bawa suasana.
Tidak tertawan menuruti dunia, inipun juga obat menghilangkan keresahan. Orientasi terbesar seorang Muslim adalah kebahagiannya di akhirat. Dunia bukanlah obsesinya dan bukan prioritas utamanya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:
a�?Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, Allah pasti akan menjadikan kekayaannya ada di hatinya, Allah akan menghimpunkan urusannya yang berserak, dan dunia pun akan mendatanginya dengan hina. Sedangkan orang yang dunia menjadi obsesinya, Allah Azza wa Jalla jadikan kefakiran di depan matanya, Allah ceraikan urusannya, dan duniapun tidak datang kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.a�? (HR. At-Tirmidzi).
 
Diantara piranti utama dalam menghilangkan keresahan yaitu dzikir dan shalat. Dengan shalat yang khusyuk, seseorang akan menemukan kesejukan hati. Rasul shallallahu a�?alaihi wa sallam telah menjadi tauladan istimewa dalam hal ini. Beliau shallallahu a�?alaihi wa sallam mengatakan:

U?UZO�U?O?U?U�UZO?U� U�U?O�U�UZO�U? O?UZUSU�U�U?US U?U?US O�U�O�U�UZU�UZO�O�U?

a�?Dan dijadikan kesejukan pandanganku ada di dalam shalata�?. (HR. An-Nasa-i, Ahmad)
Dan bila ditimpa hal berat, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bergegas untuk shalat. Ini merupakan terapi yang begitu agung. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan meninggalkan hamba-Nya bila ia mau tetap bersimpuh dan berlindung kepada-Nya.
Juga menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, dengan shalat malam, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla , menumpahkan segala keluh kesah kepada-Nya, ini semua akan membuahkan manisnya hati dan semakin menambah keimanan. Segala yang menimpa pun telah diketahuinya, bahwa itu semua telah tertulis di sisi Allah Azza wa Jalla . Sehingga keresahan hati pun menjadi hilang.
Begitu pula dengan dzikir. Ia akan membuat hati menjadi tentram dan nyaman. Hidupnya hati adalah dengan berdzikir kepada Allah Azza waA� Jalla . Hatinya ia tautkan kepada Allah. Dengan dzikir hatipun menjadi tenang, dada yang takut menjadi nyaman. Bagaimana tidak, sedangkan hatinya bertaut pada Penciptanya, merasa aman di bawah lindungan-Nya. Keresahan pun enyah dari hatinya. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : a�?Dan kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu diantara orang-orang yang bersujud (shalat)a�? (QS. Al-Hijr 15/ :97-98)
 
Semoga kita semua bisa meniti jalan yang diridhai Allah, sehingga obsesi hati kita pun hanya kepada Allah Taa��ala semata. Dan kala itu, hilanglah segala resah dan gundah.
 
Sumber:A�Majalah As-Sunnah 06, 1437H/ 2016M

READ MORE
Da'wah

Kriteria-Kriteria Memilih Wanita Idaman

Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Ini sangat perlu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga si pria tidak salah dalam memilih. Begitu juga kriteria ini dimaksudkan agar si wanita bisa selalu introspeksi diri. Semoga bermanfaat.
Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus
Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam katakan,

U�UZU�U� O?UZO?UZU� O?UZO�U�UZO�U?U�O� U?UZO?UZO?UZU�UZU�U? O?UZU�U� O?UZU�U�O?U? U�UZU�U� O?U?U�U�O?UZU�U� U�UZU�U? O�UZU�O�UZO�U? O?UZO�U�O?UZO?U?USU�UZ U�UZUSU�U�UZO�U�

a�?Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.a�? (HR. MuslimA� no. 2230 dari Shofiyah, dari sebagian istri Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam.)
Jika sampai membenarkan ramalan tersebut, lebih parah lagi akibatnya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U�UZU�U� O?UZO?UZU� U?UZO�U�U?U�O�U� O?UZU?U� O?UZO�U�UZO�U?O�U� U?UZO�UZO?U�UZU�UZU�U? O?U?U�UZO� USUZU�U?U?U�U? U?UZU�UZO?U� U?UZU?UZO�UZ O?U?U�UZO� O?U?U�U�O?U?U�UZ O?UZU�UZU� U�U?O�UZU�U�UZO?U?

a�?Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qura��an yang diturunkan pada Muhammad.a�? (HR. Ahmad 2/492. Syaikh Syua��aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.)
Begitu pula ia paham tentang hukum-hukum Islam yang berkenaan dengan dirinya dan juga untuk mengurus keluarga nantinya.
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam juga memerintahkan seorang pria untuk memilih perempuan yang baik agamanya. Beliau bersabda,

O?U?U�U�U?UZO�U? O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�U? U�O?UZO�U�O?UZO?U? U�U?U�UZO�U�U?U�UZO� U?UZU�U?O�UZO?UZO?U?U�UZO� U?UZO�UZU�UZO�U�U?U�UZO� U?UZU�U?O?U?USU�U?U�UZO� O? U?UZO�O?U�U?UZO�U� O?U?O�UZO�O?U? O�U�O?U�U?USU�U? O?UZO�U?O?UZO?U� USUZO?UZO�U?UZ

a�?Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugia�?. (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah.)
 
Perhatikanlah kisah berikut yang menunjukkan keberuntungan seseorang yang memilih wanita karena agamanya.
Yahya bin Yahya an Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata, a�?Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah -yaitu istrinya sendiri-. Aku adalah orang yang hina di hadapannyaa�?. Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, a�?Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?a�?. a�?Benar, wahai Abu Muhammada�?, tegas orang tersebut. Ibnu Uyainah berkata,

U�UZU�U� O�UZU�UZO?UZ O?U?U�U�UZ O�U�O?U?O?U�U? O�U?O?U�O?U?U�U?USUZ O?U?O�U�O�U�UZU�U�U? U?UZU�UZU�U� O�UZU�UZO?UZ O?U?U�UZU� O�U�U�O�UZU�U? O�U?O?U�O?U?U�U?USUZ O?U?O�U�U?UZU�U�O�U? U?UZU�UZU�U� O�UZU�UZO?UZ O?U?U�U�UZ O�U�O?U�U?USU�U�U? USUZO�U�U�UZO?U? O�U�U�U�U? U�UZU�U? O�U�O?U?O?U�UZ U?UZO�U�U�O�UZU�UZ U�UZO?UZ O�U�O?U�U?USU�U�U?

a�?Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agamaa�?.
Kemudian beliau mulai bercerita, a�?Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imron, Ibrahim dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imron adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah. Ketika Muhammad hendak menikah, dia berorientasi pada kehormatan. Dia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada dirinya. Pada akhirnya dia jadi orang yang hina. Sedangkan Imron ketika menikah berorientasi pada harta. Karenanya dia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya dia menjadi orang miskin. Keluarga istrinya merebut semua harta yang dia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikitpun. Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini.
Tak disangka suatu hari Maa��mar bin Rasyid datang. Kau lantas bermusyawarah dengannya. Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Maa��mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Jaa��dah dan hadits Aisyah. Hadits dari Yahya bin jaa��dah adalah sabda Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam, a�?Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugia�? (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu kuputuskan untuk menikah karena faktor agama dan agar beban lebih ringan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam. Di luar dugaan Allah kumpulkan untukku kehormatan dan harta di samping agama. (Tahdzib al Kamal, 11/194-195, Asy Syamilah.)
Inilah kriteria wanita idaman yang patut diperhatikan pertama kali a��yaitu baiknya agama- sebelum kriteria lainnya, sebelum kecantikan, martabat dan harta.
 
Kriteria Kedua: Selalu Menjaga Aurat

Kriteria ini pun harus ada dan jadi pilihan. Namun sayangnya sebagian pria malah menginginkan wanita yang buka-buka aurat dan seksi. Benarlah, laki-laki yang jelek memang menginginkan wanita yang jelek pula.
Ingatlah, sangat bahaya jika seorang wanita yang berpakaian namun telanjang dijadikan pilihan. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O�U?U�U�U?UZO�U�U? U�U?U�U� O?UZU�U�U�U? O�U�U�U�UZO�O�U? U�UZU�U� O?UZO�UZU�U?U�UZO� U�UZU?U�U�U? U�UZO?UZU�U?U�U� O?U?USUZO�O�U? U?UZO?UZO�U�U�UZO�O?U? O�U�U�O?UZU�UZO�U? USUZO�U�O�U?O?U?U?U�UZ O?U?U�UZO� O�U�U�U�UZO�O?UZ U?UZU�U?O?UZO�O?U? U?UZO�O?U?USUZO�O?U? O?UZO�O�U?USUZO�O?U? U�U?U�U?USU�O�UZO?U? U�UZO�O�U?U�O�UZO?U? O�U?O?U?U?O?U?U�U?U�U�UZ U?UZO?UZO?U�U�U?U�UZO�U? O�U�U�O?U?O�U�O?U? O�U�U�U�UZO�O�U?U�UZO�U? U�O�UZ USUZO?U�O�U?U�U�U�UZ O�U�U�O�UZU�U�UZO�UZ U?UZU�O�UZ USUZO�U?O?U�U�UZ O�U?USO�UZU�UZO� U?UZO?U?U�U�UZ O�U?USO�UZU�UZO� U�UZUSU?U?O�UZO?U? U�U?U�U� U�UZO?U?USO�UZO�U? U?UZO�UZO� U?UZU?UZO�UZO�

a�?Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.a�? (HR. Muslim no. 2128, dari Abu Hurairah.)
Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah:

  1. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
  1. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Al Minhaj Syarh Sahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/190-191, Dar Ihyaa�� At Turtos, cetakan kedua)

Sedangkan aurat wanita yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Allah Taa��ala berfirman,

USUZO� O?UZUSU�U?U�UZO� O�U�U�U�UZO?U?USU�U? U�U?U�U� U�U?O?UZO?U�U?UZO�O�U?U?UZ U?UZO?UZU�UZO�O?U?U?UZ U?UZU�U?O?UZO�O?U? O�U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?USU�UZ USU?O?U�U�U?USU�UZ O?UZU�UZUSU�U�U?U�U�UZ U�U?U�U� O�UZU�UZO�O?U?USO?U?U�U?U�U�UZ O�UZU�U?U?UZ O?UZO?U�U�UZU� O?UZU�U� USU?O?U�O�UZU?U�U�UZ U?UZU�UZO� USU?O�U�O�UZUSU�U�UZ U?UZU?UZO�U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O?UZU?U?U?O�U�O� O�UZO�U?USU�U�O�

a�?Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mua��min: a�?Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnyaA� ke seluruh tubuh merekaa�?. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33/ : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Taa��ala juga berfirman,

U?UZU�U?U�U� U�U?U�U�U�U?O�U�U�U?U�UZO�O?U? USUZO?U�O�U?O�U�U�UZ U�U?U�U� O?UZO?U�O�UZO�O�U?U�U?U�U�UZ U?UZUSUZO�U�U?UZO?U�U�UZ U?U?O�U?U?O�UZU�U?U�U�UZ U?UZU�UZO� USU?O?U�O?U?USU�UZ O?U?USU�UZO?UZU�U?U�U�UZ O?U?U�U�UZO� U�UZO� O?UZU�UZO�UZ U�U?U�U�U�UZO�

a�?Katakanlah kepada wanita yang beriman: a�?Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.a�? (QS. An Nuur 24/ : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Athoa�� bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. Lihat (Jilbab Al Mara��ah Al Muslimah, Amru Abdul Muna��im, hal. 14.)
A�
Kriteria Ketiga: Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syara��i
Wanita yang menjadi idaman juga sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qura��an dan As Sunnah.
Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Taa��ala berfirman,

U?UZU�UZO�U�U�UZ U?U?US O?U?USU?U?O?U?U?U?U�U�UZ U?UZU�UZO� O?UZO?UZO�U�UZO�U�U�UZ O?UZO?UZO�U�U?O�UZ O�U�U�O�UZO�U�U?U�U?USU�UZO�U? O�U�U�O?U?U?U�UZU�

a�?Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.a�? (QS. Al Ahzab : 33). Abu a�?Ubaidah mengatakan, a�?Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.a�? Az Zujaj mengatakan, a�?Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.a�? (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqia�� Al Islam.)
Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Syarat keempat:A� Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asya��ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?UZUSU�U?U�UZO� O�U�U�O�UZO?UZO�U? O�O?U�O?UZO?U�O�UZO�UZO?U� U?UZU�UZO�U�UZO?U� O?UZU�UZU� U�UZU?U�U�U? U�U?USUZO�U?O?U?U?O� U�U?U�U� O�U?USO�U?U�UZO� U?UZU�U?USUZ O?UZO�U�U?USUZO�U?

a�?Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.a�? (HR. An Nasaa��i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jamia�� no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih.)
Dari Yahya bin Jaa��dah, a�?Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,
O?O�O�O�U� U�O?O�USO?O�O? U?USO�O? O�U�O�O�O�U� O�USO�U?U� U?O?U�U�O� U�U�U?O? O�U�O�O�O�U� O?U�O? O?U�U?U?U�U� O�O�O�O�U� O?U?U�O�O?
a�?Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangiana�? (HR Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107.)
Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

U�U? O?O?U�U� O?USO?U?U� U�US U�U?O?U�O? U?U�U?O?U�O? U�O?O�USO? O?O�O?O�U?U� U�O?U?O�U�O� U?O?O�O� O�O�O�O? U�O?O?O? O?O�U�O�O� U?U�USO?O?U�O�

a�?Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuana�?. Ibrahim mengatakan, a�?Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)a�? (Riwayat Abdur Razaq no 8118.)
Syarat kelima: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu a�?anhu berkata,

U�UZO?UZU�UZ O�U�U�U�UZO?U?U�U�U? a�� O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U� a�� O�U�U�U�U?O�UZU�U�UZO�U?USU�UZ U�U?U�UZ O�U�O�U�U?O�UZO�U�U? O? U?UZO�U�U�U�U?O?UZO�UZO�U�U?U�O�UZO?U? U�U?U�UZ O�U�U�U�U?O?UZO�O?U?

a�?Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.a�? (HR. Bukhari no. 6834.)
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam juga bersabda,

U�UZU�U� O?UZO?UZO?U�UZU�UZ O?U?U�UZU?U�U�U? U?UZU�U?U?UZ U�U?U�U�U�U?U�U�

a�?Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari merekaa�?. (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidhoa�� mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus.)
Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.
 
Kriteria keempat: Betah Tinggal di Rumah
Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Taa��ala berfirman,

U?UZU�UZO�U�U�UZ U?U?US O?U?USU?U?O?U?U?U?U�U�UZ U?UZU�UZO� O?UZO?UZO�U�UZO�U�U�UZ O?UZO?UZO�U�U?O�UZ O�U�U�O�UZO�U�U?U�U?USU�UZO�U? O�U�U�O?U?U?U�UZU�

a�?Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulua�? (QS. Al Ahzab: 33)
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, a�?Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhana�?. (Tafsir Al Qura��an Al a�?Azhim, 11/150.)
Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, a�?Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain)?a�? Jawaban beliau, a�?Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumaha�?. Perawi mengatakan, a�?Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkana�?. Sungguh moga Allah ridha kepadanya.
Ibnul a�?Arabi bercerita, a�?Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnyaa�?. (Tafsir al Qurthubi ketika menjelaskan al Ahzab:33.)
Dari Abdullah, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�UZ O?UZU?U�O�UZO�U?O? U?UZO?U?U�U�UZU�UZO� O?U?O�UZO� O�UZO�UZO�UZO?U� U�U?U�U� O?UZUSU�O?U?U�UZO� O�O?U�O?UZO?U�O�UZU?UZU�UZO� O�U�O?U�UZUSU�O�UZO�U�U? U?UZO?UZU�U?U?U�U?: U�UZO� O�UZO?U�U?US O?UZO�UZO?U? O?U?U�O� O?UZO?U�O�UZO?U�O?U?U�U?O? U?UZO?UZU�U�O�UZO?U? U�UZO� O?UZU?U?U?U�U? O?U?U�UZU� O�U�U�U�UZU�U? O?U?O�UZO� U?UZO�U�UZO?U� U?U?US U�UZO?U�O�U? O?UZUSU�O?U?U�UZO�

a�?Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnyaa�?. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.)
 
Kriteria Kelima: Memiliki Sifat Malu
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O�U�U�O�UZUSUZO�O?U? U�O�UZ USUZO?U�O?U?U� O?U?U�O�U�UZ O?U?O�UZUSU�O�U?

a�?Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.a�? (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari a�?Imron bin Hushain.)
Kriteria ini juga semestinya ada pada wanita idaman. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa a�?alaihis salam. Allah Taa��ala berfirman,

U?UZU�UZU�U�UZO� U?UZO�UZO?UZ U�UZO�O?UZ U�UZO?U�USUZU�UZ U?UZO�UZO?UZ O?UZU�UZUSU�U�U? O?U?U�U�UZO�U� U�U?U�UZ O�U�U�U�UZO�O?U? USUZO?U�U�U?U?U�UZ U?UZU?UZO�UZO?UZ U�U?U�U� O?U?U?U�U?U�U?U�U? O�U�U�O�UZO?O?UZUSU�U�U? O?UZO�U?U?O?UZO�U�U? U�UZO�U�UZ U�UZO� O�UZO�U�O?U?U?U?U�UZO� U�UZO�U�UZO?UZO� U�UZO� U�UZO?U�U�U?US O�UZO?U�UZU� USU?O�U�O?U?O�UZ O�U�O�U�U?O?UZO�O?U? U?UZO?UZO?U?U?U�UZO� O?UZUSU�O�U? U?UZO?U?USO�U? (23) U?UZO?UZU�UZU� U�UZU�U?U�UZO� O�U?U�U�UZ O?UZU?UZU�U�UZU� O?U?U�UZU� O�U�O?U�U?U�U�U? U?UZU�UZO�U�UZ O�UZO?U�U? O?U?U�U�U?US U�U?U�UZO� O?UZU�U�O?UZU�U�O?UZ O?U?U�UZUSU�UZ U�U?U�U� O�UZUSU�O�U? U?UZU�U?USO�U? (24)

a�?Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: a�?Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?a�? Kedua wanita itu menjawab: a�?Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnyaa�?. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.a�? (QS. Qashash : 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa a�?alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,

U?UZO�UZO�O?UZO?U�U�U? O?U?O�U�O?UZO�U�U?U�UZO� O?UZU�U�O?U?US O?UZU�UZU� O�O?U�O?U?O�U�USUZO�O?U? U�UZO�U�UZO?U� O?U?U�U�UZ O?UZO?U?US USUZO?U�O?U?U?U?UZ U�U?USUZO�U�O?U?USUZU?UZ O?UZO�U�O�UZ U�UZO� O?UZU�UZUSU�O?UZ U�UZU�UZO�

a�?Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, a�?Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.a�?a�? (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia ini, menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar bin Khoththob radiyallahu a�?anhu mengatakan, a�?Gadis itu menemui Musa a�?alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.a�? Sanad riwayat ini shahih. (Lihat Tafsir Al Qura��an Al a�?Azhim, 10/451.)
Kisah ini menunjukkan bahwa seharusnya wanita selalu memiliki sifat malu ketika bergaul dengan lawan jenis, ketika berbicara dengan mereka dan ketika berpakaian.
Demikianlah kriteria wanita yang semestinya jadi idaman. Namun kriteria ini baru sebagian saja. Akan tetapi, kriteria ini semestinya yang dijadikan prioritas.
 
Intinya, jika seorang pria ingin mendapatkan wanita idaman, itu semua kembali pada dirinya. Ingatlah: a�?Wanita yang baik untuk laki-laki yang baika�?. Jadi, hendaklah seorang pria mengoreksi diri pula, sudahkah dia menjadi pria idaman, niscaya wanita yang ia idam-idamkan di atas insya Allah menjadi pendampingnya. Inilah kaedah umum yang mesti diperhatikan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
 
Sumber: rumaysho.com

READ MORE
Da'wah

Terbetik a�?Rasaa�? Saat Melihat Wanita Non Mahram

Dalam aturan syariat, wanita seharusnya berdiam di rumahnya. Ia tidak keluar rumah kecuali karena kebutuhan yang syara��i. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

U?UZU�UZO�U�U�UZ U?U?US O?U?USU?U?O?U?U?U?U�U�UZ

a�?Dan Hendaklah Kalian tetap tinggal di rumah-rumah kaliana��.a�?
Walaupun yang diajak bicara dalam ayat di atas adalah istri-istri Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam, hukum yang disebutkan dalam ayat tidak khusus bagi mereka, tetapi berlaku pula bagi wanita-wanita selain mereka.
Namun, di zaman sekarang banyak wanita yang melepaskan diri dari aturan illahi ini tanpa rasa takut dan rasa berdosa. Bisa jadi, mereka melakukannya karena tidak tahu, bisa jadi pula tahu namun tidak peduli.
Akhirnya, begitu mudah didapatkan wanita bertebaran di luar rumahnya, memenuhi jalanan, pertokoan, perkantoran, tempat-tempat keramaian, dan sebagainya. Akibatnya, mau tidak mau lelaki yang paling bertakwa sekalipun akan sering berpapasan dengan wanita. Bisa jadi, secara tidak sengaja pandangan matanya jatuh kepada si wanita. Pandangan pertama yang tanpa disengaja tersebut harus segera dipalingkan, tidak boleh disusul dengan pandangan yang berikutnya, karena itu adalah panah-panah iblis.
Apabila terbetik syahwat dalam jiwanya gara-gara melihat si wanita, RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam memberikan bimbingan dalam hadits berikut ini. Jabir radhiyallahu a�?anhu berkata,
RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam melihat wanita, maka beliau memandang istri beliau, Zainab, yang sedang menyamak kulit, lalu menunaikan “kebutuhan” beliau. setelah itu beliau keluar menemui sahabatnya dan bersabda, “sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Apabila salah seorang dari kalian melihat wanita (lalu terbesit sesuatu dalam jiwanya), hendaklah dia ‘mendatangi’ istrinya, karena hal itu akan menolak apa yang ada (terbesit) dalam jiwanya.” (HR. Muslim no. 3393)
Riwayat lain lebih menjelaskan maksud hadits di atas. RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam menyatakan,
“Apabila salah seorang kalian mengagumi wanita A�(yang dilihatnya) lalu terbesit ‘rasa’ dalam kalbunya, hendaknyalah dia menuju istrinya untuk menggaulinya, karena hal itu akan menolak apa yang ada dalam jiwanya.” (HR. Muslim no. 3394)
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, makna hadits ini adalah disenangi bagi seorang lelaki (yang tidak sengaja) melihat wanita hingga tergerak syahwatnya, untuk mendatangi istrinya atau budak perempuannya apabila dia memiliki budak lalu menggaulinya agar terendam syahwatnya (terpenuhi hasratnya) dan tenang jiwanya, serta kalbunya kembali terkumpul pada apa yang sebelumnya hendak dilakukannya.
Ulama berkata tentang makna ucapan RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam bentuk setan dan mebmblakangi dalam bentuk setan.”
Ini adalah isyarat tentnag hawa nafsu, ajakan untuk terperdaya oleh wanita. Sebab, AllahA�Subhanahu wa Ta’ala memang menjadikan jiwa para lelaki memiliki kecondongan kepada wanita (lelaki senang dengan wanita), merasa nikmat memandang wanita dan apa yang berkaitan dengannya. Wanita serupa dengan setan dalam hal ajakan kepada kejelekan dengan waswas yang dilemparkannya dan menghias-hiasi kejelekan. Dari sini diambil hukum atau aturan bahwa sepantasnya wanita tidak keluar diantara para lelaki kecuali karena kebutuhan yang sangat mendesak. Selain itu, semestinya lelaki menundukkan pandangan dari melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita A�(apalagi melihat sososk/wajahnya), dan berpaling sama sekali dari melihat wanita.
Hadits ini juga menunjukkan, tidak apa-apa bagi seorang suami meminta jima’ (berkumpul) dengan istrinya di siang hari atau waktu selainnya, walaupun istrinya sedang sedang sibuk atau repot dengan sesuatu yang bisa ditinggalkan. Sebab, apabila syahwat lelaki sedang menggelora tidak segera tertunaikan, terkadang akan memudaratkan tubuh, kalbu, atau penglihatannya. Wallahu a’lam. (al-Minhaj, 9/181-182)
 
Sumber: MajalahA�Asy syariah No.95 / VIII / 1434H /2013

READ MORE
Da'wah

Nasehat Tentang Para Pemuda

Pemuda adalah sendi umat dan generasi masa depan. Dari merekalah umat ini terbangun. Dari mereka pula terlahir para Ulama dan kaum intelek, juga para mujahid serta dari mereka pula tumbuh kaum industriawan dan para pakarnya. Apabila para pemuda ini, maka para orang tua akan merasa bahagia dalam hidup ini serta akan terus merasakan manfaatnya meskipun dia sudah meninggal. Para generasi yang shalih yang menyusul orang tua mereka jika orang tua masuk surga. AllahA� Azza wa JallaA� berfirman:

U?UZO�U�U�UZO�U?USU�UZ O?U�UZU�U?U?O� U?UZO�O?U�UZO?UZO?UZO?U�U�U?U�U� O�U?O�U?U�USU�UZO?U?U�U?U�U� O?U?O?U?USU�UZO�U�U? O?UZU�U�O�UZU�U�U�UZO� O?U?U�U?U�U� O�U?O�U?U�USU�UZO?UZU�U?U�U� U?UZU�UZO� O?UZU�UZO?U�U�UZO�U�U?U�U� U�U?U�U� O?UZU�UZU�U?U�U?U�U� U�U?U�U� O?UZUSU�O?U?

a�?Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka; dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal merekaa�? (QS.Ath-Thur 52/ :21)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

O�UZU�U�UZO�O?U? O?UZO?U�U�U? USUZO?U�O�U?U�U?U?U�UZU�UZO� U?UZU�UZU�U� O�UZU�UZO�UZ U�U?U�U� O?O?UZO�O�U?U�U?U�U� U?UZO?UZO?U�U?UZO�O�U?U�U?U�U� U?UZO�U?O�U?U�USU�UZO�O?U?U�U?U�U�

a�?(yaitu) surga a�?Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunyaa�? (QS.Ar-Ra’d 13/ :23)
 
Bertolak dari hal ini, kita dapati perhatian para Nabi mengarah kepada anak keturunan mereka sebelum anak cucu mereka tercipta. Lihatlah Nabi Ibrahim a�?alahis sallam berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan berkata:
A�A�A�

O�UZO?U?U� O�O�U�O?UZU�U�U�U?US U�U?U�U?USU�UZ O�U�O�U�UZU�O�O�U? U?UZU�U?U�U� O�U?O�U?U�USU�UZO?U?US O�UZO?U�UZU�UZO� U?UZO?UZU�UZO?U�UZU�U� O?U?O?UZO�O?U?

a�?Wahai Rabbku! Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat! Wahai Rabb kami! Perkenankanlah doaku.a�? (QS. Ibrahim 14/ :40)
Lihat juga Nabi ZakariaA�a�?alahis sallam berkata:

U�U?U�UZO�U�U?U?UZ O?UZO?UZO� O?UZU?UZO�U?USU�UZO� O�UZO?U�UZU�U? U�UZO�U�UZ O�UZO?U?U� U�UZO?U� U�U?US U�U?U�U� U�UZO?U?U�U�U?UZ O�U?O�U?U�USU�UZO�U� O�UZUSU?U�O?UZO�U� O?U?U�U�UZU?UZ O?UZU�U?USO?U? O�U�O?U�U?O?UZO�O?U?

a�?Wahai Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doaa�? (QS.Ali lmran 3/ :38)
Juga salah seorang hamba yang shalih juga berkata:

O�UZO?U?U� O?UZU?U�O?U?O?U�U�U?US O?UZU�U� O?UZO?U�U?U?O�UZ U�U?O?U�U�UZO?UZU?UZ O�U�U�UZO?U?US O?UZU�U�O?UZU�U�O?UZ O?UZU�UZUSU�UZ U?UZO?UZU�UZU� U?UZO�U�U?O?UZUSU�UZ U?UZO?UZU�U� O?UZO?U�U�UZU�UZ O�UZO�U�U?O�U�O� O?UZO�U�O�UZO�U�U? U?UZO?UZO�U�U�U?O�U� U�U?US U?U?US O�U?O�U?U�USU�UZO?U?US

a�?Wahai Rabbku! Tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai! Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku,a�? (QS. al-Ahqaf 46/ :15)
 
Para as-salafusshalih terdahulu sangat memperhatikan anak-anak mereka sejak usia dini. Mereka mengajarkan dan membiasakan mereka berbuat baik dan menjauhkan mereka dari keburukan. Mereka juga memilihkan para pendidik yang shalih dan guru yang bijaksana lagi takwa untuk putra-putri mereka.
Nabi shallallahu a�?alahi wa sallam sendiri memerintahkan para orang tua untuk memulai pendidikan agama dan akhlak buat anak-anak mereka sejak usia dini yaitu sejak usia tamyiz. Nabi shallallahu a�?alahi wa sallam bersabda:

U�U?O�U?U?O� O?UZU?U�U�O�O?UZU?U?U�U� O?U?O�U�O�U�UZU�O�O�U? U�O?UZO?U�O?U? U?UZO�O�U�O�U?O?U?U?U�U?U�U� O?UZU�UZUSU�U�UZO� U�O?UZO?U�O�U? U?UZU?UZO�U�U?U�U?U?O� O?UZUSU�U�UZU�U?U�U� U?U?US O�U�U�U�U�UZO�UZO�O�U?O?U?

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat dalam usia tujuh tahun dan pukullah mereka jika meninggalkan shalat dalam usia sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka (antara laki dan perempuan)
 
Generasi pemuda suatu umat apabila rusak maka umat itu akan hancur dan akan dijajah oleh para musuhnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan eksistensi umat tersebut terancam punah.
Diantara yang menyesakkan hati dan membuat kita berurai air mata adalah pemandangan yang kita saksikan (atau berita yang kita dengar), dimana banyak pemuda Muslim sekarang ini yang memberontak pada orang tua mereka, berprilaku menyimpang dan agama mereka rusak. Mereka berkumpul dan nongkrong di jalan-jalan mulai dari sore hari sampai dini hari. Mereka banyak melakukan hal-hal yang sia-sia (balapan liar-red) dengan kendaraan-kendaraan sehingga mengganggu para pengguna jalan yang lain, membuat bising dan mengganggu masyarakat setempat serta membuat orang lain terancam bahaya. Yang lebih parah lagi adalah mereka meninggalkan shalat, bahkan mengganggu kaum Muslimin yang sedang menunaikan shalat di masjid. Berbagai keburukan dan kerusakan menyatu pada diri mereka dari berbagai arah, misalnya kecanduan rokok, narkoba, berprilaku buruk dan terjerumus dalam perbuatan keji.
Sungguh berat keburukan yang mereka lakukan dan sungguh besar bahaya yang ditimbulkan, bahkan mereka mulai berani mengancam orang yang berusaha menasehati atau mengingkari mereka.
 
Wahai kaum Muslimin! Sadarilah dan waspadailah ancaman bahaya ini. Berbuatlah sesuatu untuk mencegah dan menuntaskannya dengan sungguh-sungguh dan tekad kuat. Caranya yaitu semua pihak yang berwenang bahu membahu dengan peran masing-masing untuk mencegahnya dengan menggunakan wewenang penguasa dan hukuman yang membuat jera. Para orang tua berkewajiban menahan dan mencegah putra-putri mereka dari kebiasaan buruk tersebut; Para pendidik di sekolah-sekolah dan para imam di masjid-masjid berusaha mengarahkan dan membimbing para pemuda dan menjelaskan kepada mereka bahaya perkumpulan-perkumpulan buruk tersebut (gank) serta memperingatkan mereka agar tidak berteman dengan para penyeru kerusakan dan teman-teman jelek. Hendaknya penduduk kampung bekerjasama membubarkan perkumpulan tersebut dan menjauhkannya dari kampung mereka. Sedangkan untuk para pemuda yang shalih hendaknya ia menasehati teman sejawatnya, karena terkadang para pemuda lebih mudah menerima masukan dari pemuda yang sebaya daripada orang yang lebih tua. Tidak menutup kemungkinan, para musuh Islam memanfaatkan perkumpulan-perkumpulan (gank) yang rusak tersebut untuk merusak para pemuda Muslim karena mereka tahu keburukan yang akan muncul dari perkumpulan semacam ini.
 
Berapa banyak pemuda yang rusak akhlak dan hancur agamanya dengan sebab itu.
Berapa banyak pemuda mencelakai dirinya dan orang lain dengan sebab kegiatan sia-sia dengan kendaraan mereka.
Berapa banyak pemuda yang rusak akalnya dan berubah menyerupai wanita dalam prilaku sehingga menjadi sampah masyarakat dan merusak nama baik keluarga.
Semua itu disebabkan perkumpulan rusak dan pergaulan buruk tersebut.
Wahai orang tua, hendaknya kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla! Hendaknya kita menyadari bahwa kita sekarang ini pada zaman yang penuh dengan berbagai fitnah, kita hidup ditengah para musuh dan orang-orang yang selalu menyebarkan keburukan mereka ditengah kalian dengan jebakan halus nan licik.
Wahai para orang tua! Hendaknya kita selalu ingat dengan baik bahwa harta dan modal yang paling bermanfaat yang kalian dapatkan di dunia selain amalan shalih adalah anak-anak yang shalih. Dalam hadits dari Nabi shallallahu a�?alahi wa sallam:

O?U?O�UZO� U�UZO�O?UZ O�O?U�U�U? O?O?UZU�UZ O�U�U�U�UZO�UZO?UZ O?UZU�UZU�U?U�U? O?U?U�O�U�UZ U�U?U�U� O�UZU�O�UZO�U?: O�UZO?UZU�UZO�U? O�UZO�O�U?USUZO�U? U?UZO?U?U�U�U�U? USUZU�U�O?UZU?UZO?U? O?U?U�U? U?UZU?UZU�UZO?U? O�UZO�U�U?O�U? USUZO?U�O?U?U?U�U�UZU�U?

Apabila anak Adam (manusia) mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga; sedekah jariyah, ilmu yang manfaat dan anak shalih yang mendoakannya.
Sungguh anak-anak kita adalah orang yang akan mengurus dan mendampingi kita ketika tua dan sudah tidak mampu lagi. Merekalah yang menjadi generasi penerus kalian yang menjaga kesucian kalian. Mereka lebih bermanfaat daripada harta. Jika demikian faktanya, lalu bagaimana mungkin kita membiarkan mereka begitu saja dan tidak peduli dengan urusan mereka?!
 
Sungguh semua kaum Muslimin yang memperhatikan bagaimana orang-orang kafir begitu memperhatikan pendidikan anak-anak mereka seharusnya mereka merasa malu, padahal pendidikan anak mereka hanya terfokus pada dunia materialistis. Orang-orang kafir itu tidak membiarkan putra-putri mereka berkeliaran di jalanan dan seakan tidak membiarkan ada waktu kosong buat anak-anak mereka tanpa ada kegiatan. Mereka menjadwal kegiatan mereka dengan sangat rinci sekali.
Kontras dengan fakta di atas, banyak kaum Muslimin yang tidak memperhatikan urusan anak-anak mereka selain urusan pemberian nama, pemenuhan kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Masalah pendidikan kurang atau bahkan tidak mendapatkan porsi perhatian yang memadai. Lebih ironis lagi, sebagian orang tua disamping kurang perhatian dengan pendidikan anak mereka agar menjadi pemuda yang shalih, ditambah lagi dengan penyediaan berbagai sarana perusak atau sarana penunjang kerusakan. Dengan dalih kasih sayang, mereka memberikan anak-anak mereka uang dalam jumlah banyak; Mereka membelikan mobil-mobil mewah serta memenuhi rumah mereka dengan alat-alat musik dan film-film dewasa.
Kalau begini keadaannya, jangan tanya tentang perkembangan buruk anak-anak yang telah terpenuhi semua sarana-sarana perusak tersebut, mulai dari kerusakan akhlak, penyimpangan pemikiran dan berprilaku seperti hewan yang tidak punya rasa malu, seakan menjadi sebuah keniscayaan.
Jangan pula bertanya tentang dosa atau rasa penyesalan mendalam yang menimpa para orang tua ketika menyaksikan anak-anak mereka berbuat durhaka kepada mereka. Di saat para orang tua itu sudah renta dan butuh kepada perbuatan baik dari anak-anak mereka ini, tapi justru saat itu tidak ada kebaikan sama sekali yang dia rasakan.
Allah Azza wa Jalla telah mewasiatkan anak-anak untuk berbakti kepada orang tua dan membalas kebaikan orang tua ketika mereka sudah renta dan kondisi fisik mereka melemah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�UZO�UZU� O�UZO?U�U?U?UZ O?UZU�O� O?UZO?U�O?U?O?U?U?O� O?U?U�O� O?U?USU�UZO�U�U? U?UZO?U?O�U�U�U?UZO�U�U?O?UZUSU�U�U? O?U?O�U�O?UZO�U�U�O� O?U?U�U�UZO� USUZO?U�U�U?O?UZU�U�UZ O?U?U�U�O?UZU?UZ O�U�U�U?U?O?UZO�UZ O?UZO�UZO?U?U�U?U�UZO� O?UZU?U� U?U?U�O�U�U?U�UZO� U?UZU�O� O?UZU�U?U�U� U�UZU�U?U�UZO� O?U?U?U�U? U?UZU�O� O?UZU�U�U�UZO�U�U�U?U�UZO� U?UZU�U?U�U� U�UZU�U?U�UZO� U�UZU?U�U�O� U?UZO�U?USU�U�O� . U?UZO�O�U�U?U?O�U� U�UZU�U?U�UZO� O�UZU�UZO�O�UZ O�U�O�U�U?U�U?U� U�U?U�UZ O�U�O�U�UZO�U�U�UZO�U? U?UZU�U?U�U� O�UZO?U?U� O�O�U�O�UZU�U�U�U?U�UZO� U?UZU�UZO� O�UZO?U�UZUSUZO�U�U?US O�UZO?U?USO�U�O�

a�?Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan A�kepada keduanya perkataan a�?aha�? dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.a�? Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, a�?Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecila�? (QS. Al-lsra 17/ :23-24)
 
Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada anak untuk mengingat kebaikan kedua orang tuanya ketika si anak masih kecil dan lemah. Ini bertujuan supaya si anak lebih bersemangat saat membalas kebaikan kedua orang tua saat kedua orang tua mereka sudah renta dan sudah tidak mampu lagi berbuat banyak. Permasalahan yang terkadang muncul adalah bagaimana jika si anak hanya mengingat perbuatan orang tua mereka yang telah menyia-nyiakan mereka, berbuat jahat kepada mereka serta memberikan arahan yang buruk. Apa yang harus dilakukan kala itu?
Oleh karena itu, wahai para orang tua! Hendaklah kita senantiasa bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kita selalu menyadari bahwa anak-anak itu adalah amanah dari Allah Azza wa Jalla yang dibeban di atas pundak kita. Hendaklah kita bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam mengurusi mereka.
 
Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah taufik-Nya kepada kita semua agar melaksanakan kewajiban, baik sebagai orang tua maupun sebagai generasi muda.. Aamiin
 
Oleh :A�Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan
Sumber:A�Majalah As-Sunnah No.9 1436H/ 2015M

READ MORE
Da'wah

Belajar Memahami Kekurangan Pasangan

Awalnya, semua terasa indah. Namun, ketika badai mulai menyapa, batu karang ujian menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, akhirnya tangis pilu mengiris hati pun meledak tidak terbendung. Itulah manis pahit kehidupan. Semuanya harus diterima sebagai sunatullah. Kadang kita menangis dan terkadang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah Azza wa Jalla.
Kehidupan berumah tangga akan indah jika masing-masing anggotanya mendapat ketenteraman. Sementara itu, ketenteraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka lubang ke-hancuran ada di depan mata.
 
Allah Azza wa Jalla telah menggariskan bagi setiap laki-laki untuk mencintai wanita. Seorang laki-laki yang masih bujang ketika punya keinginan kuat untuk membina rumah tangga, tentu ia akan menaruh harapan yang besar kepada calon istrinya. Dia berharap dan berdoa agar rumah tangganya penuh dengan kedamaian, ketenteraman, dan kebaikan ketika bila hidup bersama. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�U?U�U� O?USUZO�O?U?U�U? O?UZU�U� O�UZU�UZU�UZ U�UZU?U?U�U� U�U?U�U� O?UZU�U�U?U?O?U?U?U?U�U� O?UZO?U�U?UZO�O�U�O� U�U?O?UZO?U�U?U?U�U?U?O� O?U?U�UZUSU�U�UZO� U?UZO�UZO?UZU�UZ O?UZUSU�U�UZU?U?U�U� U�UZU?UZO?U�UZO�U� U?UZO�UZO�U�U�UZO�U� O?U?U�U�UZ U?U?US O�UZU�U?U?UZ U�O?USUZO�O?U? U�U?U�UZU?U�U�U? USUZO?UZU?UZU?U�UZO�U?U?U�UZ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”A�(QS. al-Rum 30/ : 21)
Al-Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan bahwa pernikahan termasuk sebab-sebab yang mendatangkan rasa cinta dan sayang. Dengannya, seorang suami mendapatkan dari istrinya kesenangan, kelezatan, manfaat dengan adanya anak dan mendidik anak, dan perasaan tenteram kepadanya. Engkau tidak akan mendapati permisalan indah dalam perasaan cinta dan sayang seperti sepasang suami dan istri.” (LihatA�Taisir Karim al-Rahman hlm. 639)
Demikianlah, betapa besarnya harapan seorang suami kepada istri tercinta pilihannya. Maka wahai para istri, sambutlah harapan suamimu dengan penuh kehangatan dan kesadaran diri akan agungnya cita-cita mulia ini.
 
KEKURANGAN ADALAH SIFAT ASLI MANUSIA
Ya, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini karena Yang Maha Sempurna hanyalah Allah semata. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO�U?U�U?U�UZ O�U�O?U�U�O?UZO�U�U? O�UZO?U?USU?U�O�

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”A�(QS. al-Nisaa�� 4/ : 28)
Manusia lemah dari segala sisinya: akal, sifat kepribadian, banyak berbuat salah dan dosa, dan sebagainya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:

U?U?U�U�U? O?UZU�U?US O?O?UZU�UZ O�UZO�U�UZO�O?U? U?UZO�UZUSU�O�U? O�U�U�O�UZO�U�UZO�O�U?USU�UZ O�U�O?U�UZU?U�UZO�O?U?U?U�UZ

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah. Dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. Ibn Majah no. 4251, Dinilai hasan oleh al-Syaikh al-Albani dalam al-Misykah no. 2341.)
Ini adalah sunnatullah yang telah digariskan pada setiap manusia. Maka wahai para suami, berapapun besarnya harapanmu kepada istrimu yang merupakan belahan jiwamu ingatlah bahwa istrimu juga manusia. Istrimu manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan. Dia tak lepas dari sifat-sifat kewanitaan, maka janganlah engkau berharap tinggi bahwa istrimu paling sempurna, paling segalanya sehingga ketika engkau mendapatinya bersalah engkau akan kecewa berat dan menyesal. Renungilah hadits berikut ini, wahai para suami:

U?UZU�UZU�UZ U�U?U�U� O�U�O�U�U?O�UZO�U�U? U?UZO�U?USO�U? U?UZU�UZU�U� USUZU?U�U�U?U�U� U�U?U�U� O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? O?U?U�U�UZO� O?O?U?USUZO�U? O�U�U�O�UZO?UZO�U? U?U?O�U�O?UZU?U�U�UZ U?UZU�UZO�U�USUZU�U? O?U?U�U�O?U? O?U?U�U�O�UZO�U�UZ

“Laki-laki yang sempurna banyak, sedang di antara kaum wanita tidak ada yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti ‘Imran.” (HR. Al-Bukhari no. 3411, dan Muslim no. 2431)
Janganlah engkau mimpi di siang bolong bahwa istrimu seperti Khadijah radhiyallahu ‘anha A�atau ‘A’isyah radhiyallahu ‘anha jika dirimu saja bukan Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam. Janganlah engkau mimpi istrimu seperti Fatimah radhiyallahu ‘anha jika engkau tidak seperti ‘Ali ibn Abi Talib radhiyallahu a�?anhu. Ini perlu disadari agar engkau berkaca diri sebelum menilai istrimu sendiri.
Demikian pula engkau, wahai para istri, suamimu adalah imam dalam rumah tanggamu. Terimalah kekurangan yang ada padanya dengan lapang dada, toh dia adalah jodoh yang telah Allah Azza wa Jalla pilihkan untukmu dan engkau menerimanya. Bersikaplah dewasa dengan memahami tugas masing-masing, insya Allah kekurangan yang ada bisa diatasi. Biidznillah.
 
TIDAK MENGELUH
Salah satu kekurangan wanita adalah sering mengeluh dan kurang pandai bersyukur. Dua penyakit inilah yang membawa wanita menjadi penghuni Neraka paling banyak. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:

O?U?O�U?USO?U? O�U�U�U�UZO�O�UZ U?UZO?U?O�UZO� O?UZU?U�O�UZO�U? O?UZU�U�U�U?U�UZO� O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? USUZU?U�U?U?O�U�U�UZ U�U?USU�UZ O?UZUSUZU?U�U?U?O�U�U�UZ O?U?O�U�U�U�UZU�U? U�UZO�U�UZ USUZU?U�U?U?O�U�U�UZ O�U�U�O?UZO?U?USO�UZ U?UZUSUZU?U�U?U?O�U�U�UZ O�U�U�O?U?O�U�O?UZO�U�UZ U�UZU?U� O?UZO�U�O?UZU�U�O?UZ O?U?U�UZU� O?U?O�U�O?UZO�U�U?U�U�UZ O�U�O?U�UZU�U�O�UZ O�U?U�U�UZ O�UZO?UZO?U� U�U?U�U�U?UZ O?UZUSU�O�U�O� U�UZO�U�UZO?U� U�UZO� O�UZO?UZUSU�O?U? U�U?U�U�U?UZ O�UZUSU�O�U�O� U�UZO�U�U?

“Telah diperlihatkan Neraka kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!” Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?” Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam menjawab, “Tidak. (Namun) mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, ‘Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu.’ ”A�A� (HR al-Bukhari no. 29, dan Muslim no. 907)
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam juga mengatakan:

U�O�UZ USUZU�U�O?U?O�U? O�U�U�U�U? O?U?U�UZU� O�U�U�O�UZO?UZO�U? U�O�UZ O?UZO?U�U?U?O�U? U�U?O?UZU?U�O�U?U�UZO� U?UZU�U?USUZ U�O�UZ O?UZO?U�O?UZO?U�U�U?USU� O?UZU�U�U�U?

“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya.” (HR. al-Nasa’i dalam al-Kubra: 9135 dan 9136)
Suami yang lelah setelah seharian mencari nafkah keluarga, usahanya harus disyukuri oleh para istri. Janganlah istri selalu merasa kurang terhadap pemberian suami. Hendaknya istri bersyukur dan membisikkan kepada suaminya “Semoga Allah membalas kebaikanmuA� dan memberkahiA� rezeki yang kita peroleh hari ini”. Bila seorang suami mendengar ucapan ini, rasa lelahnya seketika itu juga akan hilang. Dia akan semangat menjalani kehidupan. Dia akan semakin cinta kepada istrinya. Namun, bila yang ada ialah istri yang tak pernah puas, selalu membandingkan dengan suami orang lain, maka yang demikian dapat membuat sang suami kecewa dan malah membenci dirimu sendiri, wahai sang istri. Rasa cinta suami akan pudar dan akan teringat segala keburukan istrinya. Allah al-Musta’an.
Dan engkau wahai para suami, bersyukurlah terhadap istrimu. Dia adalah jodoh pilihan yang telah engkau terima. Ucapkanlah terima kasih atas segala jasa baik seorang istri, dari mulai mengurus rumah, anak-anak, mengerjakan pekerjaan harian, melayani suami, dan lain-lain dari tugas yang mulia; maka syukurilah hal ini. Berikanlah istrimu senyuman, doakan keberkahan untuknya. Semoga hal ini lebih menambah keharmonisan dalam rumah tanggamu. Allahu A’lam.
 
SOLUSI MEMAHAMI KEKURANGAN PASANGAN
Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam telah memberikan resep jitu agar rumah tangga kita tidak berantakan hanya gara-gara kurang saling memahami kekurangan setiap pasangan. Tiada jalan terbaik dalam memahami kekurangan masing-masing pasangan, kecuali dengan mengikuti sabda Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam yang berbunyi

U�UZO� USUZU?U�O�UZU?U� U�U?O�U�U�U?U�U? U�U?O�U�U�U?U�UZO�U� O?U?U�U� U?UZO�U?U�UZ U�U?U�U�U�UZO� O�U?U�U?U�U�O� O�UZO�U?USUZ U�U?U�U�U�UZO� O?O�UZO�UZ

“Janganlah laki-laki mukmin membenci wanita mukminah (istrinya, Ed). Sebab, jika ia membenci salah satu perangainya, maka ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)
Al-Imam al-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Yaitu hendaknya seorang laki-laki jangan membenci wanita (istrinya, Ed.), jika dia mendapati padanya ada perangai yang tidak disukai, maka pasti dia akan mendapati perangai lain yang dia senangi. Seperti misalnya, paras wajahnya kurang cantik tetapi dia taat beragama, atau bagus akhlaknya, penyayang dan menjaga diri, dan sebagainya.” (Lihat Syarh Sahih Muslim 10/58)
Inilah resep mujarab yang telah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia. Apa yang beliau sabdakan adalah wahyu ilahi yang tak terbantahkan.
Betapa banyak perselisihan dalam rumah tangga menjadi reda bila masing-masing pasangan mau mengamalkan kandungan hadits ini. Istri yang melihat suaminya punya sifat pemarah, akan rida dengan akhlak suaminya yang lain seperti rajin ibadah, rajin ikut taklim, bersemangat mencari nafkah, dan lain-lain.
Kalau demikian, keretakan rumah tangga bisa ditambal dengan saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan. Demikian pula seorang suami yang melihat kekurangan istrinya, seperti tidak pintar masak, tidak hafal Al-Quran, tentu dia tidak akan mengingat kekurangannya saja, dia akan ingat kelebihannya yang lain, seperti rajin dalam mengurus pekerjaan rumah, sayang terhadap anak, dan sebagainya. Allahu A’lam.
 
BERSABAR DAN BERSYUKUR
Dalam kehidupan keluarga, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan berhadapan dengan berbagai problem yang berkaitan erat dengan kelemahan/kekurangan dari masing-masing kita sebagai pasangan.
Ini adalah bagian dari sunnatullah, setiap kita punya kelemahan, di samping bahwa setiap kita punya kelebihan/keutamaan/keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Demikian juga dengan kehidupan suami istri dalam keluarga. Kadang, pada saat tertentu, seorang suami yang harus bersabar dengan kelakuan istri yang kurang berkenan di hatinya, dan pada saat itu istri bersyukur karena memiliki suami yang sabar. Di lain kesempatan, giliran istri yang harus bersabar, melihat kekurangan/ kelemahan suami, sedangkan suami perlu bersyukur karena istrinya bisa bersabar.
Mungkin inilah yang diisyaratkan oleh Nabi kita shallallahu a�?alaihi wa sallam dalam sabdanya:

U?UZO�O?U�O?UZU?U�O�U?U?O� O?U?O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? U?UZO?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�UZ O�U?U�U?U�UZO?U� U�U?U�U� O�U?U�UZO?U? U?UZO?U?U�U�UZ O?UZO?U�U?UZO�UZ O?UZUSU�O?U? U?U?US O�U�O�U�U?U�UZO?U? O?UZO?U�U�UZO�U�U? O?U?U�U� O�UZU�UZO?U�O?UZ O?U?U�U?USU�U?U�U? U?UZO?UZO�U�O?UZU�U? U?UZO?U?U�U� O?UZO�UZU?U�O?UZU�U? U�UZU�U� USUZO?UZU�U� O?UZO?U�U?UZO�UZ O�O?U�O?UZU?U�O�U?U?O� O?U?O�U�U�U�U?O?UZO�O?U? O�UZUSU�O�U�O�

“Berilah nasihat kepada wanita (istri) dengan cara yang baik karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Sesuatu yang paling bengkok ialah sesuatu yang terdapat pada tulang rusuk yang paling atas. Jika hendak meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, sedang jika kalian membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Karena itu, berilah nasihat kepada istri dengan baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5186, dan Muslim no. 1468)
Sebagian ulama salaf berkata, “Ketahuilah bahwasanya tidak disebut akhlak yang baik terhadap istri hanya dengan menahan diri dari menyakitinya, namun dengan bersabar dari celaan dan kemarahannya.”
 
Inilah sebagian solusi dalam memahami perbedaan masing-masing pasangan. Maka hendaknya bagi setiap suami dan istri saling memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Hendaknya mereka saling memahami kekurangan dan kelebihan mas-ing-masing, tidak berat sebelah. Wahai para suami dan para istri, bersyukur dan bersabarlah dalam mengarungi bahtera rumah tangga, demi tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Allahu A’lam.
 
Oleh: Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman
(Dikutip dari Majalah Al-Furqon No.143 Ed.7 1434H/ 2014M A�)

READ MORE
Chat bersama kami