Seharusnya Kita Menangis

Ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada AllA?h I akan mendorong seorang hamba untuk selalu istiqA?mah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi r bersabda: a�?Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada AllA?h sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu di jalan AllA?h tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannama�?.[1]
MENGAPA HARUS MENANGIS?
Seorang Mukmin yang mengetahui keagungan AllA?h I dan hak-Nya, setiap dia melihat dirinya banyak melalaikan kewajiban dan menerjang larangan, akan khawatir dosa-dosa itu akan menyebabkan siksa AllA?h I kepadanya.
Nabi Muhammad r bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya a��beginia��, maka lalat itu terbanga�?.(HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahA�hkan oleh al-AlbA?ni -rahimahullA?h-)
Apalagi jika dia memperhatikan berbagai bencana dan musibah yang telah AllA?h I timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak merasa aman dari siksa AllA?h I.
Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat, semua itu pasti akan menggiringnya untuk takut kepada AllA?h I al-KhA?liq.
ILMU ADALAH SEBAB TANGISAN KARENA ALLA�H I
Semakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya terhadap keagungan AllA?h I.
AllA?h I berfirman yang artinya:
a�?Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak,ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada AllA?h di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama. Sesungguhnya AllA?h Maha Perkasa lagi Maha Pengampuna�?. (Qs FA?thir/35:28)
Nabi Muhammad r bersabda:
a�?Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangisa�?.
Anas bin MA?lik t a��perawi hadits ini- mengatakan, a�?Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukana�?. (HR. Muslim, no. 2359)
Imam Nawawi rahimahullA?h berkata, a�?Makna hadits ini, a�?Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangisa�?. (Syarh Muslim, no. 2359)
Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa AllA?h I dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.
Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai menangis karena takut kepada AllA?h I.
WallA?hul Mustaa��A?n.
(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII)

READ MORE
Da'wah

Kesalahan Dalam Bersedekah

da beberapa kesalahan ketika bersedekah yang bisa menjadikan amalan kita sia-sia. Apa saja kesalahan tersebut?
1.A�A� A�Bersedekah tidak ikhlas, atas riyaa�� dan suma��ah
Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, a�?Amalan seseorang yang berbuat riyaa�� (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosaa�? (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).
2.A�A� A�Bersedekah hanya untuk mendapatkan ganti di dunia
Qotadah mengatakan, a�?Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.a�? (Lihat Tafsir Al Qura��an Al a�?Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)
3.A�A� A�Mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya
Allah I berfirman,
a�?Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)a�? (QS. Al Baqarah: 264).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, a�?Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sedekah menjadi sia-sia hanya karena si pemberi mengungkit-ungkit sedekah yang telah ia beri dan ia menyakiti yang menerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan tersebut.a�?
4.A�A� A�Tidak merahasiakan sedekah
Syaikh As Saa��di rahimahullah ketika menafsirkan QS. Al Baqarah: 271 berkata, a�?Jika sedekah tersebut ditampakkan dengan tetap niatan untuk meraih wajah Allah, maka itu baik. Dan seperti itu sudah mencapai maksud bersedekah. Namun jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka itu lebih baik. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama daripada dilakukan secara terang-terangan. Namun jika tidak sampai bersedekah karena ia maksud sembunyikan, maka tetap menyampaikan sedekah tadi secara terang-terangan itu lebih baik. Jadi semuanya dilakukan dengan kembali melihat maslahat.a�?
5.A�A� A�Tidak bersedekah saat badan sehat dan merasa sayang terhadap harta
Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi r, lalu ia berkata,
a�?Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?a�? Beliau menjawab, a�?Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, a�?Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.a�? (Muttafaqun a�?alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).
6.A�A� A�Bersedekah tanpa kerelaan hati
Niat adalah tiang amal. Di antara sebab tidak diterimanya suatu amalan adalah karena mengeluarkan harta tersebut dengan berat hati. Inilah yang terdapat pada orang munafik.
Allah I telah mengabarkan bahwa Dia tidak akan menerima kecuali dari yang thoyyib (yang halal) dan dilakukan dengan kerelaan hati si pemberi. Oleh karenanya, Allah U tidak menerima sedekah dan tidak menerima amalan dari orang yang melakukan seperti itu. Allah hanyalah menerima amalan dari orang yang bertakwa, yang melakukannya dengan kerelaan hati.
7.A�A� A�Bakhil (kikir) terhadap diri sendiri
Apa yang disedekahkan oleh manusia hakekatnya adalah simpanan untuk mereka. Mereka akan mendapatkan harta itu lagi ketika mereka butuh. Jika seseorang bakhil (kikir), sejatinya mereka kikir terhadap diri mereka sendiri. Senyatanya mereka mengurangi simpanan mereka sendiri. Mereka menghalangi diri sendiri dengan menikmati harta tersebut.
8.A�A� A�Bersedekah dengan harta haram
Dari Abu Hurairah t, Nabi r bersabda, a�?Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).a�? (HR. Muslim no. 1015).
9.A�A� A�Tidak memanfaatkan kondisi, waktu dan tempat yang utama untuk bersedekah
Ada beberapa waktu, kondisi atau tempat di mana sedekah bisa berlipat ganda, seharusnya setiap orang perhatian dengannya:
a.A�A� A�Saat masa krisis, bencana dan kebutuhan hidup melilit.
Allah I berfirman,
a�?Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.a�? (QS. Al Balad: 11-14). Memberi makan pada hari a�?dzi masghobaha�?, maksudnya adalah pada masa kelaparan, ketika makanan menjadi langka, di masa semua kebutuhan terfokus pada makanan. Lihat Tafsri Ath Thobari, 15: 255.
b.A�A� A�Saat peristiwa yang menakutkan seperti saat terjadi gerhana matahari atau saat peperangan.
Dari a�?Aisyah y, Nabi r bersabda,
a�?Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdoa��alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.a�? (HR. Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 901)
c.A�A� A�Sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Dari Ibnu a�?Abbast, Rasulullah r bersabda,
a�?Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).a�? Para sahabat bertanya: a�?Tidak pula jihad di jalan Allah?a�? Nabi r menjawab: a�?Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.a�? (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu a�?Abbas t. Syaikh Al Albani rahimahumullah mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syua��aib Al Arnauth rahimahumullah mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim).
Sedekah termasuk amalan yang baik yang dilakukan di awal Dzulhijjah.
d.A�A� A�Bulan Ramadhan
Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, a�?Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir a�?subhanallaha�?) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.a�? (Lihat Lathoif Al Maa��arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 270.)
10.A�A� A�Tidak bersedekah saat kekurangan
Dalam hadits disebutkan. Dari Abu Hurairah t, Nabi r bersabda, a�?Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirhama�?. Lalu ada yang bertanya, a�?Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?a�? Beliau r jelaskan, a�?Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.a�? (HR. An Nasai no. 2527 dan Imam Ahmad rahimahumullahA� 2: 379. Syaikh Al Albani rahimahumullah mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Nyatalah di sini, sedekah dari orang miskin yang penuh kekurangan lebih utama dari sedekah orang kaya yang hartanya melimpah.
(Sumber : Rumaysho.com)

READ MORE

Belajar Memaafkan, Agar Badan Jadi Lebih Sehat

Memaafkan bukan berarti melupakan peristiwa buruk atau menyakitkan, tapi memberi kesempatan diri sendiri untuk menghapus rasa kesal dan perasaan dendam pada orang lain.Dengan demikian, rasa marah dan tekanan yang mengganggu dan mendominansi emosi kita dapat ditekan dan diredakan. Akibatnya, pikiran jadi lebih tenang dan jauh dari stres.Peneliti menemukan bahwa orang yang marah mengalami peningkatan tekanan darah jauh lebih besar dibanding orang yang mudah memaafkan. Kasus ini dibuktikan peneliti dari University of California, San Diego tahun 2012 di mana ditemukan bahwa orang-orang yang bisa melepaskan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang lain cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.
Peneliti meminta lebih dari 200 relawan untuk memikirkan saat temannya menyinggung perasaan. Setengah dari kelompok diperintahkan untuk berpikir mengapa hal tersebut bisa membuatnya marah, sedangkan yang lainnya didorong untuk memaafkan kesalahan tersebut.Sebelumnya, sebuah jurnal ilmiah Explore (Mei 2005, Vol.1, No. 3) menurunkan tulisan Worthington Jr, pakar psikologi di Virginia CommonwealthUniversity, AS. Worthington meneliti hubungan antara memaafkan dan kesehatan.
Bukti menunjukkan, sikap memaafkan mendatangkan manfaat kesehatan, baik yang memaafkan maupun yang dimaafkan. Dengan menggunakan tekonologi canggih, terungkap perbedaan pola gambar otak orang pemaaf dan yang tidak memaafkan.
Ternyata, orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah. Pada orang seperti ini, berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tak suka memberi maaf, aktivitas otaknya sama dengan orang yang sedang stres, marah, dan agresif.
Ada ketidaksamaan aktivitas hormon dalam darah si pemaaf dibandingkan darah si pendendam (si pemarah). Pola hormon dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan bersesuaian dengan pola hormon emosi negatif yang terkait dengan keadaan stres. Sikap tidak memaafkan cenderung membuat kekentalan darah lebih tinggi. Itu yang membuat dampak buruk pada kesehatan. Misalnya, pada raut wajah, dan detak jantung.
Sikap tidak memaafkan juga menyebabkan otot alis mata tegang dan daya hantar kulit lebih tinggi, demikian juga tekanan darah. Sebaliknya, sikap memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah.Sementara itu, rasa dendam justru mempengaruhi sistem kardiovaskular dan saraf. Dalam sebuah penelitian, orang yang fokus pada dendampribadi, memiliki tekanan darah dan detak jantung, dan peningkatan ketegangan otot. Hal ini ditambah dengan perasaan menjadi kurang terkendali. Namun ketika seseorang berhasil memaafkan orang yang telah menyakiti mereka, banyak dari mereka justru mengatakan merasa lebih positif dan terlihat lebih tenang dan santai.
a�?Memaafkan orang-orang yang menyakiti Anda dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik Anda,a�? demikian kutip artikel yang dimuat di Harvard Womena��s Health Watch, bulan Januari 2005.Harvard Womena��s Health Watch membahas berikut 5 dampak kesehatan yang positif dari perilaku memaafkan yang telah dipelajari secara ilmiah:
Pertama, mengurangi stress
Para peneliti menemukan bahwa perasaan dendammenempatkan tubuh Anda melalui strain yang sama sebagai peristiwa gangguan stres paling utama: Otot tegang, tekanan darah meningkat dan keringatmeningkat.
Kedua, kesehatan Jantung lebih baik
Satu studi menemukan hubungan antara seseorang memaafkan dan peningkatan tekanan darah, denyut jantung dan penurunan beban kerja untuk jantung.
Ketiga, hubungan yang lebih kuat
Studi tahun 2004 menunjukkan bahwa perempuan yang mampu memaafkan pasangan mereka dan merasa baik hati terhadap mereka bisa menyelesaikan konflik secara lebih efektif.
Keempat, mengurangi rasa sakit
Sebuah studi kecil pada orang dengan sakit punggung kronis menemukan bahwa orang-orang yang berlatih meditasi yang berfokus pada menekan kemarahan bisa mengurangi rasa nyeri.
Memiliki hati yang mampu memaafkan dapat menurunkan baik emosional dan rasa sakit pada fisik, demikian menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Duke University Medical Center.
Kelima, lebih sehat
Ketika Anda memaafkan seseorang, akan membuat diri Anda lebih bahagia. Salah satu survey menunjukan bahwa orang yang berbicara tentang memaafkan selama sesi psikoterapi mengalami peningkatan yang lebih besar disbanding mereka yang tidak.
Islam adalah agama yang telah menyiapkan perangkat pada umatnya dalam hidup, termasuk urusan marah dan dendam.
Dalam Al-Quran Allah Subhanahu Wataa��ala sering memuji orang-orang yang mampu menahan amarahnya: a�?Dan orang-orang yang menahan amarahnya.a�? (QS: Ali a��Imran: 134)
Demikian pula Rasulullah Shallallahu a�?alaihi Wassallam telah menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dirinya di saat marah dia sejatinya orang yang kuat dan mendapat jaminan surga.
a�?Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.a�? (HR. Al-Bukhari no. 6114).
Rasulullah mengatakan, a�?Sayangilah a��makhluka�� maka kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah akan mengampunimu.a�? (dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293).
Membalas dalam Islam diperbolehkan (asal adil), namun tindakan memafkan itu jauh lebih baik. a�?Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.a�? (QS: Asy-Syura [42]: 40)
Nah, Anda mau sehat? Belajarlah memaafkan mulai hari ini!

READ MORE

Angkatan Laut Pertama Ummat Islam

Nabi bermimpi mengenai pasukan Islam yang berjihad dengan mengarungi lautan, dan itu terjadi di masa Utsman bin Affan, dipimpin oleh Mu’awiyah
Suatu hari Nabi shallallahua��alaihi wa sallam beristirahat siang di rumah Ummu Haram binti Malhan. Tiba-tiba beliau terjaga sambil tertawa. Tak ayal lagi, sikap beliau ini mengejutkan Ummu Haram, sehingga beliau bertanya: a�?Wahai Rasulullah,apa yang menyebabkan engkau tertawa?a�?.
Rasulullah shallallahua��alaihi wa sallam menjawab:
a�?Aku diperlihatkan sekelompok ummatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut ( dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananyaa�?.
Mendengar penjelasan ini Ummu Haram tertarik dan segera berkata: a�?Ya Rasulullah, doakan aku agar Allah menjadikanku bagian dari pasukan tersebuta�?. Rasulullah mengabulkan permohonan Ummu Haram tersebut, dan selanjutnya beliau meneruskan istirahat siangnya.
Tidak selang berapa lama, kembali lagi beliau terjaga sambil tertawa. Sikap beliau ini kembali menarik perhatian Ummu Haram, sehingga beliau bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau tertawa?
Rasulullah shallallahua��alaihi wa sallam menjawab:
a�?Aku diperlihatkan sekelompok ummatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut ( dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananya
Kembali lagi Ummu Haram memohon agar beliau berdoa agar ia dijadikan bagian dari pasukan tersebut. Kembali lagi Rasulullah shallallahua��alaihi wa sallam mengabulkan permohonannya, dan beliau bersabda:
a�?Engkau termasuk orang pertama yang ikut serta pada pasukan tersebuta�?
Apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa sallam ini benar-benar terwujud. Pada zaman khalifah Utsman bin Affan, sahabat Mua��awiyyah radhiallahua��anhu membentuk satu kesatuan pasukan laut dan misi pertama mereka adalah menyerang negeri Qubrus (Siprus). Dan setiba di pantai Siprus, Ummu Haram terjatuh dari tunggangannya dan menjadi pejuang pertama yang gugur syahid di sana.

READ MORE
Kisah

Saa��ad bin Abu Waqqosh

Saa��ad Bin Abu Waqqosh nama lainnya adalah Saa��ad Bin Malik Az Zuhri, nasab beliau bersambung kepada Rasulullah dari Kakek Ibunda Rasulullah SAW yaitu Uhaib Bin Manaf Saa��ad masuk Islam saat berusia 17 tahun dan keislamannya termasuk yang terdahulu diantara para sahabat. Hal ini pernah diceritakannya sendiri. Ia menuturkan.a�? Aku pernah hidup suatu hari yang waktu itu aku adalah sepertiga Islam.a�? Maksudnya bahwa ia adalah salah seorang diantara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam. Pada hari-hari pertama Rasulullah SAW menjelaskan tentang Allah yang maha Esa dan tentang agama baru yang dibawanya, sebelum beliau mengambil rumah Al-Arqom untuk tempat pertemuan para sahabatnya yang telah mulai beriman, Saa��ad Bin Abu Waqqosh telah mengulurkan tangannya untuk berbaiat kepada Rasulullah SAW Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki Saa��ad ini, yang dapat ditonjolkan dan dibanggakannya. Tetapi, diantara semua itu ada dua hal penting yang selalu menjadi senandungnya. Pertama, bahwa dialah yang mula-mula melepsakan anak panah dalam membela agama Allah, dan juga prang yang mula-mula terkena anak panah. Kedua, bahwa dia merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah SAW dengan jaminan kedua orang tua beliau. Rasulullah SAW bersabda pada waktu perang Uhud, a�?panahlah, wahai Saa��ad! Ibu ayahku menjadi jaminan bagimu.a�? Kedua nikmat besar ini selalu menjadi kebanggaan Saa��ad sebagai wujud syukurnya kepada Allah. Ia menuturkan, a�?Demi Allah, akulah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah.a�? Ali Bin Abu Thalib Berkata, a�?Aku tidak pernah mendengar Rasululah SAW menyediakan ibu ayahnya sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Saa��ad. Aku mendengar beliau bersabda pada perang Uhud,a�?Panahlah, wahai Saa��ad! Ibu Ayahku menjadi jaminan bagimu.a�� Saa��ad termasuk seorang ksatria berkuda Arab dan sosok muslim yang paling berani.Ia mempunyai dua macam senjata yang sangat ampuh, yaitu panah dan doa��anya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, dapatdipastikan akan mengenai sasarannya, dan jika ia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah SWT, dia pasti mengabulkannya. Menurut Saa��ad sendiri dan para sahabatnya, hal itu adalah disebabkan doa Rasulullah juga bagi pribadinya. Suatu hari ketika Rasulullah menyaksikan sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau dari Saa��ad, beliau pun mengucapkan doa��a yang makbul ini, a�?Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doa��anya.a�? Demikianlah ia terkenal di kalangan saudara-saudara dan para sahabatnya bahwa doa��anya tidak ubahnya bagai pedang yang tajam. Hal ini juga disadari sepenuhnya oleh Saa��ad sendiri, hingga ia tidak ingin berdoa��a untuk kecelakaan seseorang , kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah taa��ala. Hal ini mengungkapkan kebeningan jiwa, kebenaran iman dan keikhlasanny yang mendalam. Demikian juga, jiwanya adalah jiwa merdeka, keyakinannya keras membaja, dan keikhlasannya tidak bernoda. Untuk menopang ketakwaannya, ia selalu memakan yang halal, dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat. Pada masa-masa akhir kehidupan Saa��ad, ia termasuk kalangan muslim yang kaya dan berharta. Waktu wafat, ia meninggalkan kekayaan yang tidak sedikit. Tetapi, kalua biasanya harta banyak dan harta halal itu jarang sekali dapat terhimpun, di tangan Saa��ad hal itu bisa terwujud. Ia dilimpahi harta yang banyak, yang baik yang halal sekaligus. Disamping itu, ia dapat dijadikan seorang mahaguru dalam soal pembersihan harta. Dan kemampuannya dalam mengumpulkan harta dari barang bersih lagi halal itu disangi oleh kemampuan menafkahkannya di jalan Allah SWT. Itulah dia a�?singa yang menyembunyikan kukunya seperti diungkapkan oleh Abdurrahman bin Auf. Itulah tokoh yang dipilih oleh umar untuk memimpin pertempuran Qadisiyah yang dahsyat itu mengapa umar memilihnya melaksanakan tugas yang paling rumit yang sedang dihadapi islam dan kaum muslimin? Jawabannya, karena keistimewaannya terpampang jelas di hadapan amirul mukminin, sebab ia adalah: Orang yang doa��anya terkabul. Jika ia memohon agar diberi kemenangan oleh Allah, pastilah akan dikabulkan-Nya. Ia seorang yang sangat hati-hati dalam persoalan makan, terpelihara lisan dan suci hatinya. Salah seorang anggota pasukan berkuda di perang badar, perang Uhud dan di setiap perjuangan bersenjata yang dikutinya bersama Rasulullah SAW Satu lagi yang tidak dapat dilupakan oleh Umar, suatu keistimewaan yang tidak dapat diabaikan harga, nilai dan kepentingannya, serta harus dimiliki oleh orang yang hendak melakukan tugas penting yatu kekuatan dan ketebalan iman. Pada tahun 54 H, yakni ketika usia Saa��ad telah lebih dari 80 tahun, ia sedang berada di rumahnya di Aqiq untuk menghadapi detik-detik akhir untuk kembali kepada Allah taa��ala. Putranya menangis ketika Ia hendak meninggal, maka Saa��ad berkata: mengapa kamu menangis, wahai anakku? Sungguh, Allah tidak akan menyiksaku selamanya dan aku termasuk salah seorang penduduk surga.a�? Selamat jalan wahai Saa��ad. Selamat jalan, wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Madain, dan pemadam api sesembahan di Persia untuk selama-lamanya.

READ MORE

ISLAM DI NEGERI TIRAI BAMBU

a�?Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina” begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.

 
Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban (kesehatan), kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.
Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom’ – julukan Cina.
Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar’ dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.
Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.
Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan. Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.
Islam=Yisilan Jiao
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran ‘Buddha Ma-hia-wu’ (Nabi Muhammad SAW). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina.
Salah satu versi menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M – 618 M).
Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.
Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.
Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.
Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho – seorang pelaut Muslim andal.
Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri. Muslim di Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk.
Kondisi umat Islam di Cina makin memburuk ketika terjadi Revolusi Budaya. Pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada Muslim pada 1978. Kini Islam kembali menggeliat di Cina. Hal itu ditandai dengan banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antaretnis di Cina.

READ MORE
Ekonomi

INSTRUMENT EKONOMI SELAIN ZAKAT

Zakat adalah sebuah kewajiban yang mengikat pada sebuah objek, yaitu kepemilikan harta. Mulai dari harta yang bersifat produktif (perdagangan), harta hasil dari pemanfaatan alam (tambang, pertanian, perkebunan), harta simpanan (emas, perak), maupun harta dadakan (barang temuan) dikenakan zakat. Sebagai sebuah kewajiban, zakat tentu mempunyai batas-batas yang menjadikannya wajib yaitu nishob dan haul.
Sebagai sebuah kewajiban zakat mempunyai nilai a�?punish and rewarda�� yang lebih berbobot dari pada sebuah anjuran biasa. Harta yang belum mencapai nishob dan haul belumlah dikatakan wajib zakat, namun jika harta sudah mencapai batas kewajiban zakat dan tidak ditunaikan maka hukum Allah sangat luar biasa. (QS. 9:75-77, 92:5-10, 9:34, 9:35, 3:180)
Dengan adanya batasan nishob, haul dan syarat-syarat lainnya membuat kewajiban zakat tidak menjadi beban bagi pemilik harta, karena secara otomatis zakat dikenakan hanya untuk kelebihan harta diluar kebutuhan pokok. Dengan demikian tidak semua orang akan terkena kewajiban zakat.
Sejatinya menjadi sebuah keuntungan bagi kita ketika harta yang kita miliki terkena kewajiban zakat, artinya kita telah melewati batasan nishob yang tidak kecil jumlahnya (termasuk golongan aghniya) dan kita lebih beruntung daripada orang lain, yaitu diberi kesempatan melaksanakan suatu kewajiban. Dimana, dimensi kewajiban itu juga membawa dampak sosial yang tidak kecil.
Lalu, bagaimana dengan orang yang hartanya belum wajib zakat? Dalam Islam, membantu orang lain tidak perlu menunggu kaya atau cukup. Karena disediakan kesempatan terbuka untuk orang pada kondisi apapun, melaksanakan amaliyah kebajikan. Jadi, undangan untuk meringankan beban bagi mereka yang membutuhkan, bukan saja datang pada saat kita cukup atau berlebih. Juga, pada saat kita sempit (QS. 3:134). Dalam beberapa penjelasan bahkan disebutkan bahwa mereka yang mampu berkorban untuk kemaslahatan dalam keadaan sempit mendapatkan apresiasi lebih dari Allah.
Dalam ukuran angka, potensi zakat banyak sekali diprediksi oleh pengamat ekonomi Islam karena adanya parameter yang membatasinya. Namun potensi instrument ekonomi Islam lainnya infaq dan shodaqoh tidak terdeteksi karena sifatnya yang sukarela. Padahal berdasarkan catatan lembaga-lembaga amil zakat nilai pengumpulan donasi diluar zakat ini jauh lebih besar. Perbandingannya bisa maencapai 30% : 70%.
Dengan nilai yang lebih besar tentunya donasi diluar zakat ini memiliki kemampuan untuk memberdayakan yang tidak kecil pula. Dengan demikian infaq yang ditunaikan meskipun kecil, telah dapat menolong saudara kita yang lemah.
Jika zakat pengumpulannya menggunakan sebuah instruksi yang bersifat a�?memaksaa�� (karena wajib), maka infaq shodaqoh lebih mengandalkan kerelaan hati pemilik harta untuk menunaikannya, meskipun sebelumya seseorang telah mengeluarkan zakat. Jadi bagi anda yang belum terkena kewajiban zakat, jangan khawatir. Karena anda masih bisa berinfaq shodaqoh dan nilai perubahannya bisa sepadan dengan zakat jika dikelola oleh lembaga yang profesional. Saatnya infaq shodaqoh anda lebih berdaya. (uqi)
Dalam kotak
Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) berkata kepda Abu Bakar: “Aku melihat engkau memerdekakan hamba-hamba yang lemah. Sekiranya engkau memerdekakan hamba-hamba yang kuat, pasti mereka akan membelamu dan mempertahankanmu, hai anakku.” Abu Bakar menjawab: “Wahai Bapakku, aku mengharap apa yang ada di sisi Allah.” Maka turunlah ayat-ayat yang berkenaan dengan Abu Bakar ini (S.92:5-21)
(Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Amir bin Abdillah bin Zubair yang bersumber dari bapaknya bernama Zubair.)

READ MORE

Islam Dan Kebebasan

Banyak manusia yang hidup di dunia ini menginginkan kehidupan yang bebas dan tidak terkekang dengan berbagai aturan. Sampai-sampai karena kuatnya keinginan ini mereka tidak lagi mengindahkan norma-norma agama, sebab mereka menganggap agama sebagai belenggu semata.
Meskipun faktanya, kebebasan yang tanpa batas mustahil terwujud di dunia ini. Karena perbuatan yang dilakukan oleh manusia sering dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu, sehingga ketika seseorang meninggalkan norma-norma agama otomatis dia akan terjerumus mengikuti aturan hawa nafsunya yang dikendalikan oleh setan, dan ini merupakan sumber malapetaka terbesar bagi dirinya. Karena hawa nafsu manusia selalu menggiring kepada keburukan dan kerusakan, sebagaimana firman Allah Taa��ala: a�?Sesungguhnya nafsu (manusia) itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbkua�? (QS Yuusuf:53). Juga firman-Nya: a�?Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)nya, dan (semua) urusannya menjadi rusak/buruka�? (QS al-Kahfi:28).
Arti Kebebasan yang Hakiki
Berdasarkan keterangan di atas, maka kebebasan hakiki yang mendatangkan kebahagiaan dan kesenangan hidup bagi manusia tidak mungkin dicapai dengan meninggalkan norma-norma agama, bahkan sebaliknya ini merupakan kesempitan hidup dan belenggu yang sebenarnya, sebagaimana yang terungkap dalam firman-Nya: a�?Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia (akan merasakan) kehidupan yang sempit (di dunia), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan butaa�? (QS Thaaha:124).
Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, a�?Makna ayat ini: Sesungguhnya Allah Taa��ala menjadikan (memberikan balasan) bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya dan berkomitmen dengan agama-Nya dengan kehidupan yang (penuh) kenikmatan di dunia, tanpa ada kesedihan, kegundahan dan kesusahan (dalam) dirinyaa��Dan Dia menjadikan (memberikan balasan) bagi orang yang enggan mengikuti petunjuk-Nya dan berpaling dari agama-Nya dengan kehidupan yang sempit serta (penuh dengan) kepayahan dan penderitaan (di dunia). Bersamaan dengan semua penderitaan yang menimpanya di dunia, di akhirat (kelak) dia akan (merasakan) penderitaan, kepayahan dan kesempitan hidup yang lebih berat lagia�?.
Sebaliknya, Allah Taa��ala menegaskan bahwa kebahagiaan hidup yang hakiki hanyalah akan dirasakan oleh orang yang berkomitmen dengan agama-Nya dan tunduk kepada hukum-hukum syariat-Nya. Allah Taa��ala berfirman: a�?Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakana�? (QS. an-Nahl:97).
Para ulama salaf menafsirkan makna a�?kehidupan yang baik (di dunia)a�? dalam ayat di atas dengan a�?kebahagiaan (hidup)a�? atau a�?rezki yang halal dan baika�? dan kebaikan-kebaikan lainnya yang mencakup semua kesenangan hidup yang hakiki.
Sebagaimana Allah Taa��ala menjadikan kelapangan dada dan ketenangan jiwa dalam menerima syariat Islam merupakan ciri orang yang mendapat petunjuk dari-Nya, dan kesempitan serta terbelenggunya jiwa merupakan pertanda orang yang tersesat dari jalan-Nya. Allah Taa��ala berfirman: a�?Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan keburukan/siksa kepada orang-orang yang tidak berimana�? (QS al-Ana��aam:125).
Maka melepaskan diri dari aturan-aturan agama Islam dengan dalih kebebasan berarti justru menjebloskan diri kedalam penjara hawa nafsu dan belenggu setan yang akan mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan berkepanjangan di dunia dan akhirat.
Tauhid Membebaskan Manusia dari Penghambaan Diri kepada Makhluk
Landasan utama Islam, tauhid, yang berarti pemurnian ibadah dan penghambaan diri kepada Allah Taa��ala semata dan berpaling dari penghambaan diri kepada selain-Nya, adalah bukti terbesar yang menunjukkan adanya kebebasan yang hakiki dalam Islam.
Setiap manusia terlahir dengan kecenderungan untuk menghambakan diri dan tunduk kepada sesuatu, maka jika kecenderungan ini tidak diarahkan kepada penghambaaan diri yang benar, yaitu kepada Allah Taa��ala, maka dengan sendirinya setanlah yang akan menggiringnya menjadi hamba bagi hawa nafsunya. Allah Taa��ala berfirman: a�?Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya dan Allah menjadikannya tersesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajarana�? (QS al-Jaatsiyah:23).
Makna ayat ini: pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan agamanya (apa yang sesuai) dengan hawa nafsunya, sehingga tidaklah dia menyukai sesuatu (menurut hawa nafsunya) kecuali dia akan mengikutinya. Karena dia tidak beriman kepada Allah, tidak mengharamkan apa yang diharamkan-Nya dan tidak menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya. (Cara) beragamanya adalah apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya maka itulah yang dikerjakannya
Semoga kaum muslimin dapat memegang teguh dan mengamalkan ajaran Islam untuk kemaslahatan hidup manusia dan dijauhkan dari bahaya nafsu buruk yang akan menjerumuskan ke dalam lembah kesengsaraan dan penderitaan berkepanjangan di dunia dan akhirat.

READ MORE
Mencintai Orang MiskinDa'wah

KEUTAMAAN MENCINTAI ORANG MISKIN ….

Ikhwan dan akhwat yang senantiasa berbahagia diatas hidayah dan rahmat Allah, diantara akhlak yang mulia yang diajarkan oleh nabi kita yang mulia, ialah mencintai orang miskin serta mendekat kepadanya…karena dengan mendekat kepadanya serta mencintainya memiliki fawaidh yang sangat besar…
Berikut kami turunkan bbrp hadits rasulullah dibawah ini…
O?UZU�U� O?UZO?U?USU� O�UZO�U?U� O�UZO�U?USUZ O�U�U�UZU�U�U? O?UZU�U�U�U? U�UZO�U�UZ: O?UZU?U�O�UZO�U�U?USU� O�UZU�U?USU�U�U?US O�UZU�UZU�U� O�U�U�UZU�U�U? O?UZU�UZUSU�U�U? U?UZO?UZU�UZU�U�UZ O?U?O?UZO?U�O?U? : O?U?O�U?O?U?U� O�U�U�U�UZO?UZO�U?U?USU�U�U? U?UZO?UZU�U� O?UZO?U�U�U?U?UZ U�U?U�U�U�U?U�U�….
Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: a�?Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu a�?alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka…
Hadits ini shahA�h.
Lihat dalam silsilah al-AhA?dA�ts shahA�hah (no. 2166).
Fawaidh dari hadits yang mulia ini
Mencintai Orang-Orang Miskin Dan Dekat Dengan Mereka.
Begitulah wasiat Rasulullah kepada sahabat Abu Dzar ini, pada hakikatnya adalah wasiat untuk ummat Islam secara umum.
Perhatikan wahai saudara-saudariku….
Nabi Shallallahu a�?alaihi wa sallam berwasiat kepada Abu Dzar agar mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Tentunya kita sebagai ummatnya Rasulullah hendaknya menyadari bahwa nasihat Beliau Shallallahu a�?alaihi wa sallam ini tertuju juga kepada kita semua.
Siapakah yang dimaksud orang miskin disini??
Orang-orang miskin yang dimaksud, adalah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan, tidak punya kepawaian dalam mencukupi kebutuhan pokoknya dan mereka tidak mau meminta-minta kepada manusia.
Dalam riwayat yang lain…
Ketika Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam berkumpul bersama orang-orang miskin, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak berbicara dengan Beliau Shallallahu a�?alaihi wa sallam , tetapi mereka enggan duduk bersama dengan orang-orang miskin itu, lalu mereka menyuruh beliau agar mengusir orang-orang fakir dan miskin yang berada bersama beliau. Maka masuklah dalam hati beliau keinginan untuk mengusir mereka, dan ini terjadi dengan kehendak Allah Taa��ala. Lalu turunlah ayat:
U?UZU�UZO� O?UZO�U�O�U?O?U? O�U�UZU�O�U?USU�UZ USUZO?U�O?U?U?U�UZ O�UZO?UZU�U�U?U�U� O?U?O�U�U�O?UZO?UZO�O�U? U?UZO�U�U�O?UZO?U?USU?U� USU?O�U?USO?U?U?U�UZ U?UZO�U�U�UZU�U?
Janganlah engkau mengusir orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan wajah-Nya. [al-Ana��A?m/6:52]
Silsilah shahihah: 3297
Kemudian terkahir diantara doa Rasulullah ialah berdoa��a agar mencintai orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda:
O�UZU�U�UZU�U�U?U�UZU� O?U?U�U?U�USU� O?UZO?U�O?UZU�U?U?UZ U?U?O?U�U�UZ O�U�U�O�UZUSU�O�UZO�O?U?O? U?UZO?UZO�U�U?UZ O�U�U�U�U?U�U�U?UZO�UZO�O?U?O? U?UZO�U?O?UZU� O�U�U�U�UZO?UZO�U?U?USU�U�U?O? U?UZO?UZU�U� O?UZO?U�U?U?O�UZ U�U?USU� U?UZO?UZO�U�O�UZU�UZU�U?USU�O? U?UZO?U?O�UZUZO� O?UZO�UZO?U�O?UZ U?U?O?U�U�UZO�UZ U�UZU?U�U�U? U?UZO?UZU?UZU?UZU�U�U?USU� O?UZUZUSU�O�UZ U�UZU?U�O?U?U?U�U�U?O? U?UZO?UZO?U�O?UZU�U?U?UZ O�U?O?UZU�U?UZO? U?UZO�U?O?UZU� U�UZU�U� USU?O�U?O?U?U�U?UZO? U?UZO�U?O?UZU� O?UZU�UZU�U? USU?U�UZO�U?U�O?U?U�U?USU� O?U?U�UZU� O�U?O?U?U�U?UZ.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu.
Shahih jamius shaghir: 59
Dan masih banyak lagi bbrp hadits Rasullullah akan pembahasan masalah ini….
Untuk itu perhatikanlah mereka, ajarkan ilmu yang bermanfaat untuknya, terutama dari perkara perkara yang wajib dia ketahui…
Mudahkan mereka dalam meraih ilmu yang menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupannya…
Dan jangan pula dikhususkan dakwah kepada orang-orang kaya saja tanpa memberikan kemudahan bagi orang miskin dalam mendapatkannya….
INGAT!
Diantara kejayaan ummat ini juga, mungkin disebabkan dari doa doa mereka serta keikhlasan mereka dalam beribadah….
Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda:
Beliau Shallallahu a�?alaihi wa sallam juga bersabda:
O?U?U�UZU�U�UZO� USUZU�U�O�U?O�U? O�U�U�U�U? U�UZO�UZU�U? O�U�U�O?U?U�UZU�O�UZ O?U?O�UZO?U?USU�U?U?U�UZO�: O?U?O?UZO?U�U?UZO?U?U�U?U�U�O? U?UZO�UZU�O�UZO?U?U�U?U�U�O? U?UZO?U?O�U�U�O�UZO�U?U�U?U�U�.
Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.
Shahih targhib wa tarhib: 6
Untuk itu wahai saudaraku rangkullah mereka ajaklah dan ajarkan mereka kebaikan didalam agama ini….dan janganlah engkau membedakan membedakan mereka dalam menyampaikan ilmu…
Semoga bermanfaat!

READ MORE

Mungkin, Tangan Kita Yang Mengotori Jiwanya

Suatu hari, di sebuah pertemuan orangtua dan salah seorang pakar pendidikan diA� Indonesia yang ketika itu menjadi pembicara, terjadi percakapan berikut:
Seorang Ibu: a�?Pak, saya mau bertanya. Anak saya usianya 14 tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi penari. Saya perhatikan semakin ke sini dia semakin serius dengan cita-citanya itu. Saya jadi bingung dan gelisah, Pak. Saya harus bagaimana mengarahkannya?a�?
Pakar Pendidikan: a�?Memang kenapa kalau dia ingin jadi penari? Khawatir tidak sukses? Waduh, Bu. Ibu ketinggalan zaman. Lihat sendiri sekarang ini penari sudah banyak yang sukses. Lagipula ibu mau arahkan ke mana anak Ibu? Apakah menurut Ibu dia akan lebih bahagia dan sukses bila dia menjalani arahan yang Ibu inginkan? Jadi mana yang lebih penting, anak Ibu menjalankan keinginan Ibu atau dia menjalankan keinginannya sendiri dan bahagia menjalaninya?a�?
Sang Ibu pun manggut-manggut mencoba menerima masukan dari Sang pakar pendidikan. Namun entah kenapa, hatinya tetap gelisah.
 

*********************

 
Pada tulisan kali ini, kita akan mengkritisi dua hal dari percakapan di atas.

  1. Definisi sukses
  2. Ke-tidak konsisten-an orang tua

 

  1. Definisi Sukses

Apakah sukses itu? Karena kita muslim, maka hal pertama yang kita lakukan adalah mencari definisi sukses menurut Al Quran.
a�?Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.a�? (QS Ali Imron: 185).
Dari ayat di atas kita belajar: sukses bukan lah sekadar kekayaan dunia, ketinggian karir, kemurnian darah bangsawan, dan kepopularan seseorang di dunia yang singkat ini. Sukses adalah ketika dia dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Maka jelaslah, seharusnya seorang muslim berpegang erat pada definisi sukses yang hakiki ini. Jangan berpuas hati hanya pada kesuksesan yang fana.
a�?Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.a�? (QS Asy Syuuro: 20)
 

  1. Ke-tidak konsisten-an Orangtua

 
Bila orangtua gelisah ketika anaknya menghabiskan waktunya bermain game dengan gadget atau PSP dan lainnya, kenapa dibelikan semua fasilitas itu?
Bila orangtua gelisah ketika anaknya besar ingin menjadi penari, kenapa sedari kecil justru didorong dan difasilitasi dengan diikutkan kegiatan menari?
Bila orangtua gelisah ketika anaknya besar ingin menjadi musisi, kenapa sedari kecil justru dipaksa untuk les musik?
Bila orangtua gelisah ketika anaknya yang baligh tak mau menutup aurat, kenapa sedari kecil dipakaikan kepadanya rok mini dan baju tanpa lengan itu?
Bila orangtua gelisah ketika anaknya hamil di luar nikah atau menghamili, kenapa tak dilarang ketika anaknya berkhalwat?
Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu a�?alaihi wasallam telah bersabda: a�?Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusia�?
Allah Yang Maha Adil membentangkan dua pilihan bagi jalan manusia, a�? Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinyaa�? (QS Asy Syams: 9-10)
Ayah, Bunda yang dirahmati Allaha��
Maka apakah dari tangan-tangan kitalah justru anak-anak kita terkotori jiwanya?
Tinggalkanlah kegiatan-kegiatan yang tak akan membawanya ke surga, tempat semua puncak cita, kemenangan dan kesuksesan yang hakiki.
Mari kita buat resolusi baru:
a�?Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuia�? . (QS. Ar Ruum: 30)
Ya Allah bimbinglah kamia��
(Poppy Yuditya: Penulis Kolom Catatan Hati Ibu;Parenting nabawiyah)

READ MORE
Chat bersama kami