Da'wah

Amalan-Amalan Istimewa di Hari Juma��at

Hari Juma��at merupakan hari yang paling utama (afdhal) dari semua hari dalam sepekan. Dia adalah hari yang penuh barakah. Oleh karenanya, sepantasnya kaum muslimin benar-benar memanfaatkan salah satu waktu yang mulia ini dengan maksimal. Mengisi dengan amalan-amalan yang memang di syariatkan pada hari tersebut.
 
Terdapat berbagai hadits yang menjelaskan keutamaan dan kemuliaan hari Juma��at. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu a�?anhu bahwa Nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:

a�?O�UZUSU�O�U? USUZU?U�U�U? O�UZU�UZO?UZO?U� O?UZU�UZUSU�U�U? O�U�O?U�UZU�U�O?U? USUZU?U�U�U? O�U�U�O�U?U�U?O?UZO�U? U?U?USU�U? O�U?U�U?U�UZ O?O?UZU�U? U?UZU?U?USU�U? O?U?O?U�O�U?U�UZ O�U�U�O�UZU�U�UZO�UZ U?UZU?U?USU�U? O?U?O�U�O�U?O�UZ U�U?U�U�U�UZO� U?UZU�O�UZ O?UZU�U?U?U�U? O�U�O?U�UZO�O?UZO�U? O?U?U�O�U�UZ U?U?US USUZU?U�U�U? O�U�U�O�U?U�U?O?UZO�U?.a�?

a�?Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Juma��at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Juma��at.a�? Shahih Muslim (II/585) Kitaabul Jumua��ah.
 
di antara amalan-amalan yang disyariatkan pada hari Jum’at adalah,
A�1.A�Ketika shalat shubuh di hari Juma��at dianjurkan membaca Surat as-Sajdah dan Surat al-Insan
Sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Hurairah, beliau berkata,

O?UZU�U�UZ O�U�U�U�UZO?U?U�U�UZ -O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U�- U?UZO�U�UZ USUZU�U�O�UZO?U? U?U?U� O�U�O�U�U?O?U�O�U? USUZU?U�U�UZ O�U�U�O�U?U�U?O?UZO�U? O?U? (O�U�U� O?UZU�U�O?U?USU�U?) U?U?U� O�U�O�U�UZU?U�O?UZO�U? O�U�O?U?U?U�UZU� U?UZU?U?U� O�U�O�U�UZO�U�U?USUZO�U? ( U�UZU�U� O?UZO?UZU� O?UZU�UZU� O�U�O?U?U�U�O?UZO�U�U? O�U?USU�U? U�U?U�UZ O�U�O?U�UZU�U�O�U? U�UZU�U� USUZU?U?U�U� O?UZUSU�O�U�O� U�UZO�U�U?U?U?O�U�O�)

a�?Nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Juma��at a�?Alam Tanzil a��a�? (surat As Sajdah) pada rakaa��at pertama dan a�?Hal ataa a�?alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuroa�? (surat Al Insan) pada rakaa��at kedua.a�? (HR. Muslim no. 880)
2. Memperbanyak shalawat kepada baginda nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallam
Bukan perkara yang asing bagi kita keutamaan bershalawat kepada Nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallamA�bersabda,

U�UZU�U� O�UZU�U�UZU� O?UZU�UZUSU�UZ U?UZO�O�U?O?UZO�U� O�UZU�U�UZU� O�U�U�U�U? O?UZU�UZUSU�U�U? O?UZO?U�O�U�O�

a�?Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.a�? (HR. Muslim no. 408 dari shahabat Abu Hurairah)
Terkait hari Juma��at, nabi pun mengingatkan kita untukA� memperbanyak shalawat atas beliau. Nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallamA�menyatakan,

O?UZU?U�O�U?O�U?U?O� O?UZU�UZUSU�UZ U�U?U�UZ O�U�O�U�UZU�UZO�O�U? U?U?US U?U?U�U�U? USUZU?U�U�U? O�U?U�U?O?UZO�U?O� U?UZO?U?U�U�UZ O�UZU�UZO�O�UZ O?U?U�U�UZO?U?US O?U?O?U�O�UZO�U? O?UZU�UZUSU�UZ U?U?US U?U?U�U�U? USUZU?U�U�U? O�U?U�U?O?UZO�U?O? U?UZU�UZU�U� U?UZO�U�UZ O?UZU?U�O�UZO�UZU�U?U�U� O?UZU�UZUSU�UZ O�UZU�UZO�O�U� U?UZO�U�UZ O?UZU�U�O�UZO?UZU�U?U�U� U�U?U�U�U?US U�UZU�U�O?U?U�UZO�U�

a�?Perbanyaklah shalawat kepadaku di setiap juma��at karena sesungguhnya shalawat umatku akan diperlihatkan kepadaku di setiap juma��at. Maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku (pada hari kiamat kelak).a�? (HR. al-Baihaqi no. 2770 dalam Sunan al-Kubra dan Syua��abul Iman dari shahabat Abu Umamah)
3. Dianjurkan membaca surat al-Kahfi
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallamA�menyebutkan tentang keutamaan membaca surat al-Kahfi pada hari Juma��at. Beliau Shallallahu a�?alaihi wa sallamA�bersabda,

U�UZU�U� U�UZO�UZO?UZ O?U?U?O�UZO�UZ O�U�U�U?UZU�U�U?U? U?U?U� USUZU?U�U�U? O�U�U�O�U?U�U?O?UZO�U? O?UZO�UZO�O?UZ U�UZU�U? U�U?U�UZ O�U�U�U�U?U?O�U? U�UZO� O?UZUSU�U�UZ O�U�U�O�U?U�U?O?UZO?UZUSU�U�U?

a�?Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Juma��at, dia akan disinari cahaya di antara dua juma��at.a�?A�(HR. al-Baihaqi no. 606 dari shahabat Abu Said al-Khudri Radhiyallahu a�?anhu)
a�?Membaca surat al-Kahfi pada hari Juma��at merupakan amalan yang disukai dan padanya terkandung keutamaan. Tidak ada bedanya antara seseorang membacanya dengan melihat al-Qura��an atau dengan hafalannya. Hari Juma��at yang dimaksud adalah dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Oleh karena itu, jika seseorang membacanya setelah shalat Juma��at maka dia mendapatkan pahala. Berbeda keadaannya dengan mandi juma��at karena mandi juma��at dilakukan sebelum shalat Juma��at. Mandi juma��at untuk shalat Juma��at sehingga didahulukan dari shalat Juma��at. Nabi bersabda, a�?Jika salah seorang dari kalian berada padaA� hari Juma��at maka mandilah!a�? (Majmua�� Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 16/143)
Perlu diketahui bahwa surat ini tidak dibaca ketika shalat Shubuh pada hari Juma��at, namun dibaca diluar shalat baik sebelum atau sesudah shalat Juma��at. Adapun shalat Shubuh pada hari tersebut maka dengan membaca surat as-Sajdah dan al-Insan sebagaimana yang telah disebutkan pada point pertama. (Lihat Durus al-Haram al-Madani lil a�?Utsaimin 3/11)
4. Memperbanyak Doa��a di hari Juma��at
Pada hari Juma��at terdapat satu waktuA� dikabulkan doa padanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

U?U?USU�U? O?UZO�O?UZO�U?O? U�O�UZ USU?U?UZO�U?U?U�U?U�UZO� O?UZO?U�O?U? U�U?O?U�U�U?U�U?O? U?UZU�U?U?UZ U�UZO�O�U?U�U? USU?O�UZU�U�U?USO? USUZO?U�O?UZU�U? O�U�U�U�UZU�UZ O?UZO?UZO�U�UZU� O?UZUSU�O�U�O�O? O?U?U�U�UZO� O?UZO?U�O�UZO�U�U? O?U?USU�UZO�U�U?

a�?Pada hari itu ada saat yang tidaklah seorang hamba muslim menepatinya dalam keadaan dia berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah melainkan akan dikabulkan oleh-Nya.a�? (HR. al-Bukhari no. 935 dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu a�?anhu)
Terjadi perbedaan pendapat tentang kapan waktu terkabulkannya doa tersebut, antara lain;

  1. Dimulai dari duduknya khatib di atas mimbar hingga selesai shalat
  2. Dimulai dari setelah shalat ashar hingga terbenamnya matahari
  3. Waktu-waktu terakhir penutup hari Juma��at

Setelah menyebutkan 3 waktu tersebut asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan pengarahan, a�?(Hadits-hadits yang menyebutkan tentang 3 waktu tersebut) Seluruhnya shahih dan tidak ada pertentangan padanya. Namun yang paling diharapkan adalah ketika khatib duduk di atas mimbar hingga selesai shalat dan ketika selesai shalat Ashar hingga terbenamnya matahari. Ini adalah waktu-waktu yang paling diharapkan terkabulnya doa.a�?
Kemudian beliau melanjutkan, a�?Pada asalnya seluruh waktu pada hari Juma��at diharapkan padanya pengabulan doa. Namun waktu yang paling diharapkan adalah ketika khatib duduk di atas mimbar hingga selesai shalat dan ketika selesai shalat Ashar hingga terbenamnya matahari. Adapun sisa waktu yang lain tetap diharapkan pula terkabulnya doa karena keumuman hadits-hadits yang menyebutkan tentang hal tersebut. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk memperbanyak doa pada hari Juma��at dengan harapan menepati waktu yang diberkahi ini.
Namun hendaknya tetap mengistimewakan 3 waktu khusus tersebut dengan lebih memperbanyak doa dikarenakan Rasulullah telah menjelaskan bahwa waktu tersebut adalah waktu terkabulnya doa.a�? (lihat Majmua�� Fatawa bin Baz 12/402)
A�
Keberkahan lainnya yang dimiliki hari Juma��at bahwa hari Juma��at merupakan hari berkumpulnya kaum Muslimin.
Hari Juma��at merupakan hari berkumpulnya kaum Muslimin dalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Juma��at yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum Muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia.
Maka, seharusnya seorang Muslim memanfaatkan hari Juma��at yang mulia dan penuh barakah ini dengan melakukan ibadah-ibadah wajib ataupun sunnah, dan mengkonsentrasikan diri pada ibadah-ibadah tersebut sehingga dia dapat meraih pahala yang besar dan ganjaran yang setimpal.
Wallahu aa��lam bish shawab. Semoga bermanfaat..
 
Sumber: buletin-alilmu.net/almanhaj.or.id

READ MORE
Da'wah

Maafkanlah Mereka Yang Menyakitimu

Sebagai makhluk yang memiliki emosi, wajar jika seorang manusia marah. Kita marah jika disakiti atau mendapati kondisi yang tidak menyenangkan. Dada terasa sesak, kepala rasanya panas, rasanya ingin membentak bahkan memukul orang lain. Namun, apakah dengan marah masalah bisa terselesaikan?
 
Jika kita marah, biasanya kita menjadi sulit berpikir jernih. Akibatnya, masalah yang kita hadapi bukannya terselesaikan malah bertambah runyam. Lalu bagaimana solusinya? Solusinya: maafkanlah mereka.
 
Memberi maaf akan mengendurkan syaraf kita yang tegang. Memberi maaf akan mebuat dada ini terasa lapang. Orang lain pun senang bergaul dengan orang yang pemaaf, karena seorang pemaaf tidak akan menjatuhkan martabat orang lain. Bahkan seorang pemaaf juga jarang menzalimi orang yang menzaliminya.
 
Karena mudah memberi maaf inilah, Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam menjadi orang yang paling dicintai oleh kaumnya. Aisyah radhiyallahu a�?anhu menceritakan, a�?Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam bukanlah orang yang kasar dan suka berkata keji, bukan orang yang suka berteriak-teriak di pasar-pasar, tidak suka membalas kejahatan, namun justru suka memaafkan dan toleran.a�? (HR. At Tirmidzi disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah).
 
Allah Subhanahu wa Taala bahkan akan mengampuni dosa orang yang mampu memberi maaf. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya, a�?Sayangilah makhluk Allah, maka engkau akan disayang Allah Subhanahu wa Taala, dan berilah ampunan niscaya Allah Subhanahu wa Taala mengampunimu.a�? (Sahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293).
A�
Kapan Kita Memaafkan?
A�A�A�A� Kita dianjurkan untuk memaafkan apabila itu terkait dengan hak pribadi kita. Namun, apabila bentuk kezaliman itu adalah pelecehan terhadap Allah Azza Wa Jalla, Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam, dan syariatnya, maka kita malah harus marah. a�?Aisyah radhiyallahu a�?anhu berkata, a�?Tidaklah Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali bila kehormatan Allah Subhanahu wa Taala dilukai. Maka beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah Subhanahu wa Taala.a�? (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
A�
A�A�A�A� Namun jangan sampai apabila kita marah karena Allah, marah itu sedemikian hebatnya sampai menguasai emosi kita. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu a�?anhu pernah bergerumul dengan lawannya dalam peperangan. Ia bisa menjatuhkan lalu menghunuskan pedang kepada lawannya untuk membunuhnya. Dalam kondisi itu, si lawan meludahinya. Setelah diludahi, Ali radhiyallahu a�?anhu tidak jadi membunuh lawannya.
 
Ketika ditanya oleh lawannya, beliau menjawab bahwa tatkala menghunuskan pedangnnya beliau radhiyallahu a�?anhu bermaksud membunuh lawannya tersebut karena Allah. Namun ketika diludahi, marah beliau berubah menjadi benci karena diludahi. Karena itulah beliau tidak jadi membunuh, bahkan memaafkan orang yang meludahinya itu.
 
Kisah tersebut mengajarkan kita bahwa separah apa pun penghinaan orang terhadap kita, sebisa mungkin kita memaafkannya. Namun juga perlu diingat bahwa selalu memaafkan disini bukan berarti membiarkan orang lain terus menzalimi kita. Orang lain juga perlu diberi tahu bahwa kita tidak menyukai apa yang dialakukan terhadap kita.
 
Kenapa harus memberi tahu? Kenapa tidak langsung memaafkan saja dalam hati kita? Jawabnya, agar kita pun tetapa memiliki wibawa di depan orang lain, sehingga tidak mudah dilecehkan.
 
Semoga Allah Azza Wa Jalla menjadikan kita orang yang lapang dada, yang mudah memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita. (Ristyandani).
 
Sumber : MajalahA�Tashfiyah

READ MORE
Info Sehat

Cara Menghilangkan Ngantuk di Pagi Hari

Oleh:A�Een Suherni, A. Md. Kep
 
Mengantuk di pagi hari adalah hal yang wajar, apalagi kalau tubuh merasa letih dan lelah. Hanya saja, hal ini bisa berbahaya bagi kita ketika rasa ngantuk dialami saat sedang belajar di sekolah atau saat bekerja.
 
Ada beberapa cara menghilangkan ngantuk di pagi hari sebagai berikut :
Melakukan Aktivitas Pagi Favorit Anda
Tak ada salahnya untuk melakukan aktivitas yang kiranya Anda gemari di pagi hari, misalnya berjalan di sekeliling rumah, menonton televisi sejenak, atau berolahraga ringan supaya tidak mudah dikuasai rasa ngantuk.
Menjauhkan Diri dari Alat Elektronik sebelum Tidur
Sebelum tidur, ada baiknya juga untuk menghindari yang namanya alat-alat elektronik, terutama ponsel dan komputer. Bahkan TV dan alat lainnya yang beradiasi tinggi sebaiknya dihindari. Ini karena alat-alat elektronik tersebut mampu memicu rasa cepat lelahA�pada tubuh kita.
Mengatur Kualitas Tidur Malam
Pastikan Anda mendapatkan tidur cukup di malam hari agar di pagi hari rasa ngantuk tidak timbul. Tidur yang paling berkualitas adalah 7-9 jam per harinya, jadi kalau terlalu sering kurang tidur maka tentu pagi saat bangun akan merasa lebih gampang ngantuk. Pastikan juga menghindari begadang yang bisa mengurangi durasi tidur seharusnya.
Menghindari Tidur Siang
Ada sebagian orang yang tak masalah dengan tidur siang di mana malam harinya bisa tetap tidur seperti biasa. Namun ada beberapa orang yang jika tidur siang, maka malam harinya bakal mengalami sulit tidur. Supaya bisa mendapatkan kualitas tidur yang baik dan pagi tak merasa ngantuk terus, hindari tidur siang sebisa mungkin.
Minum Air Putih setiap Bangun Tidur
Supaya menghilangkan ngantuk di pagi hari, Anda perlu juga mencoba membiasakan diri minum air putih segelas setiap bangun tidur. Semalaman sewaktu kita tidur, cairan tubuh pada dasarnya bakal terkuras dan untuk mengembalikan kadarnya lagi, maka Anda butuh minum air putih. Air putih dingin lebih dianjurkan sebab memang jauh lebih ampuh dalam menyegarkan tubuh ketimbang minum air hangat. Tapi kalaupun Anda merasa lebih nyaman dengan air hangat pun tak masalah jika meminum 1 gelas setiap pagi.
Selalu Sarapan
Jangan melewatkan sarapan di pagi hari karena ketika perut terisi dengan sarapan, otomatis tubuh akan lebih bertenaga dalam menjalani aktivitas. Hanya saja, jangan juga makan terlalu banyak, khususnya makan nasi atau makanan yang mengandung karbohidrat tinggi karena mampu membuat kita makin ngantuk nantinya. Mengonsumsi susu, sereal, roti gandum, serta buah-buahan seperti pisang dan pepaya lebih disarankan.
Berjemur
Berjemur adalah cara yang alami dan tepat memang bagi yang ingin mendapatkan asupan lebih akan vitamin D. Namun selain dapat memperolehA�vitamin DA�tinggi, Anda juga bisa menghilangkan rasa ngantuk.
Mandi
Supaya tidak ngantuk atau supaya ngantuk hilang di pagi hari, mandilah supaya tubuh dan pikiran terasa lebih segar. Sesudah tidur beberapa jam, tubuh tentu akan terasa begitu tak bersemangat, maka mandi pagi hari adalah cara ampuh untuk menghilangkan ngantuk sekaligus meningkatkan kesegaran, terutama mandi subuh-subuh.
 
Sumber: HaloSehat.com

READ MORE
Da'wah

Bersabar Atas Segala Takdir-Nya

Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Tunduk melaksanakan perintah syariat serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menempa hamba-hambaNya. Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran dan untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran juga. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, a�?Sesungguhnya sabar terbagi menjadi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.a�?
 
Firman Allah Subhanahu wa Taa�?ala,

U�UZO� O?UZO�UZO�O?UZ U�U?U�U� U�U?O�U?USO?UZO�U? O?U?U�U�UZO� O?U?O?U?O�U�U�U? O�U�U�U�UZU�U? U� U?UZU�UZU�U� USU?O�U�U�U?U�U� O?U?O�U�U�U�UZU�U? USUZU�U�O?U? U�UZU�U�O?UZU�U? Us U?UZO�U�U�U�UZU�U? O?U?U?U?U�U�U? O?UZUSU�O?U? O?UZU�U?USU�U?

a�?Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.A�Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.a�? (At-Taghabun: 11).
 
Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.

Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh AllA?h akan semakin besar. RasA�lullA?h Shallallahu a�?alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Saa��d bin AbA� WaqqA?sh radhiyallahu a�?anhu :

USUZO� O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O?UZU�U�U? O�U�U�U�UZO�O?U? O?UZO?UZO?U�U? O?UZU�O�UZO?U� U�UZO�U�UZ O�U�O?UZU�U�O?U?USUZO�O?U? O�U?U�U�UZ O�U�O?UZU�U�O�UZU�U? U?UZO�U�O?UZU�U�O�UZU�U? U?UZUSU?O?U�O?UZU�UZU� O�U�O�U�UZO�U?U�U? O?UZU�UZU� O�UZO?UZO?U? O?U?USU�U?U�U? U?UZO?U?U�U� U?UZO�U�UZ O?U?USU�U?U�U? O�U?U�U�O?U�O� O�O?U�O?UZO?U�UZ O?UZU�O�UZO�U?U�U? U?UZO?U?U�U� U?UZO�U�UZ U?U?U� O?U?USU�U?U�U? O�U?U�U�UZO�U? O�O?U�O?U?U�U?U�UZ O?UZU�UZU� O�UZO?UZO?U? O?U?USU�U?U�U?

a�?Ya RasA�lullA?h! Siapakah yang paling berat ujiannya?a�? Beliau menjawab, a�?Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanyaa�?A�HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-NasA?i no. 7482, Ibnu MA?jah no. 4523 (ash-ShahA�hah no. 143)

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu a�?anhu bahwa Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda,
a�?Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hambaNya, maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hambaNya, maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di Hari Kiamat.a�? (HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim).
 
Pahala bagi orang yang ridha atas cobaan yang menimpanya.
Nabi shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda,
a�?Sesungguhnya besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sesungguhnya apabila Allah Taa��ala mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah, maka baginya kemarahan Dari Allah.a�? (Hadits hasan, menurut at-Tirmidzi).

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. AllahA�Taa�?ala berfirman,

U?UZU�UZU�UZO�U�O?U?USUZU�U�UZ O�U�U�UZO�U?USU�UZ O�UZO?UZO�U?U?O� O?UZO�U�O�UZU�U?U� O?U?O?UZO�U�O?UZU�U? U�UZO� U?UZO�U�U?U?O� USUZO?U�U�UZU�U?U?U�UZ

a�?Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakana�?. (An-Nahl: 96)

U�U�UZU�UZO� USU?U?UZU?U�UZU� O�U�O�U�UZO�O?U?O�U?U?U�UZ O?UZO�U�O�UZU�U?U� O?U?O?UZUSU�O�U? O�U?O?UZO�O?U?

a�?Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batasa�?. (Az-Zumar : 10)

Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

U?UZO�U�U�U�UZU�UZO�O�U?U?UZO�U? USUZO?U�O�U?U�U?U?U�UZ O?UZU�UZUSU�U�U?U� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZO�O?U? O?UZU�UZO�U�U? O?UZU�UZUSU�U?U?U� O?U?U�UZO� O�UZO?UZO�U�O?U?U�U� Us U?UZU�U?O?U�U�UZ O?U?U�U�O?UZU� O�U�O?U�UZO�O�U?

a�?Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :a��Salamun a�?alaikum bima shabartuma��. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itua�? (Ar-Raa��d : 23-24)
Dari Shuhaib radhiyallahu a�?anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda. a�?Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginyaa�?.A�Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud

Sumber: KitabTauhid/Syaikh Muhammad At-Tamimi/almanhaj.or.id

READ MORE
Info Sehat

Berbagai Manfaat Tomat

Siapa yang tidak mengenal tomat? Buah yang satu ini selain segar,enak, juga kaya manfaat. Warna tomat yang merah, memikat siapa saja yang melihat untuk mencicipinya. Berbagai macam manfaat untuk tubuh bisa didapat dengan mengonsumsi tomat. Dengan izin Allah Subhanahu wa Taa�?ala, di balik kesegarannya pula,tomat bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit berbahaya. Berikut ini kami sebutkan sebagai manfaat dari tomat.
Mencegah kanker.
Di dalam tomat terdapat zat yang bernama likopen. Kandungan likopen dalam tomat tergolong tinggi. Likopen bermanfaat untuk mengurangi beberapa resiko penyakit kanker. Di antaranya kanker paru-paru, kanker pancreas, usus besar, dan kanker payudara. Di samping itu, bagi pria, likopen dan antioksidan dalam tomat efektif untuk melindungi otak dari serangan stroke.
Membantu mengurangi migrain.
Kandungan riboflavin pada tomat dapat membantu mengurangi serangan migrain. Riboflavin juga dikenal sebagai vitamin B2, mikronutrisi yang mudah dicerna tubuh dan larut dalam air.
Menyehatkan tulang.
Tomat merupakan salah satu buah yang mengandung vitamin K. Vitamin K penting untuk menjaga kesahatan tulang. Satu cangkir tomat mentah mengandu- ng 17% dari nilai harian vitamin yang direkomendasikan untuk tubuh.
Menyehatkan jantung.
Selain vitamin K, tomat ternyata mengandung vitamin B6, niasin, folat, dan potasium. Zat yang membantu menurunkan tekanan darah.
Sahabat bagi penderita diabetes.
Tomat mengandung mineral dan kromium yang digunakan untuk memban- tu menjaga kadar gula darah penderiata diabetes.
Kesehatan mata.
Kandungan vitamin A dalam tomat tergolong tinggi. Fungsi utama vitamin A untuk menjaga kesehatan mata.
Melindungi dari pengaruh asap rokok.
Tomat mengandung asam chlorogenic dan asam coumaric, yang membantu melawan karsinogen yang disebabkan asap rokok.
Pilihlah tomat yang berwarna merah segar serta kepadatan buahnya yang merata, permukaan kulit tomat mulus juga tidak ada noda-noda memar atau bu- suk.
Dengan melihat berbagai manfaat dan kebaikan buah tomat, tidak ada sa- lahnya kita berikhtiar dengan mengonsumsi tomat secukupnya setiap hari. <Arif>.
 
Sumber : MajalahA�Tashfiyah

READ MORE
Da'wah

Jauhi Berprasangka Buruk

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut sua��uzhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal sua��u zhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/bukti merupaan perkara yang terlarang. Demikian jelas ayatnya dalam Al-Qura��anil Karim, Allah Azza Wa Jalla berfirman:

USUZO� O?UZUSU�U?U�UZO� O�U�U�UZO�U?USU�UZ O?U�UZU�U?U?O� O�O�U�O?UZU�U?O?U?U?O� U?UZO�U?USO�U�O� U�U?U�UZ O�U�O?U�UZU�U�U? O?U?U�U�UZ O?UZO?U�O�UZ O�U�O?U�UZU�U�U? O?U?O�U�U�U�

a�?Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangka (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.a�? (Al-Hujurat: 12)
Dalam ayat di atas, Allah Azza Wa Jalla memerintahkan untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang di bangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapat qarinah yang kuat maka timbullah zhannya, apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik. Yang namanya manusia memang mau tidak mau akan tunduk menuruti qarinah yang ada. Yang seperti ini tidak apa-apa. Yang terlarang adalah berprasangka semata-mata tanpa ada qarinah. Inilah zhan yang diperingatkan oleh Nabi shallallahu a�?alaihi wassallam dan dinyatakan oleh beliau sebagai pembicaraan yang paling dusta. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 3/191)
Al-Hafizh ibnu katsir Rahimahullah berkata, a�?Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melarang hamba-hambaNya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni, maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu a�?anhu beliau berkata, a�?janganlah sekali-kali engkau berprasangkaA� kecuali kebaikan terhadap satu kata yag keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan pada kata tersebuta��.a�? (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)
 
Abu Hurairah radhiyallahu a�?anhu pernah menyampaikan sebuah hadits rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam yang berbunyi:
a�?Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganla ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkkannya. Takwa itu disini, takwa itu di sini.a�? Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. a�?Cukuplah sesorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.a�? (HR. Al-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)
Zhan yang disebutkan dalam hadits di atas dan juga di dalam ayat, kata ulama kita, adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang diperingatkan dan larangan adalah tuhmah tanpa ada sebabnya. Seperti seseorang yang dituduh berbuat fahisyah (zina) atau dituduh minum A�khamr padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak), maka haram berzhan yang jelek. Terlebih lagi kepada orang yang keadaannya tertutup dan yang tampak darinya hanyalah kebaikan/keshalihan. Beda halnya dengan seseorang yang terkenal dikalangan manusia sebagai orang yang tidak baik, suka terang-terangan berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang mendatangkan kecurigaan seperti keluar masuk ketempat penjualan khamr, berteman dengan para wanita penghibur yang fajir, suka melihat perkara yang haram dan sebagainya. Orang yang keadaannya seperti ini tidaklah terlarang untuk berburuk sangka kepadanya. (Al-Jamia�� li Ahkamil Qura��an 16/217, Ruhul Maa��aniA�A�13/219)
Al-Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menyebutkan dari mayoritas ulama dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek. (Al Jamia�� li Ahkamil Qura��an, 16/218)
Karenanya, Ibnu Hubairah Al-Wazir Al-Hanbali berkata, a�?Demi Allah, tidak halal berbaik sangka kepada orang yang menolak kebenaran, tidak pula kepada orang yang menyelisihi syariat.a�? (Al-Adabus Syara��iyyah, 1/17)
Sufyan Rahimahullah berkata, a�?Zhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam/menyimpan dan tidak membicarakannya maka ia tidak berdosa.a�?
Dimungkinkan pula, kata Al-Qadhia��iyadh Rahimahullah, bahwa zhan yang dilarang adalah zhan yang murni /tidak beralasan, tidak dibangun diatas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Mua��lim bi Fawa a�? id Muslim, 8/28)
Kepada seseorang muslim yang secara zahir baik agamanya serta menjaga kehormatannya, tidaklah pantas kita berzhan buruk. Bila sampai pada kita berita yang a�?miringa�? tentangnya maka tidak ada yang pantas kita lakukan kecuali tetap berbaik sangka kepadanya. karena itu, tatkala terjadi peristiwa Ifk dimasa Nubuwwah, dimana orang-orang munafik menyebarkan fitnah berupa berita dusta bahwa istri Rasullulah shallallahu a�?alaihi wassallam yang mulia, shalihah, dan thahirah (suci dari perbuatan nista) AisyahA�radiallahhu a��anha berzina, wala��iyadzubillah, dengan sahabat yang mulia Shafwan ibnu Mua��aththal radhiyallahu a�?anhu Allah Azza Wa Jalla mengingatkan kepada hamba-hambanya yang beriman agar tetap berprasangka baik dan tidak ikut-ikutan dengan munafikin menyebarkan kedustaan tersebut. Dalam Tanzil-Nya, DiaA�Azza Wa Jalla berfirman:

U�UZU?U�U�UZO� O?U?O�U� O?UZU�U?O?U�O?U?U�U?U?U�U? O?UZU�U�UZ O�U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?U?U�UZ U?UZO�U�U�U�U?O�U�U�U?U�UZO�O?U? O?U?O?UZU�U�U?U?O?U?U�U?U�U� O�UZUSU�O�U�O� U?UZU�UZO�U�U?U?O� U�UZU�O�UZO� O?U?U?U�U?U? U�U?O?U?USU�U?

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa mereka tidak berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata“.a�? (An-Nur: 12)
Dalam Al-Qura��anul karim, Allah Azza Wa Jalla mencela orang-orang Badui yang takut berperang ketika mereka diajak untuk keluar bersama pasukan mujahidin yang dipimpim oleh Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam. Orang-orang Badui ini dihinggapi dengan zhan yang jelek.

O?UZUSUZU�U?U?U�U? U�UZU?UZ U�U�U�U�U?O�UZU�U�UZU?U?U?U�UZ U�U?U�UZ U�U�U�O?UZO?U�O�UZO�O?U? O?UZO?UZU�UZO?U�U�UZO�U� O?UZU�U�U?UZU�U�U?U�UZO� U?UZO?UZU�U�U�U?U?U�UZO� U?UZU�O?U�O?UZO?U�U?U?O�U� U�UZU�UZO� Us USUZU�U?U?U�U?U?U�UZ O?U?O?UZU�U�O?U?U�UZO?U?U�U?U� U�U�UZO� U�UZUSU�O?UZ U?U?U� U�U?U�U?U?O?U?U�U?U�U� Us U�U?U�U� U?UZU�UZU� USUZU�U�U�U?U?U? U�UZU?U?U� U�U�U?U�UZ U�U�U�U�UZU�U? O?UZUSU�U�U�U�O� O?U?U�U� O?UZO�UZO�O?UZ O?U?U?U?U�U� O�UZO�U�U�O� O?UZU?U� O?UZO�UZO�O?UZ O?U?U?U?U�U� U�UZU?U�O?U�U?O� Us O?UZU�U� U?UZO�U�UZ U�U�U�U�UZU�U? O?U?U�UZO� O?UZO?U�U�UZU�U?U?U�UZ O�UZO?U?USO�U�U?O�A�(U?U?)U?

O?UZU�U� O?UZU�UZU�O?U?U�U� O?UZU� U�U�UZU� USUZU�U�UZU�U?O?UZ U�U�O�U�UZO?U?U?U�U? U?UZU�U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?U?U�UZ O?U?U�UZU�U�U� O?UZU�U�U�U?USU�U?U�U� O?UZO?UZO?U�O� U?UZO?U?USU�U?U�UZ O�UZU�U�U?U?UZ U?U?U� U�U?U�U?U?O?U?U?U?U�U� U?UZO?UZU�UZU�O?U?U�U� O?UZU�U�UZ U�U�O?U�UZU?U�O?U? U?UZU?U?U�O?U?U�U� U�UZU?U�U�U�U?O� O?U?U?O�U�O� (U?U?)U?

a�?Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, a�?Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.a�� Mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Katakanlah, a�?Maka siapakah gerangan yang dapat menghalangi-halangi kehendak Allah jika dia menghendaki manfaat bagi kalian. Bahkan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang yang beriman sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kalian memandang baik dalam hati kalian persangkaan tersebut. Dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk, kalian pun menjadi kaum yang binasa.a�? (Al-Fath 11-12)
Wallahu aa��lam bish-shawab.
 
Sumber : MajalahA�Asy Syariah

READ MORE
Da'wah

Adab Dalam Bertetangga

Hidup tenang,A� tanpa ada gangguan. Demikianlah keinginan kita semua. Tentu saja ketenangan itu tidak berarti kita dapatkan dengan cara hidup menyendiri di hutan atau gunung-gunung, tanpa ada interaksi dengan orang lain. Sebab, manusia adalah makhluk social, butuh kepada yang lain. Dalam ulasan berikut ini, kita akan melihat rambu-rambu kehidupan manusia dalam hubungannya dengan tetangga. Beberapa hak tetangga yang wajib kita tunaikan adalah:
Berbuat Baik Kepada Tetangga.
Allah Taa��ala berfirman,

U?UZO�O?U�O?U?O?U?U?O� O�U�U�U�UZU�UZ U?UZU�UZO� O?U?O?U�O�U?U?U?U?O� O?U?U�U? O?UZUSU�O�U�O� U� U?UZO?U?O�U�U�U?UZO�U�U?O?UZUSU�U�U? O?U?O�U�O?UZO�U�U�O� U?UZO?U?O�U?US O�U�U�U�U?O�U�O?UZU�U� U?UZO�U�U�USUZO?UZO�U�UZU�U� U?UZO�U�U�U�UZO?UZO�U?U?USU�U? U?UZO�U�U�O�UZO�O�U? O�U?US O�U�U�U�U?O�U�O?UZU�U� U?UZO�U�U�O�UZO�O�U? O�U�U�O�U?U�U?O?U? U?UZO�U�O�U�UZO�O�U?O?U? O?U?O�U�U�O�UZU�U�O?U? U?UZO�O?U�U�U? O�U�O?U�UZO?U?USU�U? U?UZU�UZO� U�UZU�UZU?UZO?U� O?UZUSU�U�UZO�U�U?U?U?U�U� U� O?U?U�U�UZ O�U�U�U�UZU�UZ U�UZO� USU?O�U?O?U�U? U�UZU�U� U?UZO�U�UZ U�U?O�U�O?UZO�U�U�O� U?UZO�U?U?O�U�O�

a�?Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.a�? (QS. An Nisa: 36).
Dalam ayat yang mulia ini Allah Azza Wa Jalla menyebutkan kewajiban kita untuk berbuat baik kepada para tetangga setelah perintah untuk berbuat baik kepada ibu bapak, karib kerabat, dan anak-anak yatim. Demikianlah kemuliaan seorang tetangga di sisi Allah Taa��ala. Allah Taa��ala menggandengkan penyebutan tetangga Bersama dengan orang-orang yang memiliki hak yang besar atas kita. Ini menunjukkan besarnya hak tetangga untuk dipenuhi dengan baik.
Tidak Menyakitinya Baik Dalam Bentuk Perbuatan Maupun Perkataan.
Di anatara hak tetangga yang wajib kita tunaikan adalah tidak menyakiti mereka. Lebih-lebih lagi Rasullullah shallallahu a�?alaihi wassallam begitu keras mengancam seseorang yang menyakiti dan mengganggu tetangganya. Rasullullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya, a�?Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.a�? (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Bagaimana jika tetangga menyakiti kita? Usahakanlah agar kita dapat bersabar, sekaligus berdoa kepada Allah Taa��ala, Agar Allah memberikan taufik kepada tetangga tersebut.A�Sehingga ia tidak menyakiti kita. Lihatlah sabda Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam yang artinya, a�?Ada 3 golongan yang dicintai Allah (Salah satunya adalah) seseorang yang memiliki tetangga yang senantiasa menyakitinya. Namun dia bersabar menghadapi gangguannya tersebut hingga kematian atau perpisahan memisahkan keduanya.a�? (HR. Ahmad dari sahabat Abu Dzar Radiallahhuanhu dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jamia��).A�Inilah pendapat yang diutarakan oleh Ibnu Abbas Radiallahhuanhu.
Adapun bila kita tidak mampu untuk bersabar atas gangguan mereka, maka boleh bagi kita untuk mengadukan kepada waliyul amr, yaitu pemerintah. Supaya pemerintah dapat memberikan keputusan yang adil dan baik. Tidak diperkenankan bagi kita untuk membalas mereka dengan kezaliman pula.
Menolong dan Bersedekah Kepadanya Jika Dia Termasuk Golongan Yang Kurang Mampu.
Termasuk hak tetangga adalah menolong saat dia kesulitan dan bersedekah jika dia membutuhkan bantuan. Beliau Rasullullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya,
a�?Sedekah tidak halal bagi orang kaya, kecuali di jalan Allah atau ibnu sabil atau kepada tetangga miskin.a�? (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Said Al Khudri Radiallahhuanhu dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al irwaa��).
Lihatlah bagaimana Allah memerhatikan keadaan tetangga seorang muslim, terlebih tetangga yang hidup serba kekurangan. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya,
a�?Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya suatu kesulitan dari berbagai kesulitan di hari kiamat kelak.a�? (HR. Muslim).
Menutup Kesalahan dan Menasehatinya Agar Bertaubat dan Bertaqwa Kepada Allah SWT.
Jika kita mendapati tetangga memiliki aib, maka hendaklah kita merahasiakannya. Jika aib itu berupa kemasiatan kepada Allah Taa��ala maka nasehatilah dia untuk bertaubat dan ingatkanlah agar takut kapada azab-Nya. Rasullullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya,
a�?Barangsiapa menutupi aib muslim lainnya, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak.a�? (HR. Muslim). Hadits ini berlaku umum untuk siapa saja. Termasuk dalam hal ini adalah tetangga kita.
Berbagi Dengan Tetangga.
Jika kita memiliki nikmat berlebih, maka hendaknya kita membagikan kepada tetangga kita.A�Sehingga mereka juga menikmatinya. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya,
a�?Jika engkau memasak daging berkuah, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetanggamu.a�? (HR. Muslim).
Terlebih lagi dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallamA�mengancam setiap muslim yang kenyang, namun membiarkan tetangganya kelaparan. Rasulullah shallallahu a�?alaihi wassallam bersabda yang artinya,
a�?Bukanlah seorang mukmin bila tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan.a�? (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad).
 
Lalu Siapakah Tetangga Kita?
Tetangga mancakup mereka yang muslim maupun nonmuslim, ahli ibadah atau fasik, teman dan musuh, orang asing dan orang sedaerah, orang yang bisa memberi manfaat dan orang yang memberi madharat, orang dekat dan orang jauh, serta yang paling dekat dengan rumahnya atau yang lebih jauh. Mereka memiliki hak yang bertingkat-tingkat, sebagiannya memiliki skala prioritas yang lebih tinggi dari pada yang lainnya. Yang paling tinggi adalah yang terkumpul padanya seluruh sifat yang pertama; seorang muslim, ahli ibadah, saudara, dan seterusnya. Kemudian yang terbanyak dan seterusnya sampai yang hanya mempunyai satu sifat di atas. Dan kebalikannya, yang paling rendah, adalah yang terkumpul padanya sifat-sifat yang kedua; nonmuslim, fasik, musuh, dan seterusnya. Maka masing-masing diberikan hak mereka menurut keadaanya. Terkadang bertentangan antara dua sifat atau lebih, maka diunggulkan salah satunya atau disamakan. Demikian disebutkan oleh Al Hafidz ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari.
Para tetangga adalah mereka yang rumahnya dekat dengan kita dari sebelah kanan, kiri, depan, maupun belakang dengan jumlah sekitar empat puluh rumah. Ali bin Abi Thalib Radiallahhuanhu berpendapat bahwa siapa saja yang mendengar teriakan kita, maka merekalah tetangga kita.
Merekalah kaum yang memiliki hak-hak tetangga atas kita. Semoga Allah Azza Wa Jalla menjadikan kita sebagai orang yang dapat menunaikan kewajiban kapada tetangga-tetangga kita. Amiin.
 
Sumber : Majalah Tashfiyah, Edisi:23

READ MORE
Da'wah

Bolehkah Satu Sembelihan untuk Qurban dan Aqiqah?

Mengenai permasalahan menggabungkan niat udh-hiyah (qurban) dan aqiqah, para ulama memiliki beda pendapat.
Pendapat pertama: Udh-hiyah (qurban) tidak boleh digabungkan dengan aqiqah. Pendapat ini adalah pendapat ulama Malikiyah, Syafia��iyah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad.
Alasan dari pendapat pertama ini karena aqiqah dan qurban memiliki sebab dan maksud tersendiri yang tidak bisa menggantikan satu dan lainnya. a�?Aqiqah dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran seorang anak, sedangkan qurban mensyukuri nikmat hidup dan dilaksanakan pada hari An Nahr (Idul Adha). (Lihat Mawsua��ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1526, Multaqo Ahlul Hadits.)
Al Haitami a��salah seorang ulama Syafia��iyah- mengatakan, a�?Seandainya seseorang berniat satu kambing untuk qurban dan a�?aqiqah sekaligus maka keduanya sama-sama tidak teranggap. Inilah yang lebih tepat karena maksud dari qurban dan a�?aqiqah itu berbeda.a�? (Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj, 41/172, Mawqia�� Al Islam.)
Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkiy dalam Fatawa Kubronya menjelaskan, a�?Sebagaimana pendapat ulama madzhab kami sejak beberapa tahun silam, tidak boleh menggabungkan niat aqiqah dan qurban. Alasannya, karena yang dimaksudkan dalam qurban dan aqiqah adalah dzatnya (sehingga tidak bisa digabungkan dengan lainnya, pen). A�Begitu pula keduanya memiliki sebab dan maksud masing-masing. Udh-hiyah (qurban) sebagai tebusan untuk diri sendiri, sedangkan aqiqah sebagai tebusan untuk anak yang diharap dapat tumbuh menjadi anak sholih dan berbakti, juga aqiqah dilaksanakan untuk mendoakannya.a�? (Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubro, 9/420, Mawqia�� Al Islam)
Pendapat kedua: Penggabungan qurban dan a�?aqiqah itu dibolehkan. Menurut pendapat ini, boleh melaksanakan qurban sekaligus dengan niat a�?aqiqah atau sebaliknya. Inilah salah satu pendapat dari Imam Ahmad, pendapat ulama Hanafiyah, pendapat Al Hasan Al Bashri, Muhammad bin Sirin dan Qotadah.
Al Hasan Al Bashri mengatakan, a�?Jika seorang anak ingin disyukuri dengan qurban, maka qurban tersebut bisa jadi satu dengan a�?aqiqah.a�? Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, a�?Tetap dianggap sah jika qurban digabungkan dengan a�?aqiqah.a�? (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 5/116, Maktabah Ar Rusyd, cetakan pertama, tahun 1409 H.)A�
Al Bahuti a��seorang ulama Hambali- mengatakan, a�?Jika waktu aqiqah dan penyembelihan qurban bertepatan dengan waktu pelaksanaan qurban, yaitu hari ketujuh kelahiran atau lainnya bertepatan dengan hari Idul Adha, maka boleh melakukan aqiqah sekaligus dengan niat qurban atau melakukan qurban sekaligus dengan niat aqiqah. Sebagaimana jika hari a�?ied bertepatan dengan hari Juma��at, kita melaksanakan mandi juma��at sekaligus dengan niat mandi a�?ied atau sebaliknya.a�? (Syarh Muntahal Irodaat, 4/146, Mawqia�� Al Islam.)
Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Beliau mengatakan, a�?Jika qurban dan a�?aqiqah digabungkan, maka cukup dengan satu sembelihan untuk satu rumah. Jadi, diniatkan qurban untuk dirinya, lalu qurban itu juga diniatkan untuk a�?aqiqah.
Sebagian mereka yang berpendapat demikian, ada yang memberi syarat bahwa aqiqah dan qurban itu diatasnamakan si kecil. Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa tidak disyaratkan demikian. Jika seorang ayah berniat untuk berqurban, maka dia juga langsung boleh niatkan aqiqah untuk anaknya.a�? (Fatawa wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/136, Asy Syamilah) Intinya, Syaikh Muhammad bin Ibrahim membolehkan jika qurban diniatkan sekaligus dengan aqiqah.
A�
Point Penting dalam Penggabungan Niat
Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa penggabungan niat A�diperbolehkan jika memang memenuhi dua syarat:

1. Kesamaan jenis.

2. Ibadah tersebut bukan ibadah yang berdiri sendiri, artinya ia bisa diwakili oleh A� A� A� A� A� A� ibadah sejenis lainnya.

Kami contohkan di sini, bolehnya penggabungan niat shalat tahiyatul masjid dengan shalat sunnah rawatib. Dua shalat ini jenisnya sama yaitu sama-sama shalat sunnah. Mengenai shalat tahiyatul masjid, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?O�UZO� O?UZO�UZU�UZ O?UZO�UZO?U?U?U?U�U� O�U�U�U�UZO?U�O�U?O?UZ U?UZU�UZO� USUZO�U�U�U?O?U� O�UZO?U�UZU� USU?O�UZU�U�U?USUZ O�UZU?U�O?UZO?UZUSU�U�U?

a�?Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua rakaa��at (shalat sunnah tahiyatul masjid).a�? (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 714, dari Abu Qotadah.) Maksud hadits ini yang penting mengerjakan shalat sunnah dua rakaa��at ketika memasuki masjid, bisa diwakili dengan shalat sunnah wudhu atau dengan shalat sunnah rawatib. Shalat tahiyatul masjid bukan dimaksudkan dzatnya. Asalkan seseorang mengerjakan shalat sunnah dua rakaa��at (apa saja shalat sunnah tersebut) ketika memasuki masjid, ia berarti telah melaksanakan perintah dalam hadits di atas.
Namun untuk kasus aqiqah dan qurban berbeda dengan shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah tahiyatul masjid. Qurban dan aqiqah memang sama-sama sejenis yaitu sama-sama daging sembelihan. Namun keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri dan tidak bisa digabungkan dengan lainnya. Qurban untuk tebusan diri sendiri, sedangkan aqiqah adalah tebusan untuk anak. Lihat kembali penjelasan Ibnu Hajar Al Makki di atas.
 
Jalan Keluar dari Masalah
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum menggabungkan niat udh-hiyah (qurban) dan a�?aqiqah, jika Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak?
Syaikh rahimahullah menjawab, a�?Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan udh-hiyah (qurban), maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah (artinya qurban sudah jadi satu dengan aqiqah, pen). Sebagaimana pula jika seseorang masuk masjid dan langsung melaksanakan shalat fardhu, maka tidak perlu lagi ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Alasannya, karena dua ibadah tersebut adalah ibadah sejenis dan keduanya bertemu dalam waktu yang sama. Maka satu ibadah sudah mencakup ibadah lainnya.
Akan tetapi, saya sendiri berpandangan bahwa jika Allah memberi kecukupan rizki, (ketika Idul Adha bertepatan dengan hari aqiqah), maka hendaklah ia berqurban dengan satu kambing, ditambah beraqiqah dengan satu kambing (jika anaknya perempuan) atau beraqiqah dengan dua kambing (jika anaknya laki-laki).a�? (Majmua�� Fatawa wa Rosail Al a�?Utsaimin, 25/287-288, Darul Wathon-Dar Ats Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.)
 
Kesimpulan

  1. Dari dua pendapat di atas, kami lebih condong pada pendapat pertama yang menyatakan bahwa penggabungan niat antara aqiqah dan qurban tidak diperbolehkan, karena walaupun ibadahnya itu sejenis namun maksud aqiqah dan qurban adalah dzatnya sehingga tidak bisa digabungkan dengan yang lainnya. Pendapat pertama juga lebih hati-hati dan lebih selamat dari perselisihan yang ada.
  2. Jika memang aqiqah bertepatan dengan qurban pada Idul Adha, maka sebaiknya dipisah antara aqiqah dan qurban.
  3. Jika mampu ketika itu, laksanakanlah kedua-duanya. Artinya laksanakan qurban dengan satu kambing atau ikut urunan sapi, sekaligus laksanakan aqiqah dengan dua kambing (bagi anak laki-laki) atau satu kambing (bagi anak perempuan).
  4. Jika tidak mampu melaksanakan aqiqah dan qurban sekaligus, maka yang lebih didahulukan adalah ibadah udh-hiyah (qurban) karena waktunya bertepatan dengan hari qurban dan waktunya cukup sempit. Jika ada kelapangan rizki lagi, barulah ditunaikan aqiqah.

 
Wallahu aa��lam bish showab.
 
Sumber : rumaysho.com

READ MORE
Da'wah

Masih Enggan Berqurban?

Kenapa masih enggan berqurban? Kalau mampu, jangan buang kesempatan. Qurban adalah salah satu wujud bersyukur atas nikmat kehidupan.
Sebagian orang memiliki kelebihan harta yang sebenarnya sudah bisa berqurban dengan satu ekor kambing atau 1/7 sapi secara patungan. Namun memang sifat manusia sulit mengeluarkan harta yang ia sukai. Padahal qurban mengandung hikmah dan keutamaan yang besar.
Qurban yang kita kenal biasa disebut dengan udhiyah. Secara bahasa udhiyah berarti kambing yang disembelih pada waktu mulai akan siang dan waktu setelah itu. Ada pula yang memaknakan secara bahasa dengan kambing yang disembelih pada Idul Adha.
Sedangkan menurut istilah syara��i, udhiyah adalah sesuatu yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Taa��ala pada hari nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat yang khusus. (Lihat Al Mawsua��ah Al Fiqhiyyah, 5: 74).
 
Perintah Qurban
Qurban pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya adalah firman Allah Taa��ala,

U?UZO�UZU�U?U� U�U?O�UZO?U?U�U?UZ U?UZO�U�U�O�UZO�U�

a�?Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).a�? (QS. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah a�?berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)a�?. Tafsiran ini diriwayatkan dari a�?Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu a�?Abbas, juga menjadi pendapat a�?Athoa��, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 9: 249).
 
Dari hadits terdapat riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu a�?anhu, ia berkata,

O�UZO�U�UZU� O�UZO?U?U?U�U? O�U�U�U�UZU�U? O�UZU�U�UZU� O�U�U�U�UZU�U? O?UZU�UZUSU�U�U? U?UZO?UZU�U�UZU�UZ O?U?U?UZO?U�O?UZUSU�U�U? O?UZU�U�U�UZO�UZUSU�U�U? O?UZU�U�O�UZU�UZUSU�U�U? U�UZO�U�UZ U?UZO�UZO?UZUSU�O?U?U�U? USUZO�U�O?UZO�U?U�U?U�UZO� O?U?USUZO?U?U�U? U?UZO�UZO?UZUSU�O?U?U�U? U?UZO�O�U?O?U�O� U�UZO?UZU�UZU�U? O?UZU�UZU� O�U?U?UZO�O�U?U�U?U�UZO� U�UZO�U�UZ U?UZO?UZU�U�UZU� U?UZU?UZO?U�UZO�UZ

a�?Rasulullah shallallaahu a��alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : a�?Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca a�?bismillaha�� dan bertakbir.a�? (HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966)
Kaum muslimin pun bersepakat (berijmaa��) akan disyaria��atkannya qurban. (Fiqhul Udhiyah, hal. 8)
Hikmah Berqurban
1- Qurban dilakukan untuk meraih takwa. Yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, bukan hanya daging atau darahnya. Allah Taa��ala berfirman,

U�UZU�U� USUZU�UZO�U�UZ O�U�U�U�UZU�UZ U�U?O�U?U?U�U?U�UZO� U?UZU�UZO� O?U?U�UZO�O�U?U�UZO� U?UZU�UZU?U?U�U� USUZU�UZO�U�U?U�U? O�U�O?U�UZU�U�U?UZU� U�U?U�U�U?U?U�U�

a�?Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.a�? (QS. Al Hajj: 37)
Kata Syaikh As Saa��di mengenai ayat di atas, a�?Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah qurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan Dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari qurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), a�?Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nyaa�?. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riyaa�� atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. Inilah yang mesti ada dalam ibadah lainnya. Jangan sampai amalan kita hanya nampak kulit saja yang tak terlihat isinya atau nampak jasad yang tak ada ruhnya.a�? (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 539).
2- Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
3- Qurban dilaksanakan untuk menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim a��kholilullah (kekasih Allah)- a�?alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail a�?alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
4- Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismaa��il a�?alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Ismaa��il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya. (Lihat Al Mawsua��ah Al Fiqhiyyah, 5: 76)
5- Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, a�?Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattua�� dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan qurban.a�? (Lihat Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah, hal. 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2: 379)
 
Tetaplah Berqurban Ketika Mampu Walau Hukum Qurban Sunnah
Dari Ummu Salamah radhiyallahu a�?anha, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

O?U?O�UZO� O?UZO�UZU�UZO?U? O�U�U�O?UZO?U�O�U? U?UZO?UZO�UZO�O?UZ O?UZO�UZO?U?U?U?U�U� O?UZU�U� USU?O�UZO�U�U?U�UZ U?UZU�O�UZ USUZU�UZO?U�UZ U�U?U�U� O?UZO?UZO�U?U�U? U?UZO?UZO?UZO�U?U�U? O?UZUSU�O�U�

a�?Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.a�? (HR. Muslim no. 1977)
Imam Asy Syafia��i rahimahullah berkata, a�?Dalam hadits ini adalah dalil bahwasanya hukum qurban tidaklah wajib karena Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda, a�?Jika kalian ingin menyembelih qurban a��a�?. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, beliau akan bersabda, a�?Janganlah memotong rambut badannya hingga ia berqurban (tanpa didahului dengan kata-kata: Jika kalian ingin a��, pen)a�?.a�? (Disebutkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubro, 9: 263)
Walau menurut pendapat mayoritas ulama hukum berqurban itu sunnah, tetaplah berqurban apalagi mampu. Untuk orang yang mampu dan kaya mengeluarkan 2,5 juta rupiah untuk qurban kambing atau patungan sapi sebenarnya begitu enteng. Tinggal niatan saja yang perlu dikuatkan.
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah setelah memaparkan perselisihan ulama mengenai hukum qurban, beliau berkata, a�?Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, a�?Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu dan ambil perkara yang tidak meragukanmu.a�? Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu aa��lam.a�? (Adhwaa��ul Bayan, 5: 618)
Berutang Tidaklah Masalah untuk Berqurban
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, a�? Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, “Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?a�? Abu Hatim menjawab, a�?Aku telah mendengar firman Allah,

U�UZU?U?U�U� U?U?USU�UZO� O�UZUSU�O�U?

a�?Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.a�? (QS. Al Hajj: 36)a�?. (Tafsir Al Qura��an Al a�?Azhim, 5: 415)
Untuk masalah aqiqah, Imam Ahmad berkata,

O?O�O� U�U� USU?U� U�O�U�U?O�U� U�O� USO?U�U� U?O�O?O?U�O�O� O?O�O�U? O?U� USO�U�U? O�U�U�U�U� O?U�USU� O� U�O?U�U�U� O?O�USO� O?U�U�O� O�O?U?U� O�U�U�U�U� O�U�U� O�U�U�U� O?U�USU� U?O?U�U�

a�?Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam.a�? (Matholib Ulin Nuha, 2: 489, dinukil dari Al Mawsua��ah Al Fiqhiyyah, 30: 278). Untuk qurban pun berlaku demikian, bisa dengan berutang.
 
Pilihlah Hewan Qurban Terbaik
Ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, (7) sekeliling mata hitam.
Hewan qurban yang dipilih adalah yang sudah mencapai usia musinnah. Musinnah dari kambing adalah yang telah berusia satu tahun (masuk tahun kedua). Sedangkan musinnah dari sapi adalah yang telah berusia dua tahun (masuk tahun ketiga). Sedangkan unta adalah yang telah genap lima tahun (masuk tahun keenam). Inilah pendapat yang masyhur di kalangan fuqoha. Atau bisa pula memilih jadzaa��ah yaitu domba yang telah berusia enam hingga satu tahun.
Kemudian jauhi cacat hewan qurban yang wajib dihindari yang bisa membuat qurbannya tidak sah. Ada empat cacat yang membuat hewan qurban tidak sah: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Kalau dianggap tidak sah, berarti statusnya cuma daging biasa, bukan jadi qurban.
Sedangkan cacat yang tidak mempengaruhi turunnya kualitas daging tidaklah masalah seperti ekor yang terputus, telinga yang terpotong dan tandung yang patah. Cacat ini yang dimakruhkan.
Intinya, ketika berqurban berusaha memilih hewan qurban yang terbaik, menghindari cacat yang membuat tidak sah dan cacat yang dimakruhkan. Ibnu Taimiyah sampai berkata,

U?UZO�U�O?UZO�U�O�U? U?U?US O�U�O?U?O�U�O�U?USU�UZO�U? O?UZU�UZU� U�UZO?U�O�U? O�U�U�U?USU�U�UZO�U? U�U?O�U�U�UZU�U�O�

a�?Pahala qurban (udhiyah) dilihat dari semakin berharganya hewan yang diqurbankan.a�? (Fatawa Al Kubro, 5: 384). Semakin berharga hewan qurban yang dipilih, berarti semakin besar pahala.
Berqurban itu begitu mudah, kita bisa berqurban dengan 1 kambing atau patungan 1/7 sapi. Masing-masing qurban tersebut bisa diniatkan untuk satu keluarga. Imam Asy Syaukani rahimahullah pernah berkata, a�?Qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.a�? (Nailul Author, 8: 125).
Semoga bermanfaat. Semoga Allah berkahi rezeki setiap yang mau berqurban.
 
Sumber: muslim.or.id

READ MORE
Da'wah

Tuntunan Mencari Sang Dambaan Hati

Kita harus bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat-Nya, termasuk nikmat kecenderungan kepada lawan jenis. Seperti nikmat-nikmat yang lain, mensyukuri nikmat yang satu ini harus di atas bimbingan ilmu syara��i. Bukan justru memperturutinya sesuai bujukan hawa nafsu dan kenikmatan sesaat saja. Solusinya adalah dengan menikah. Di antara makna menikah adalah mencari pendamping hidup. Pendamping hidup kita di dunia. Harapannya, pendamping hidup tersebut bisa mendukung segala ketaatan kita kepada Sang Penguasa. Maka dari itu, pembahasan kita adalah a�?mencari si dambaan hatia�?.
 
Pertama Adalah Berkaca
Anda harus sadar bahwa jodoh yang Allah takdirkan adalah yang sekufu (setara), baik dari sisi agama maupun akhlak. Sebab, makna jodoh itu sendiri adalah sekufu. Artinya, laki-laki shaleh akan mendapatkan wanita shalehah, dan sebaliknya. Hal ini merupakan ketetapan Allah yang penuh hikmah dan keadilan. Allah berfirman (artinya), a�?Perempuan-perempuan yang jelek (bukan shalehah) adalah untuk laki-laki yang jelek (bukan shaleh). Dan laki-laki yang jelek adalah untuk perempuan-perempuan yang jelek pula. Perempuan-perempuan yang baik (shalehah) adalah untuk laki-laki yang baik (shaleh). Dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik pula.a�? (QS. an-Nur: 26)
Jadi, berkacalah terlebih dahulu!
Lihat kekurangan diri sendiri, lalu benahilah!
Ukurlah jodoh Anda, sejauh mana tingkat agama, ibadah, dan akhlaknya dengan mengukur diriA� Anda sendiri. Yakinlah, jodoh Anda adalah cermin Anda sendiri.
Jangan Putus Asa!
Tetapi terus berusaha . . . Bukan saatnya kita berpangku tangan. Bukan waktunya tidak berikhtiar. Islam menghasung pemeluknya untuk berikhtiar dalam segala kebaikan, termasuk urusan jodoh. Optimislah, serahkan segala urusan kepada Allah. Rasulullah bersabda,

O�O�U�O�U?O�U� O?UZU�UZU� U�UZO� USUZU�U�U?UZO?U?U?UZO? U?UZO�O?U�O?UZO?U?U�U� O?U?O�U�U�U�U? U?UZU�UZO� O?UZO?U�O�UZO?

a�?Bersemangatlah pada sesuatu yang bermanfaat bagimu! Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah (malas).a�? (HR. Muslim no. 2664)
Agama Prioritas Utama
Wajar dan manusiawi, bila ada yang mencari istri cantik, bermateri lagi bernasab. Hal tersebut memang dibenarkan oleh syariat.
Simak kisah berikut!
Seorang laki-laki pernah menemui Rasulullah. Ia ingin menikahi wanita dari anshar. Maka Rasulullah memberikan bimbingan, a�?Pergi dan Lihatlah wanita tersebut! Karena pada mata wanita anshar itu ada kekurangan.a�? (HR. Muslim no. 1424)
Namun, di samping fisik, materi maupun nasab, ada faktor lain yang mesti diperhatikan oleh seorang yang hendak menikah. Faktor tersebut adalah agama. Agama merupakan salah satu kriteria dalam memilih jodoh. Bahkan itulah yang pertama dan utama. Kebaikan agama dan akhlak menjadi pondasi dalam membangun rumah tangga. Jangan sampai faktor fisik dan meteri yang diutamakan, lalu mengenyampingkan agama dan akhlak. Dengarkanlah bimbingan Rasulullah berikut,

O?U?U�U�U?UZO�U? O�U�U�U�UZO�U�O?UZO�U? U�U?O?UZO�U�O?UZO?U?O? U�U?U�UZO�U�U?U�UZO� U?UZU�U?O�UZO?UZO?U?U�UZO� U?UZU�U?O�UZU�UZO�U�U?U�UZO� U?UZU�U?O?U?USU�U�U?U�UZO�O? U?UZO�O?U�U?UZO�U� O?U?O�UZO�O?U? O�U�O?U?U�USU�U�U?

a�?Perempuan dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah oleh kalian perempuan yang baik agamanya.a�? (HR. Muslim no. 3620)
Dalam kesempatan lain, beliau mewanti-wanti para orang tua maupun wali,

O?U?O�UZO� O�UZO�UZO?UZ O?U?U�UZUSU�U?U?U�U� U�UZU�U� O?UZO�U�O�UZU?U�U�UZ O?U?USU�U�UZU�U? U?UZO�U?U�U?U�UZU�U?O? U?UZO?UZU?U�U?O�U?U?U�U�U?O? O?U?U�O�U�UZ O?UZU?U�O?UZU�U?U?U�O� O?UZU?U?U�U� U?U?O?U�U�UZO�U? U?U?US O�U�U�O?UZO�U�O�U? U?UZU?UZO?UZO�O?U? O?UZO�U?USU�O�U?

a�?Jika ada yang melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah putri kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.a�? (HR. at-Tirmidzi, hadits hasan, lihat Shahih at-Tirmidzi no. 1084, al-Irwa no. 1868, ash-Shahihah no. 1022)
Jangan tertipu paras cantik!
Sehingga, bisa jadi sebuah rumah tangga menjadi berantakan, kasus keluarga broken home adalah akibat dari tidak mengindahkan bimbingan Rasulullah di atas. Sejak awal membangun mahligai rumah tangga sudah salah langkah. Salah persepsi dalam memilih jodoh. Bayangannya, semata-mata paras cantik, wajah tampan, harta melimpah, atau nasab mulia adalah sebab utama kebahagian rumah tangga. Ternyata, jauh panggang dari api. Sekali lagi, kriteria yang manusiawi bukanlah hal tercela dalam agama. Yang dicela hanyalah apabila sisi agama diabaikan dan tidak dijadikan prioritas.
Bukan Bangsa, Bukan Harta!
Tapi Takwa. Maka dari itu, janganlah menilai seseorang berdasarkan kedudukan, keturunan, dan kekayaan. Yang keturunan bangsawan enggan menikah dengan yang bukan bangsawan. Kabilah yang dianggap mulia hanya mau menikah dengan yang sederajat. Ketahuilah, bahwa derajat mulia itu ada pada takwa. Siapa pun dia, berapapun hartanya, bagaimanapun fisiknya, dari mana asal maupun sukunya, takwalah yang menentukan kemuliaannya. Ingatlah firman Allah (artinya), a�?Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.a�? (QS. al-Hujurat: 13)
Jadi, ketika Anda mencari jodoh, utamakan takwa, setelahnya baru mempertimbangkan hal lain. Tidak boleh menganggap remeh urusan agama calon pendamping Anda. Lihatlah, apakah dia tekun shalat?
Apakah dia seorang yang menjaga diri dari dosa?
Apakah dia seorang yang berbakti kepada kedua orang tua?
Dan berbagai kebaikan lainnya?
Jadi, tidak masalah Anda yang bangsawan menikah dengan yang bukan bangsawan, asal saling ridha. Tidak masalah Anda yang kaya menikah dengan yang miskin. Sebab, semua itu bukan standar kemuliaan. Kemuliaan, sekali lagi, hanya ada pada takwa. Nabi pernah ditanya tentang orang yang paling mulia. Beliau menjawab, a�?Yang paling bertakwa di antara manusia.a�?
Fakta Tentang Para Ulama
Para pembaca rahimakumullah, Nabi sendiri, dari Bani Hasyim (nasab mulia), menikahi Zainab binti Jahsy dari Bani Asad bin Khuzaimah. Nabi juga menikahi Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Hafshah binti Umar, Juwairiyah binti al-Harits, Saudah binti Zama��ah, Ummu Salamah dan Aisyah, semoga Allah meridhai mereka. Mereka semua bukan dari Bani Hasyim. Bahkan, beliau juga menikahi Shafiyah binti Huyai, seorang wanita keturunan Bani Israil. Umar bin al-Khaththab menikahi Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, padahal Umar dari Bani a�?Adi sedangkan Ummu Kultsum dari Bani Hasyim. Utsman bin Affan menikahi dua putri Rasulullah, secara berurutan setelah meninggal yang lain, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Utsman dari Bani Umayyah sementara dua putri Rasulullah dari Bani Hasyim. Kenyataan ini, menikah dengan kabilah yang berbeda, banyak sekali. Semua ini menunjukkan bahwa RasulullahA� dan para sahabat adalah orang-orang yang tidak menjadikan nasab sebagai prioritas utama. Agama-lah yang menjadi patokan utama.
Bukti Lagi!
Bukti lain yang menunjukkan bahwa Nabi tidak mengutamakan harta, bangsa, adalah beliau menikahkan Usamah bin Zaid dengan Fathimah binti Qais, seorang perempuan dari suku Quraisy. Padahal, Usamah adalah seorang keturunan bekas budak dari Bani Kalb. Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabia��ah bin Abdi Syams menikahkan keponakannya dengan bekas budaknya yang bernama Salim, padahal keponakannya dari suku Quraisy, sedangkan Salim seorang mantan budak. Abu Bakr ash-Shiddiq menikahkan saudara perempuannya dengan al-Asya��ats bin Qais. Abu Bakr dari Bani Tamim (suku Quraisy), sedangkan al-Asya��ats dari Bani Kindah (al-Kindi). Abdurrahman bin Auf menikahkan saudara perempuannya dengan Bilal bin Rabah, sang muazin, padahal saudarinya dari kabilah Quraisy sedangkan Bilal dari Habasyah, Afrika.
Ini menunjukkan bolehnya pernikahan dengan selain kabilahnya jika memang agamanya baik. Demikianlah secara ringkas dan global bimbingan awal pra-nikah.
Wallahu aa��lam bish shawab.
 
Sumber: Serial Bimbingan Pernikahan/buletin-alilmu.net

READ MORE
Chat bersama kami